Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo

Sang Balerina Cilik Putri Tuan Aldo
Part 11: Lina mengiba


__ADS_3

Raisa mencari ruangan CEO yang berada di lantai 17. Karena di sana belum ada pegawai yang datang, maka dia mencari sendiri ruangan CEO.


Tangannya menunjuk ke pintu lift, menekan angka 17. Pintu lift terbuka, terlihat lorong panjang tanpa sekat dan terlihat dari jauh pintu bertuliskan huruf CEO.


" Itu pasti ruang CEO. " Gumam Raisa seraya menunjukkan jari telunjuk ke arah depan nya.


Raisa melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri lorong yang masih gelap. Karena belum ada satu orang pun yang datang kecuali dirinya yang berada di ruangan tersebut.


Dengan serbet di pundaknya dan vacum cleaner ditangan dia bersiap untuk membuka pintu.


Ruangan yang cukup megah dan mewah, sungguh desain yang artistik. Dengan perpaduan warna putih dan hitam menandakan bahwa CEO mereka adalah laki-laki.


Raisa memulai pekerjaannya, pertama-tama dia akan membersihkan meja yang terletak bingkai foto dia atasnya.


" Oh ternyata pimpinan di sini sudah tua. UPS.." Raisa bergumam melihat foto yang terletak di atas meja.


Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya, membersihkan sofa dengan vacum cleaner.


Waktu yang di berikan oleh Feri untuk membersihkan ruangan CEO adalah lima belas menit. Karena biasanya CEO datang lebih awal dan tanpa di duga.


Yang namanya pimpinan suka-suka mereka mau datang jam berapa.


Selesai membersihkan ruangan CEO, Raisa membereskan alat tempur nya. Meletakkan serbet di pundaknya dan membawa vacum cleaner di tangan nya.


Saat akan membuka pintu, ternyata benar CEO yang berada di bingkai foto itu ada di hadapannya.


" Selamat pagi Tuan." Kata Raisa yang menundukkan kepalanya, dia tak melihat jelas wajah CEO. Namun CEO itu tidak datang sendiri, ada seseorang yang berada di belakangnya. Tetapi Raisa tidak melihatnya karena wajah yang menunduk.


Raisa berjalan keluar ruangan CEO tanpa melihat wajah mereka.


Pintu pun tertutup, Raisa menghembuskan nafasnya berat. Karena dia merasa gugup saat bertemu dengan CEO.


" Sa, " panggil seseorang saat Raisa akan pergi meninggalkan ruangan CEO.


Raisa seperti mengenal suara yang memanggil nya, lalu dia langsung menoleh.


" Kamu.." ucapnya yang menyipitkan kedua mata nya.


" Aldo, namaku Aldo. Susah sekali kau mengingat namaku." gerutu Aldo yang menghampiri Raisa.


" Sedang apa kamu berada di depan ruangan CEO? " tanya Raisa yang menatap curiga Aldo.


" Aku... aku sedang melamar pekerjaan." jawab Aldo sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Langsung ke ruangan CEO?" curiga Raisa.

__ADS_1


" Iya, memang kenapa gak boleh?" tanya Aldo sambil mengangkat satu alisnya.


" Iya enggak apa-apa sih. Memang kamu mau kerja apa? Kan baru lulus SMA? " tanya Raisa menyelidik.


" Office boy." jawab Aldo sambil berpikir.


" Oh, ya sudah aku kembali ke tempat ku ya." Ucap Raisa yang langsung melambaikan tangan.


Aldo menatap kepergian Raisa dengan senyum bahagia. Alasan bekerja sebagai office boy adalah tepat baginya. Agar tidak membuat Raisa curiga kalau dia adalah penerus dari perusahaan kakeknya Wisnutama Corp.


Aldo sedang berkunjung untuk melihat ruang kerjanya. Karena sehabis kuliah, dia langsung bekerja dan mempraktekkan ilmu yang dia dapat.


" Aldo." panggil Wisnu yang merupakan CEO perusahaan Wisnutama Corp.


" Iya kek, " jawab Aldo lalu menghampiri Wisnu masuk ke dalam kantor.


" Kau berbicara dengan siapa?" tanya Wisnu.


" Oh tadi adalah gadis yang aku suka kek." jawab Aldo.


" Petugas kebersihan yang tadi?" tanya Kakek.


" Iya, tapi sayang dia sudah menikah." jawab Aldo sambil menundukkan kepalanya.


" Memangnya tidak ada wanita lain?" tanya Wisnu meledek.


****


Raisa sudah berada di pantry, dia membuatkan teh hangat untuk dirinya. Karena merasa sangat lelah dan haus, sebab dia harus mengepel lantai 16 setelah membersihkan ruangan CEO.


" Hmmm, wangi teh melati." kata Dani yang berdiri di depan pintu.


" Eh kamu Dan, mau aku buatin?" tanya Raisa yang menawarkan Dani untuk dibuatkan teh.


" Boleh, seperti nya teh buatanmu akan terasa enak." goda Dani.


Raisa memanyunkan bibirnya, " Jangan membuatku geer ya Dan. Nanti aku salah masukin garam." ujar Raisa.


" Kamu masukin racun juga enggak apa-apa." celetuk Feri yang berada di belakang Dani.


" Eh bapak, bisa mati dong saya." kata Dani seraya memanyunkan bibirnya.


" Ish, " Dani mendengus kesal karena acara mendekati Raisa telah di ganggu oleh Feri sang atasan nya.


Lalu Dani pergi meninggalkan Feri dan Raisa yang berada di pantry.

__ADS_1


" Dan, kamu gak jadi minum tehnya?" teriak Raisa.


" Untuk pak Feri saja, jangan lupa kasih sianida." sahut Dani yang langsung berlari.


" Ish anak itu..." geram Feri melihat kepergian Dani. Namun saat melihat Raisa, dia kembali tersenyum.


" Bapak mau teh juga?" tanya Raisa.


" Aku kopi susu aja ya." pinta Feri, " Antarkan ke ruangan ku." ucapnya lalu pergi meninggalkan Raisa.


Raisa mengambil stok kopi susu yang berada di kitchen set.


Lalu memasak sedikit air untuk membuat kopi susu.


" Sa, kok masak air? Kan ada dispenser." kata Lina yang tiba-tiba datang dan berdiri di sebelah Raisa.


" Kopi atau teh itu lebih nikmat minumnya dengan air yang di masak pasti enak." jawab Raisa yang sedang menunggu air yang akan mendidih.


" Oh, ya sudah. Sebentar lagi jam istirahat, kamu mau makan dimana?" tanya Lina yang melihat jam di pergelangan tangan nya.


" Aku masak mie instan aja Lin, mau berhemat karena tarikan Faisal sedang sepi. " kata Raisa.


" Oh, apakah mertuamu sayang padamu Sa?" tanya Lina penasaran.


" Aku harus cerita apa ya ke sahabat ku?" Raisa berpikir jika dia menceritakan keburukan keluarga suaminya, maka dia akan membuka aib.


Lina bertanya hal itu karena dia punya alasan tersendiri. Kabar yang di dengar adalah kalau Raisa di ceritakan buruk oleh kakaknya Faisal yang bernama Maria. Saat pengajian ibu-ibu, Raisa menjadi topik perbincangan untuk Maria.


Tetapi Raisa tidak mengetahui nya, Lina di beritahu oleh ibunya kemarin saat Lina sudah pulang kerja.


" Mereka... baik." jawab Raisa ragu sambil berpikir.


" Sepertinya jawaban mu sangat meragukan." curiga Lina pada jawaban Raisa.


Dia sangat tahu kalau Raisa sangat tertekan hidup bersama keluarga suami.


" Sok tahu kamu, udah ah gak usah bahas hal itu." ucap Raisa mengalihkan pembicaraan nya.


" Ya sudah, antarkan kopinya sana. Nanti keburu dingin." kata Lina .


Dan Raisa membawa secangkir kopi susu untuk Feri.


Lina menatap iba melihat kepergian Raisa, sungguh amat menyesal dia mengenali Faisal pada Raisa.


Maria menjelekkan Raisa pada ibu-ibu satu pengajian nya. Dan hal itu di dengar oleh ibunya Lina, yang sangat mengenal Raisa. Karena Raisa adalah sahabat Lina sejak SMA.

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan vote ya guys


__ADS_2