
══ ✥.❖.✥🌟Kalam Habaib 🌟✥.❖.✥ ══
"jangan bercita-cita agar menjadi lebih mulia dari orang lain, tapi bercita-citalah agar engkau menjadi lebih mulia dibanding masa lalu mu"
[ Al habib Umar bin Hafidz ]
❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ❤
✥.❖.✥ ══✥.❖.✥ ═🌟═✥.❖.✥ ══✥.❖.✥
Mendengar keputusan Hendrawan, Azkha terlihat tak terima. Menurutnya Hendrawan pilih kasih, membuat ia jadi kesal.
"Mengapa Papa tidak adil sih? Hanya karena Azkha menikah dengan Hanna, masa Papa langsung mencoret nama Azkha, sih Pah?" tanyanya dengan nada suara terdengar mengeras karena ketidak terimaannya.
"Kenapa kamu masih bertanya lagi hah? Seharusnya kamu tahu tanpa Papa beritahu, apa penyebab Papa mengambil keputusan itu Azkha!" hardik Hendrawan jadi terlihat kesal juga karena nada bicaranya Azkha terkesan melawan padanya.
"Baiklah kalau begitu Azkha akan terima! Dan sebaiknya Azkha pergi saja karena sepertinya rumah ini sudah tak menerima diriku!" seru Azkha yang kemudian ia langsung bangkit dari duduknya dan langsung melangkah menuju pintu.
"Rumah ini akan menerimamu kembali, bila kamu mau meninggalkan wanita itu Azkha!" balas Hendrawan, sebelum Azkha benar-benar keluar dari rumahnya.
Mendengar perkataan Sang Papa, Azkha menghentikan langkahnya sejenak seraya ia berkata, "Tapi itu kayaknya tidak mungkin Pah, karena aku sangat mencintainya!" katanya tanpa menoleh sedikitpun pada Hendrawan maupun yang lainnya. Lalu ia pun melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu rumah mereka.
"Hah! Anak itu memang keras kepala, bila sudah keinginannya sulit sekali untuk di tentang," gerutu Hendrawan setelah kepergian Azkha.
"Sudahlah Pah biarkan saja anak itu, kepala Mama sakit banget nih" keluh Raniah.
"Ya sudah Mama sebaiknya istirahat gih, Azam sama Naisha tetap pulang deh, soalnya kepala Azam pusing Mah" sela Azzam sembari ia menyerahkan baby boy pada Naisha.
"Ya sudah pulang Nak, tenangkan dirimu juga," timpal Hendrawan yang kini terlihat sudah tenang.
"Iya Pah, ya sudah Azam sama Naisha pulang ya Pah, Mah, Assalamu'alaikum" pamit Azzam sembari merangkul pundak Naisha.
"Iya Nak, Hati-hati Wa'alaikumus salam"
Setelah mendapatkan jawaban dari kedua orang tuanya Azzam dan Naisha pun langsung beranjak pergi meninggalkan Hendrawan dan Raniah.
__ADS_1
********
Sementara disisi lain.
Azkha yang tadi keluar langsung menggandeng tangan Hanna yang tadi sempat duduk di depan teras rumahnya. Lalu tanpa berkata apapun ia langsung membawanya kemobil miliknya. Di dalam perjalanan mereka terlihat Hanna begitu penasaran karena sejak masuk ke mobil Azkha hanya diam saja.
"Apakah kamu akan diam saja Azkha?" tanyanya terlihat wajahnya tidak senang melihat kediamannya Azkha.
"Tidak bisakah kamu tidak menyebut nama padaku Hanna? Aku tidak suka mendengarnya!" cetus Azkha dengan tatapan terfokus kedepan, karena ia sedang menyetir.
"Kenapa? Bukankah sejak awal kita bertemu sudah seperti itu, lagian umur kamu masih di bawah aku Azkha" balas Hanna berkata apa adanya.
Yaa umur Hanna sebaya dengan Azzam, sedangkan Azkha dan Azzam berjarak berjarak empat tahun. Maka dari itu Hanna selalu memanggil Azkha hanya sebutan namanya saja. Karena ia merasa lebih tua dari Azkha.
"Tapi akukan akan menjadi suami kamu Hanna." ungkap Azkha sambil melihat wajah Hanna dengan singkat lalu ia kembali fokus menyetir.
"Apakah orang tua kamu sudah merestui kita Azkha?" tanya Hanna terlihat penasaran.
"Tanpa restu mereka aku tetap akan menikahi kamu Hanna" balas Azkha yang masih fokus menatap kedepan.
Mendengar perkataan Hanna yang mengatakan dirinya Bodoh. Azkha langsung memijak pedal remnya dan seketika Mobil pun berhenti.
"Apa kamu bilang hah? Aku bodoh? Berani sekali kamu mengatakan aku bodoh hah?!" bentak Azkha yang memang ia masih kesal pada keluarganya. Jadi bertambah kesal mendengar perkataan Hanna.
"Kalau kamu tidak mau di katakan bodoh seharusnya kamu tahu dong. Kalau menikah tanpa restu orang tua kita tidak akan bahagia apa kamu tahu itu Azkha?" balas Hanna dengan suara keras juga. "Jadi ku tanya sekali lagi apakah Papa dan Mama kamu merestui kita Azkha?" tanyanya lagi yang terlihat masih penasaran.
"Tidak! Bahkan mereka mencoret nama aku dari kartu keluarga dan mencoret dari hak waris mereka" ungkap Azkha dengan wajah yang terlihat sedih.
"Apa?!" sentak Hanna kaget, "Huh! Kalau sudah seperti itu kita tidak akan pernah bahagia!" cetus Hanna dengan wajah terlihat kesal.
"Kata siapa kita tidak akan bahagia Hanna? Selagi kita masih saling mencintai dan saling mendukung sudah pasti kita akan bahagia Hanna," tutur Azkha dengan lembut, sembari ia menyentuh pipinya Hanna
Hanna menepis tangan Azkha, seraya berkata "Bulshit dengan cinta! Apa kamu tahu? Aku jijik mendengar kata cinta!" cetusnya.
Azkha tersentak kaget mendengar perkataan Hanna, "Jadi kamu...?"
__ADS_1
"Iya Azkha! Aku tak pernah mencintai kamu!" potong Hanna, "kamu tahu? Aku mendekatimu, itu karena kamu adalah salah satu pewaris Azram grup. Karena aku tak bisa mendapatkan Azzam Abang kamu. Maka pilihan terakhirku adalah kamu! Tapi siapa sangka kalau ternyata orang tua kamu malah mencoret nama kamu dari hak waris, jadi untuk apa aku mendekati kamu lagi itu hanya buang waktuku saja kamu paham Azkha."
Mendengar perkataan Hanna, Azkha pun langsung tersenyum sinis, "Heh.. Akhirnya topeng kamu terbuka juga ya j*lang! Ternyata keluargaku benar kalau kamu itu perempuan yang kejam! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sebenarnya hanya ingin membalas dendam pada keluargaku hah?!" ujarnya sambil menangkup kedua pipinya Hanna dengan tangan satu sambil menekannya.
"Hei Hanna, aku bukan orang yang bisa kau bodohi. Aku tahu kau ingin membalas dendam pada keluargaku karena mereka sudah mencabut hak tugas kamu sebagai dokter, dan keluargaku juga sudah menghancurkan keluargamu Iyakan? Aku tahu semuanya, jadi jangan pernah kau bermimpi untuk masuk kedalam keluargaku!" lanjut Azkha lagi membuat Hanna benar-benar kaget mendengarnya.
"Ja-jadi ka-kamu..?"
"Cih! Kau pikir aku benaran cinta sama kamu hah? Mimpi saja kau sana! Keluar kau dari mobilku j*l*ng!" bentak Azkha, mengusir Hanna yang terlihat masih kaget, hingga ia tak merespon perkataan Azkha.
"Apakah kau tidak mendengar perkataanku hah?! Keluar kau dari sini!" teriak Azkha lagi membuat Hanna kaget dan ia pun langsung keluar dari mobilnya Azkha.
Setelah Hanna turun, Azkha pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Hanna yang terlihat kesal.
"Sialan! Ternyata selama akulah yang dibodohi anak ingusan itu! Hah, jadi gagal balas dendam,"gerutu Hanna. "Tapi aku tidak akan putus asa aku akan tetap membalaskan dendam ini pada kalian semua!" gumamnya lagi terlihat geram.
_____
Sementara Azkha membawa mobilnya kembali pulang kerumahnya. Sesampainya di rumah ia langsung masuk. Membuat Hendrawan dan Raniah yang masih duduk di ruang keluarga kaget melihatnya.
"Eh, kenapa kamu pulang lagi?" tanya Hendrawan dengan spontan.
"Bukankah Papa bilang, aku boleh pulang bila aku meninggalkan perempuan j*lang itu bukan? Nah sekarang aku sudah meninggalkannya jadi aku pulang Pah, dan Azkha juga minta maaf karena sudah membuat kalian marah" kata Azkha sambil meraih tangan Hendrawan dan mengecupnya setelah itu ia juga meraih tangan Raniah dan mengecupnya juga.
"Ya sudah Azkha capek Pah, Azkha kamar dulu ya" katanya lagi lalu ia pun langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Hendrawan dan Raniah yang masih tercengang oleh kelakuannya.
Bersambung
____________
Alhamdulillah ternyata masih banyak yang menyukai novel ini,🥰 terimakasih banyak ya guys.🙏🥰 Tapi Novel ini benar-benar masih membutuhkan dukungan para Readersnya.
Karena bila ingin menaikkan lagi Novel ini, maka para Readers harus benar-benar mendukungnya karena novel ini masih membutuhkan VOTE yang banyak agar levelnya kembali naik.
Jadi Author mohon dengan sangat pada para Readers kesayanganku untuk dukung selalu novel ini ya. karena author nggak ingin novel ini tenggelam begitu saja dan insyaallah author juga akan update setiap hari. jadi jangan lupa ya guys 🙏🥰 dan sekali lagi SYUKRON atas dukungannya.
__ADS_1