SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
CINTA TIDAK PANDANG USIA.


__ADS_3

๐Ÿ”นโœฅ.โ–.โœฅ ๐Ÿ’  KALAM ULAMA๐Ÿ’  โœฅ.โ–.โœฅ ๐Ÿ”น


"Bersegerahlah dalam mendidik anak sebelum kesibukan melalaikanmu, karena sesungguhnya apabila anak telah berumur dewasa dan berakal tetapi tidak terdidik, maka dia akan menyibukkanmu (menyusahkan) dirimu dengan keburukan"


๐Ÿ”น[ Al-Habib Umar bin Hafidz ]๐Ÿ”น


โคุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู’ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงู“ู„ู ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู’โค


๐Ÿ”นโ–.โœฅ๐Ÿ’ โœฅ.โ–.โœฅ๐Ÿ’ โœฅโ–โœฅ๐Ÿ’ โœฅ.โ–.โœฅ๐Ÿ’ โœฅ.โ–๐Ÿ”น


Setelah mengadzani anaknya Azzam pun meletakkan bayinya kedalam box bayi,


"Alhamdulillah, sekarang kamu bobo di sini ya sayang, Buyah, mau lihat keadaan Umah kamu dulu, oke boy, jadi nangis ya." Kata Azzam pada Baby boynya, dan setelah ia memberikan kecupan pada si kecil, ia kembali menghampiri Istrinya yang masih di tangani sang Dokter.


"Ada apa Dok?, kenapa Istri saya semakin memucat wajahnya.?" Tanya Azzam cemas, karena melihat wajah Naisha yang pucat.


"Maaf pak, mungkin karena terlalu lama menunggu ya sedikit kehilangan darahnya, tadi saya juga sudah meminta salah satu suster untuk membawakan sekantong darah bergolongan yang sama dengan ibu, kesini." Kata Sang Dokter.


"Kalau memang kondisi istri saya kurang baik, Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit aja Dok?"' Tanya Azzam yang terlihat semakin cemas.


"Kita tunggu darahnya datang dulu ya pak." Balas sang dokter.


"Baiklah kalau begitu." kata Azzam yang kemudian ia pun duduk di tepi ranjang di sisi Naisha, lalu ia pun mengusap-usap lembut pipi Naisha, yang kini ia sedang memejamkan matanya, entah ia sedang tertidur atau sedang tidak sadarkan diri.


"Nai, Mas berterima kasih padamu, karena kamu telah memberikan Mas jagoan kecil yang sangat tampan dan terima kasih, kamu sudah memperjuangkannya, tapi Mas mohon kamu juga harus berjuang untuk diri kamu, demi anak kita Nai, demi Mas juga." Bisik Azzam yang masih mengelus pipi Naisha yang terlihat begitu pucat, lalu ia juga memberikan kecupan lembut pada dahi Istrinya itu.


Dan di saat bersamaan, terdengar suara ketukan pintu kembali, tapi kali ini dokter yang membukakan pintu kamarnya, dan terlihat seorang wanita berpakaian putih dengan membawa sebuah tas kecil.


" Malam Dok!, Ini pesan Dokter." Kata Wanita itu sambil menyerahkan tas kotak kecil, pada sang Dokter.


"Terimakasih sister, sekarang bantu saya." Ujar sang Dokter,

__ADS_1


"Baik Dok " Sang Dokter pun langsung menghampiri Naisha Kembali dan ia juga langsung menangani Naisha untuk melakukan transfusi darah pada Naisha.


Setelah selesai Sang Dokter berpamitan keluar, dan membiarkan Azzam berdua saja dengan Istrinya, Azzam masih setia duduk di samping Naisha yang sedang tertidur pulas, wajahnya pun sudah tak begitu pucat lagi.


"Oh iya, sebaiknya aku telpon bunda dan Ayah mertua dulu deh pasti mereka akan senang mendengar Naisha telah melahirkan." Gumam Azzam yang kemudian ia pun mengambil benda pipihnya, lalu ia pun menghubungi orang tua Naisha, setelah itu ia juga menghubungi kedua orang tuanya setelah selesai ia kembali meletakkan hpnya di nakas yang berada di samping tempat tidurnya.


Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di samping Naisha, sesaat ia memandangi wajah istrinya yang terlihat begitu tenang, terlihat juga wajah lelahnya.


"Mudah sekali kamu melahirkannya Nai, apa itu Akibat sering bersihgama ya?, Hmm, benar kata Papa kalau sering melakukan bersihgama akan memudahkan bayi mendapatkan jalan keluarnya, apa lagi tadi kita habis melakukan itu, tapi, huh!, Mas kan tadi belum sempat sampai puncak Nai, baby boy sudah keburu minta keluar, mana setelah ini, Mas harus puasa lagi, sampai kapan tuh, garing dah nih junior Mas." Gerutu Azzam sepanjang ia memandang wajah istrinya.


"Tapi nggak papa, yang penting kamu dan baby boy selamat, Mas dah bersyukur banget Nai, Terima kasih ya sayang, kamu memang istriku yang paling the best." Gumam Azzam lagi, yang kemudian ia mengecup kening Naisha.


"Selamat tidur sayang, mas sangat mencintaimu." Ucap Azzam yang sepertinya ia tak bosen-bosen memberikan kecupan pada wajah Naisha, dan setelah itu ia kembali meletakkan kepalanya di atas bantal dan mungkin karena ia juga lelah karena ikut tegang Melihat Istrinya melahirkan, Azzam pun langsung hanyut terbawa oleh alam mimpinya.


______


Sementara di sisi lain, di rumah orang tua Azzam.


"Tadi siapa pah yang telpon?" Tanya Raniah pada Hendrawan.


"Eh, Benarkah Pah?, apa itu artinya Naisha sudah melahirkan ya pah?," tanya Raniah lagi.


" Iya Mah, tapi Naisha melahirkan di rumah kata Azzam Mah." Ujar Hendrawan menceritakan apa yang telah dikatakan Azzam sewaktu di telfon tadi.


"Hah, kenapa nggak di rumah sakit pah?." tanya Raniah yang terlihat penasaran.


"Nggak keburu Mah, Bayi sudah terlanjur keluar." Ujar Hendrawan.


"Eh, kayak Mama melahirkan Azkha dong, nggak sempat ke rumah sakit, karena Azkhanya sudah keluar duluan." Kata Raniah, yang teringat kala ia melahirkan anak keduanya.


" Ya seperti itu juga mantu kamu sekarang, dia nggak sempat ke rumah sakit karena bayinya sudah keluar duluan." Timpal Hendrawan lagi.

__ADS_1


"Kok gampang banget ya, padahalkan anak pertama, atau jangan-jangan, Papa ngajarin Azzam ya gitu-gituan." Tanya Raniah terlihat mencurigai suaminya.


"Hehehe, iya Mah, itukan jurus jitu biar Istrinya mudah melahirkan." Jawab Hendrawan sambil cengengesan kepada istrinya.


"His, Papa, tapi bagi Naisha itu anak pertama, masa nggak ada yang bimbing dia melahirkan sih, kalau ada apa-apa gimana coba pah?." Ujar Raniah, yang terlihat cemas.


" Ya in syaa Allah tidak ada apa-apa mah, doain yang terbaik aja dong mah, jangan berpikir, mendahului Allah dong Mah, itu sama saja Mama meminta loh." Tegur Hendrawan.


" Eh maaf Pah, habis Papa ada-ada aja, Azzam baru anak pertama udah Papa ajarin kata gitu sih." Protes Raniah.


" Ya nggak papa Mah, kan biar Naisha gampang melahirkannya Mah, lihat kan sudah terbukti, Naisha mudah banget melahirkannya." Ujar Hendrawan yang sepertinya tidak mau di salahkan.


"Huh!, Papa mah, memang nggak pernah mau di salahkan, dan nggak akan pernah menang kalau ngomong sama Papa mah." protes Raniah dengan wajah yang terlihat kesal melihat suaminya itu.


"Hahaha, Maaf Mah, tapi Papakan berkata sesuai fakta, buktinya kamu saat melahirkan anak-anak kita, lancar selalukan Mah." Ujar Hendrawan Sambil terkekeh karena melihat istrinya yang terlihat lucu saat ia sedang kesal.


"Au akh pah!, dari pada ngomong sama Papa nggak pernah menang, lebih baik Papa antar Mama deh ke rumah Azzam." Balas Raniah yang masih terlihat kesal.


" Hehehe, Iya Papa antarin tapi jangan cemberut gitu dong, kan Papa jadi takut Mah." Goda Hendrawan pada Raniah.


" Biarin, habis Mama sebal sama Papa. suka gitu sih." Kata Raniah Sambil ia bersiap-siap diri karena mereka hendak pergi ke rumah Azzam.


" Sebal apa cinta Mah, kalau Papa mah, cinta sama Mama." goda Hendrawan lagi, namun kali ini ia memberikan ciuman singkat pada pipi Istrinya.


"Iis, Apaan sih Pah, udah tua tau, udah punya cucu jugakan." Balas Raniah, yang terlihat kaget saat suaminya tiba-tiba memberikan kecupan.


"Mah, yang namanya cinta tidak pandang usia, bahkan sampai nyawa terlepas dari raga baru tuh, Cinta nggak berguna lagi, yang berguna adalah Amal mah." Ujar Hendrawan menjelaskan pada sang istrinya.


" Iya iya, benar kata papa ya sudah ayo sekarang kita ke rumah Azzam pah." Ajak Raniah Sambil ia menggandeng tangan Suami.


"Baiklah sayang ayo." balas Hendrawan, yang kemudian mereka pun pergi menuju ke rumah Azzam.

__ADS_1


_________


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š.


__ADS_2