SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
RENCANA AKAD.


__ADS_3

══ ✥.❖.✥ 💠Kalam Habaib 💠✥.❖.✥ ══


"Berdoa saja tanpa adanya usaha untuk mewujudkannya itu tidak bermanfaat. Melangkahlah (untuk mencapai tujuan) walaupun langkahmu itu terlihat remeh. Dan percayalah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan apa yang menjadi cita-citamu"


[ Abuya Prof. - Habib Abdullah bin Muhammad Baharun ]


❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ❤


✥❖.✥✥.❖.✥✥.❖.✥💠✥.❖.✥✥.❖.✥✥.❖✥


Sesuai yang direncanakan oleh Rayhan di malam harinya Ia pun mengunjungi rumah orang tua Azzam, bersama keluarganya, dan mereka pun disambut dengan hangat oleh orang tuanya Azzam.


"Assalamu'alaikum " Salam keluarga Reyhan yang kebetulan ia datang bersama Ayahnya, serta Om dan Tantenya yang memang dekat pada Reyhan, sedangkan ibunya telah lama meninggal di saat ia duduk di bangku SMP, makanya ia kini hanya memiliki orang tua tunggal saja


"Wa'alaikumus salam " sambut keluarga Azzam, terlihat senang atas kedatangan keluarga Reyhan.


"Maa syaa Allah, senang sekali saya, karena kedatangan tamu istimewa, apa kabar pak Juhaidi ?" sapa Hendrawan yang langsung memeluk ayahnya Reyhan.


"Alhamdulillah, saya sangat baik pak Hendra, Anda sendiri gimana kabarnya?" tanya Ayah Reyhan yang bernama Juhaidi, dan ia ikut menyambut pelukan Hendrawan.


"Alhamdulillah saya juga baik Pak" jawab Hendrawan hangat, lalu ia juga menyalami satu persatu keluarganya Reyhan dan termasuk Reyhan sendiri, "Mari silahkan masuk pak, ayo semuanya pada masuk" ajak Hendrawan mempersilakan para keluarga Rehan masuk ke rumahnya dan mereka pun mengikuti Hendrawan.


Setelah di dalam Hendrawan pun mempersilahkan para keluarga untuk duduk, pada awalnya mereka hanya berbincang sekedarnya saja sampai para pembantu menyajikan minuman serta makanan kecil untuk mereka.


"Ayo silahkan di minum pak airnya, ayo semuanya silahkan minum, maaf hanya ala kadarnya saja" ujar Hendrawan merendah.


"Terima kasih pak, Maa syaa Allah, segini ala kadarnya, gimana kalau yang bukan ala kadarnya ya?" balas Juhaidi basa-basi.


"Hehehe bapak bisa saja, tapi sayang nggak enak saja, masa jarang-jarang bapak mau silaturahmi ke rumah saya, tapi di sambut hanya seperti ini" kata Hendrawan yang masih merendah.


"Sudah Pak, saya sudah senang kok di sambut hangat disini, dan saya juga ingin menyambung tali silaturahmi pada keluarga pak Hendrawan, karena sepertinya anak saya ingin mempersunting anak bapak" ujar Juhaidi yang akhirnya ia membuka. niat kedatangannya.

__ADS_1


"Maa syaa Allah, benarkah itu Nak?" tanya Hendrawan pada Reyhan terlihat begitu senang.


"Iya Om, makanya saya mengajak para keluarga, karena ingin mengkhitbah Aziah Om" balas Reyhan yang terlihat sedikit malu.


"Alhamdulillah, om sangat senang mendengarnya" kata Hendrawan yang memang ia terlihat bahagia karena pada akhirnya keinginan dia dan istrinya terpenuhi, walaupun ia belum tentu bisa menerimanya karena keputusan itu tergantung oleh jawabannya Aziah


"Saya senang sekali Pak, Rey, tapi keputusan ini tidak di terima atau nggaknya bukan saya memutuskannya, karena yang akan menjalaninyakan bukan pak, jadi itu semua tergantung anak saya" jelas Hendrawan secara sedikit di candai.


"Hehehe bapak bisa saja, baiklah kalau begitu, kami ingin mendengar sendiri jawaban dari putri bapak, tapi ngomong-ngomong, di mana putri bapak?" tanya Juhaidi yang tadi sedikit terkekeh karena candaan Hendrawan yang sedikit tadi.


"Ada dia sedang dikamarnya," balas Hendrawan "Mah, panggilkan Ziah, suruh kesini ya," kata Hendrawan lagi kepada istrinya.


"Baiklah Pah, tunggu sebentar ya Pak, nak Ray, biar saya panggil Aziahnya dulu" pamit Raniah, sambil ia bangkit dari duduknya.


"Iya Bu, silahkan" balas Juhaidi sementara Reyhan hanya membalasnya dengan anggukan saja, lalu Raniah pun langsung pergi memanggil Aziah dan tak berapa lama Raniah kembali lagi bersama Aziah.


"Sini Nak duduk dekat Papa" kata Hendra, saat Aziah telah datang, dan tanpa menjawab Aziah pun mengikuti perkataan sang ayah, ia pun duduk di sebelah Hendrawan.


"Alhamdulillah Nak, Aziah sudah disini, apakah nggak sebaiknya kita tanyakan langsung padanya pak Hendra," ujar Juhaidi yang sepertinya ia tak sabar mendengarkan jawaban dari Aziah.


"Oke, kita langsung aja ya pak" kata Juhaidi lagi.


"Silahkan pak" balas Hendrawan.


"Oke, Nak Ziah, Om dan keluarga datang kesini, bermaksud ingin khitbah kamu, untuk anak Om Reyhan, apakah nak Aziah bersedia menerima anak Om Reyhan, sebagai calon imam kamu?" tanya Juhaidi dengan lembut.


Mendengar pertanyaan Juhaidi, Aziah menatap Reyhan dengan singkat, yang kebetulan ia duduk di hadapannya juga bersebelahan dengan Ayahnya, mereka duduk memang saling berhadapan hanya terhalang dengan meja saja, dan di saat ia menatap Reyhan ternyata Reyhan juga sedang menatapnya membuat ia langsung menunduk kembali.


"Jawablah Nak" kata Hendrawan, yang seperti ia juga ikut menanti jawaban dari putri bungsunya.


"Pah, Ziah hanya ingin mengikuti perkataan Papa dan Mama saja, kalau Papa dan Mama menerima, maka itulah jawaban Aziah" tutur Aziah dengan suara pelannya dan dengan wajah yang masih tertunduk, Namun perkataannya masih terdengar oleh mereka yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Benarkah Nak, yang kamu katakan itu?" tanya Hendrawan, masih belum percaya dengan jawaban dari Aziah.


"Iya Pah, Ziah akan mengikuti jawaban dari Papa" kata Aziah lirih.


"Baiklah kalau begitu, jawaban Papa akan menerima Reyhan sebagai anak mantu Papa, apakah itu artinya kamu menyetujuinya Nak?" tanya Hendrawan lagi, dan di balas dengan anggukan kepala oleh Aziah.


"Alhamdulillah, Anda sudah mendengarkan pak, saya menerima Reyhan sebagai calon anak mantu saya" ujar Hendrawan lagi, dengan penuh semangat.


"Alhamdulillah" ucap para keluarga Reyhan yang ikut bahagia mendengarnya.


"Baiklah kalau begitu khitbah sudah diterima, sekarang sebaiknya kita langsung saja menentukan hari untuk akadnya, gimana pak menurut Anda, kapan menurut bapak hati yang pas untuk mereka melangsungkan akadnya?" tanya Juhaidi yang terlihat juga begitu bersemangat, karena pada akhirnya anaknya akan mengakhiri masa lajangnya juga.


"Kalau saya tergantung dengan Nak Reyhan saja, karenakan yang mau menjalani nak Reyhan" balas Hendrawan sambil menatap Reyhan.


"Ya sudah kalau begitu, kita serahkan pada Reyhan, gimana Nak?, kapan rencana akadnya Nak?" tanya Juhaidi lembut pada Reyhan.


"Begini Pah, Om, tadi siang saya sempat bertanya pada seorang ustadz tentang niat saya ini, dan beliau mengatakan, sesuatu yang baik tidak boleh di tunda-tunda, maka dari itu saya berniat, awal bulan depan saya ingin menghalalkan Aziah, bagaimana menurut Papa dan Om?" jelas Reyhan pada keluarga Aziah dan keluarganya.


"Maa syaa Allah, keputusan yang sangat benar, jadi awal bulan depankan, berarti itu tiga minggu lagi, baiklah kami menyetujuinya" balas Hendrawan yang terlihat bahagia.


"Alhamdulillah, baiklah kalau begitu kami akan mempersiapkan segalanya" balas Juhaidi ikut senang.


Setelah proses khitbah selesai, Hendrawan pun langsung mengajak para keluarga Reyhan untuk makan malam bersama, yang di selingi juga pembahasan untuk acara pernikahan Reyhan dah Aziah, dan setelah selesai merekapun berpamit pulang dengan wajah yang terlihat bahagia.


____________


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.

__ADS_1


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..


Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.


__ADS_2