SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
TERLALU KANGEN.


__ADS_3

*┉━•❖❀🌼KALAM ULAMA 🌼❀❖•━┉*


"Masalah boleh datang dalam kehidupan kita tapi pandanglah selalu kebaikan Allah. Jangan meniadakan kebaikan Allah, Walau hidup susah tapi di mulut masih terucap Alhamdulilah"


[ Guru Zuhdiannor ]


❤صَلَّ اللّٰـهُ عَلَی مُحَمَّدْ صَلَّ اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ❤


❖❀┉━━━━━•❖❀🌼❀❖•━━━━━┉❀❖


Pagi hari di Mansion Azzam.


Satu bulan sudah umur baby boy, pertumbuhannya juga sangat pesat, ia kini sudah berubah menjadi baby yang terlihat gembul, membuat Azzam mau pun Naisha sering gemas melihat baby boy yang kini pipinya terlihat tembam.



"Maa syaa Allah, anak Buya makin hari pipinya sudah seperti bakpau sih nak" ujar Azzam saat melihat buah hatinya yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Namanya Al selalu mimi cucu Ummah, Buya, jadi Al sekarang tambah gembul deh Buya" balas Naisha dengan menirukan suara anak kecil.


"Iyakah?, hmm berarti enak banget ya, cucunya Umma, Buya jadi kepingin juga deh, Mimi cucunya Umma" ujar Azzam sambil melirik Naisha yang kebenaran Naisha lagi melihat dirinya, yang kemudian ia pun mengedipkan sebelah matanya pada sang istrinya membuat mata Naisha membulat.


"Eh, apaan sih Mas? kamu semakin genit deh!," tegur Naisha dengan wajah yang terlihat sudah memerah malu.


"Genit sama istri sendiri nggak apa-apa dong sayang, dari pada Mas genit sama orang ayo kan bahaya sayang" balas Azzam asal.


"Ooh, coba aja kalau berani Mas genit sama orang, maka selama setahun Icha akan tinggal di rumah Bunda tanpa Mas bisa melihat Icha tau" ancam Naisha membuat Azzam kaget mendengar ancamannya dan ia pun langsung memeluk Naisha.


"Eh, Mas cuma bercanda kok sayang, mana mungkinlah mas genit sama yang lain, kamu sendiri juga tau kan, kalau cuma kamu saja yang bisa menyentuh Maskan, jadi kamu jangan berpikir yang tidak-tidak ya sayang" kata Azzam di dalam pelukannya,


"Iya Mas, in syaa Allah"


"Nai?" panggil Azzam lembut.


"Hmm?"


"Kamu jangan berkata seperti itu lagi ya sayang, Mas ngeri bila membayangkan itu, sebulan ini saja tidak bisa menyentuh kamu, Mas sudah nggak tahan. Apalagi harus setahun, Mas bisa gila kali sayang" keluh Azzam, yang memang sedari Naisha melahirkan ia harus berpuasa hingga saat ini.

__ADS_1


"Mas ngomong apa sih?, ingat loh perkataan bisa menjadi doa Mas, jadi Mas tidakbboleh berkata sembarangan tau" tegur Naisha, yang terlihat tidak menyukai perkataan Suaminya itu.


"Habis kamu duluan sih ancamannya serem banget, membuat Maskan jadi ngeri tahu membayangkannya" balas Azzam dengan memasang wajah merajuknya.


"Iya deh Icha yang salah, Icha minta maaf ya Mas" ucap Naisha lembut


"Iya sayang, sebenarnya Mas yang salah sih, karena candaan Mas kamu jadi mengatakan hal itu, jadi maafkan Mas juga ya sayang" balas Azzam sambil ia memberikan kecupan lembut pada dahi Naisha lalu ia juga menyatukan dahinya ke dahi Naisha.


"Iya Mas, ya sudah sekarang sebaiknya Mas bersiap ya, Mas mau ke kantorkan?, nanti telat loh" ujar Naisha lembut mengingatkan Azzam, sembari ia melepaskan pelukannya pada sang Suaminya.


"Haiis, cepet banget sih waktu berlalu, Mas kan masih ingin bersama kamu dan baby Al sayang" keluh Azzam dengan memasang wajah malasnya, saat ingat ia harus bekerja lagi.


"Eh, nggak boleh ngeluh Mas, lagian kamu berkerjakan untuk anak kamu jugakan Mas?, jadi kamu harus semangat dong Mas," balas Naisha dengan lembut.


"Iya iya Mas kerja, ya sudah Mas mandi dulu ya"


"Iya Mas" setelah mendapatkan jawaban dari Naisha, Azzam pun pergi ke kamar mandi mereka sementara Naisha mempersiapkan baju yang akan dipakai oleh suaminya untuk pergi ke kantornya, setelah itu ia pun beranjak keluar dari kamarnya setelah melihat buah hatinya yang ternyata ia kembali tertidur.


Naisha terus berjalan menuju arah ke ruangan makan yang ternyata di sana sudah ada bi Onah yang sedang menyajikan makanan yang telah ia masak keatas meja makan.


"Assalamualaikum, pagi Bi?" sapa Naisha saat ia sampai di ruangan makan.


"Maa syaa Allah, banyak masakan bibi hari ini, dan sudah siap lagi, Maaf ya Bi, Icha jadi jarang bantuin bibi di dapur," kata Naisha merasa bersalah.


"Tidak apa-apa neng, lagian inikan memang kewajiban bibi, lagian sekarang neng sekarang Eneng juga ada tuan muda kecil yang harus di urus juga, jadi Eneng tidak usah mikirin masalah dapur lagi ya Neng, bibi bisa sendiri kok" balas Bi Onah, yang sebenarnya ia merasa tidak enak, kalau Naisha sering sekali membantu dirinya memasak, tapi karena majikannya itu sering keras kepala ia akhirnya hanya bisa mengalah dan membiarkan Naisha membantunya memasak.


"Iya juga sih, ya sudah karena sarapan sudah selesai, Icha panggil mas Azam dulu ya Bi"


"Iya Neng" setelah mendapatkan balasan dari Onah, Naisha kembali ke kamarnya, sesampainya di kamar ternyata Suaminya sudah menyelesaikan mandinya, dan bahkan ia juga sedang memakai bajunya.


"Eh, Mas sudah selesai mandinya?" tanya Naisha saat ia sudah berada di dalam kamarnya.


"Sudah sayang" kata Azzam sambil ia mengancingkan baju kemeja putihnya.


"Sini Icha bantu Mas" kata Naisha sembari ia mendekatkan dirinya pada Azzam dan langsung membantu mengancingkan baju kemejanya.


"Terima kasih sayang"

__ADS_1


"Sama-sama Mas" kata Naisha dengan tatapan matanya yang terfokus pada kancing-kancing kemejanya Azzam, sedangkan Azzam hanya berdiam diri dan membiakan Istrinya yang mengancingkan bajunya, namun tatapan matanya mengarah ke wajah sang istri yang terlihat sedang serius, hingga bibirnya sering bergerak saat mendapati kancing yang sedikit membandal,


Melihat bibir merah alami milik Naisha yang terlihat menggodanya, membuat Azzam menelan Silvanya dengan paksa, karena selama Naisha dalam masa nifas, Azzam tak berani menyentuh bibir sang istri karena ia takut tidak bisa mengatasi birahinya. Tetapi kali ini bibir yang selalu ia hindari itu seakan memiliki maghnet hingga tanpa sadar bibirnya kini sudah mendarah bibirnya Naisha, membuat Naisha tersentak kaget karena mendapatkan serangan secara mendadak.


"Uhmm!!" alhasil suara lenguhan pun akhirnya keluar dari mulutnya Naisha, membuat tubuh Azzam memanas, dan itu bisa di rasakan oleh Naisha kalau Suaminya saat ini sedang berhasrat, dan ia pun langsung mendorong pelan tubuh Azzam, hingga tautan bibir pun terlepas, "Belum boleh Mas, sabar yaa," kata Naisha lembut dengan nafas yang sedikit memburu.


"Ah, Maaf Nai, ini karena Mas terlalu kangen itu" kata Azzam dengan suara yang sedang menahan hasratnya.


"Iya Mas Icha paham kok, dan Mas tidak perlu minta maaf, karena Icha yang seharusnya minta maaf karena belum bisa memenuhi kewajiban Icha, sebenarnya kemarin nifas Icha telah selesai, tapi malah tersusul halangan, jadi Mas harus menunggu seminggu lagi ya, nggak papakan Mas?" jelas Naisha yang terlihat tidak enak hati, karena di saat suaminya menginginkannya dia malah nggak bisa.


"Iya sayang, nggak papa kok, in syaa Allah Mas akan bersabar kok" balas Azzam sedikit kecewa.


"Alhamdulillah, ya sudah Icha pakaikan dasinya ya Mas" ujar Naisha sambil ia mengambil dasi yang masih berada di ranjang mereka.


Mendengar perkataan Naisha Azzam langsung teringat tadi, "Eh, kalau dia lagi yang pasang, bisa-bisa aku tidak bisa menahannya lagi dong, tidak ini tidak boleh"_Batin Azzam.


"Tidak usah Nai aku pasang sendiri saja ya" kata Azzam yang langsung merebut dasi yang ada di tangan Istrinya, dan saat bersamaan, Baby boy menangis, membuat Azzam senang karena seperti mendapatkan dewa penolong baginya.


"Tuh, sebaiknya kamu susui baby Al saja sayang, mungkin dia sedang lapar" dalih Azzam.


"Iya Mas, Icha susui baby Al ya"


"Iya sayang" setelah dapat izin Naisha langsung menghampiri box baby Al.


Sedangkan Azzam ia langsung bernafas lega


"Huuft, akhirnya, Naisha menjauh juga, haiis, sabar junior, tinggal tujuh hari lagi, jadi bersabarlah" _Batin Azzam.


__________


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..

__ADS_1


Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.


__ADS_2