
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈
"Setiap manusia pasti pernah berbuat dosa namun sebaik-baik yang berbuat dosa adalah ia yang mau bertobat, maka mari senantiasa perbanyak istighfar
Memohon ampunan kepada Allah sembari berbenah diri dan jangan lupa selalu minta kepada Allah keistiqomahan.
Semoga kita lebih baik dari kita yang kemarin 🤲
Aamiin..
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
Melihat kelima polisi, masih berada didekat pintu masuk aula rumah thafidz. Zumiran, kembali duduk didepan sebuah meja yang didepannya sudah ada Azkha. Terlihat juga, dari tatapan mata Zumiran, kalau ia lagi sangat kesal pada Azzam yang terlihat, tersenyum mengejek kepadanya.
"Silahkan Ustadz, dilanjutkan acara akadnya," ujar Azzam, yang akhirnya membuka suara duluan.
"Baiklah Nak Azzam," balas Sang Ustadz pada Azzam. "Baiklah mari kita mulai acara akad, dengan diawali dengan membaca basmalah" ujar Ustadz Ibnu, yang akhirnya ia melanjutkan ke acaranya, intinya saja. Karena ia takut akan diprotes lagi, bila ia melanjutkan sesi pemberian Nasehat untuk kedua mempelai.
"Apakah Nak Azkha sudah siap?" tanya Sang Ustadz, pada Azkha.
"In shaa Allah saya siap Ustadz," balas Azkha terlihat tegang.
"Alhamdulillah, bagaimana dengan Anda pak Zumiran?" tanya Ustadz lagi pada Zumiran, yang ia juga terlihat tegang. Namun ketegangan ia karena adanya polisi yang mengamatinya.
"I-iya sa-saya siap Pak Ustadz!" balas Zumiran gugup.
"Alhamdulillah, kalau begitu kita mulai ya Pak, jangan lupa membaca basmalah ya Pak!" ujar Ustadz Ibnu, lagi pada Zumiran.
"Baiklah Ustadz!" balasnya yang sesekali masih melirik keberadaan kelima polisi.
__ADS_1
"Baiklah, Sekarang jabatlah tangan Pak Zumiran pada Nak Azkha" kata Ustadz dan Zumiran pun langsung mengikutinya dan ia pun menjabat tangannya Azkha.
"Bismillahirrahmanirrahim, Ananda Muhammad Azkha Azram bin Hendrawan Azram?" panggil Zumiran, terdengar suaranya bergetar.
"Saya Pak!" sahut Azkha tegas.
"Saya Nikahkan dan Kawinkan engkau dengan putri kandung saya Az-Zahra Maharani binti Zumiran dengan mas kawin berupa, cincin berlian dibayar tunai!" tegas Zumiran sambil menyentak tangannya sedikit.
Azkha langsung menyahut dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Az-Zahra Maharani binti Zumiran dengan mas kawin tersebut tunai!" sahut Azkha yang hanya dengan satu tarikan nafas dan dengan suara yang terdengar lantang akhirnya ia mengijab Zahra
"Bagaimana para saksi?" tanya sang Ustadz pada kepada para saksi yang menyaksikan Akad nikahnya Azkha dan Zahra
"Sah?!"
"Sah!" jawab para saksi dengan serentak.
Setelah mendengar jawaban para saksi, sang Ustadz langsung menadahkan kedua tangannya, dan diikuti oleh semua orang yang menyaksikan Akad nikah Azkha dan Zahra. Dan Sang Ustadz pun langsung membacakan doa.
"Alhamdulillah.. Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."
"Aamiin ya rabbal'alamin" sahut mereka lagi dengan serentak.
"Alhamdulillah, kalian sudah resmi menjadi Suami, Istri. Nak Zahra, salamlah Suamimu Sekarang Nak" ucap Ustadz Ibnu. Dan dibalas dengan anggukan saja oleh Zahra. Sembari ia mengulurkan tangannya pada Azkha yang kini posisi mereka telah berdekatan.
Azkha pun menyambut tangan Zahra yang kini telah resmi menjadi Istrinya. Setelah tangannya dicium oleh Zahra. Azkha pun meletakkan tangan kirinya di ubun-ubunnya Zahra. Kemudian ia menadahkan tangan kanannya. Dan Zahra pun ikut menadahkan kedua tangannya, dan setelah itu Azkha pun mulai berdoa.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
"Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih."
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan atasnya dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekan atas yang Engkau ciptakan."
__ADS_1
(HR Abu Dawud, Ibnu Majah).
"Aamiin ya Allah" jawab Zahra. Setelah itu mereka meminta restu kepada semua keluarganya. Dan disambut oleh mereka dengan ucapan selamat serta Doa, yang mereka dapatkan silih berganti dari para undangan.
Setelah sesi sungkeman selesai, dilanjutkan dengan acara berfoto bersama. Terlihat sekali semuanya ikut berbahagia menyaksikan senyum kebahagiaan dari keduanya mempelai. Hanya Zumiran yang terlihat begitu tegang, karena kelima polisi tersebut, belum juga pergi.
"Sialan! Gimana cara gue bisa kabur kalau kelima polisi itu masih berjaga-jaga di depan pintu? Gue nggak mau di penjara! Pokoknya gue harus kabur dari sini bagaimana pun caranya!" batin Zumiran. Dengan mata yang terlihat liar seperti mencari celah, akan lengahnya para petugas itu. Bahkan ia juga memperhatikan jendela-jendela rumah Thafidz tersebut, untuk melihat adakah yang bisa ia pakai untuk jalur kaburnya.
Namun disaat ia sedang hanyut dalam pemikirannya, tiba-tiba seorang polisi menghampirinya. "Permisi Pak? Bisa kita pergi sekarang? Bukankah acara telah selesai?" tanya polisi tersebut. Membuat Zumiran tersentak, bahkan ia langsung mendorong tubuh polisi tersebut, dan bermaksud lari. Namun saat ia hendak lari didepannya sudah ada dua polisi lainnya sudah menghadangnya.
"Anda tidak bisa kabur Pak! Karena tempat ini sudah kami kepung!" ujar salah satu dari dua polisi yang telah menghadang Zumiran.
"Benar! Sekarang sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi Pak! Jangan membuat kami membawa Anda dengan secara paksa!" ujar polisi yang sempat didorong Zumiran tadi.
"Tidak! Saya tidak mau dipenjara!" seru Zumiran, yang kemudian ia kembali berusaha kabur. Namun dengan cepat, polisi-polisi itu langsung meringkusnya, bahkan salah satu dari mereka berhasil memborgol Zumiran.
"Pak, menurutlah dengan mereka, jangan melawan Pak, biar Bapak mendapatkan hukuman yang ringan," ujar Zahra lembut. Dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Walau bagaimanapun, Zumiran tetaplah Ayahnya. Meskipun ia begitu jahat kepadanya.
Mendengar perkataan Zahra, dan apalagi melihat air matanya, tiba-tiba hatinya terasa sakit. Hingga tanpa terasa air matanya juga ikut mengalir, ada penyesalan yang menyerebab didalam hatinya.
"Hiks.. Maafkan bapak Nak, hiks... mungkin ini memang ini yang terbaik untuk Bapak. Semoga kamu bahagia Nak" ucap Zumiran, yang kemudian ia meminta para polisi untuk segera membawanya. Karena ia tak sanggup melihat air mata sang Anak, yang selama ini ia sakiti.
"Bapak?! Bapaaak!" jerit Zahra memanggil Zumiran. Namun tak dihiraukan oleh Zumiran.
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
__ADS_1
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏
Jangan lupa Follow akun Instagram author ya? Dengan nama akun rahmarahma6709 jangan lupa ya guys 😉🥰.