
*┉━•❖❀🌼 Mutiara Hadits 🌼❀❖•━┉*
“Allah Akan Menolong Seorang Hamba, Selama Hamba itu Senantiasa Menolong Saudaranya"
___(HR.Muslim)___
❖❀┉━━━━━❖❀🌼❀❖━━━━━┉❀❖
Mendengar Azzam menyebutkan Aziah di culik, Reyhan kaget spontan ia pindah duduk kesebelah Azzam. Agar ia bisa mendengar percakapan Azzam dengan Mamanya, dan disaat Raniah menyebutkan nama Athan spontan tangan Reyhan mengepal dengan wajah terlihat marah.
"Brengsek lo Athan! Gue tahu rumah orang tuanya, ayo kita kesana sekarang Zam" ajak Reyhan yang langsung berdiri dari duduknya dan bermaksud ingin melangkahkan kakinya. Namun tangannya di tahan oleh Azzam.
"Lo tetap di rumah biar gue Frans dan Nicko yang akan menanganinya!" tegas Azzam.
"Tapi Zam.."
"Udah nurut aja! pamali tau pengantin keluyuran," potong Nicko sambil mendorong tubuh Reyhan membuat ia kembali terduduk.
"Benar tuh bro! Lo jangan khawatir kami pasti bisa menemukan Aziah, jadi Lo cukup membantu kami dengan doa saja oke!" sambung Frans juga.
"Oke gue ikuti perkataan kalian, tapi kalian harus janji untuk membawa Aziah pulang!" tegas Reyhan yang juga terlihat pasrah mengikuti perkataan para sahabatnya.
"Itu sudah pasti bro! Ya sudah kalau begitu kami berangkat sekarang Assalamu'alaikum" pamit mereka bertiga.
"Oke, ingat berhati-hatilah Kalian, Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu" balas Reyhan.
"Sip!" ucap Nicko sambil mengacungkan jempolnya seraya ia berlalu meninggalkan Reyhan yang hanya memandangi kepergian para sahabatnya.
Setelah mobil Azzam tak terlihat lagi, Reyhan langsung mengambil benda pipihnya. Karena sepertinya ia ingin melakukan panggilan. Dan tak berapa lama ia pun menempel ponselnya ke kupingnya.
"Deni, tolong Cek GPS yang terdapat di cincin tunangan calon istri gue cepat! dan kirimkan ke gue sekarang juga!" titahnya di dalam panggilannya pada seseorang yang bernama Deni yang berada di seberang.
__ADS_1
"Oke Bos! laksanakan" balas Deni di sebrang.
Setelah mendapatkan jawaban dari orang yang ia hubungi, Reyhan pun langsung pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia mengambil jaket hitamnya, setelah itu ia mengambil kain sal kecil berwarna hitam yang kemudian ia lipat menjadi segitiga lalu ia ikat sebagai penutup hidung dan mulutnya, setelah itu ia juga mengambil topi berwarna hitam, setelah semua atribut terpasang ia pun keluar kembali dari kamarnya.
"Kamu mau kemana Nak? Berpakaian seperti itu?" tanya Juhaidi yang kebetulan sedang berdiri di depan kamar anaknya.
"Rey, tidak bisa berdiam diri saja Pah. Jadi Ray yang akan menolong Ziah" balas Reyhan dengan sopan.
"Tapi Nak, bukankah nak Azzam dan teman-temannya akan menanganinya, lagian kata teman kamu tidak baik calon pengantin keluyurankan" tegur sang Papa lagi yang sepertinya ia mendengar percakapan antara Reyhan dan teman-temannya tadi.
"Pah itu hanya mitos, lagian Rey bukan keluyuran untuk bermain, Rey pergi untuk menolong calon istri Ray, jadi bismillah saja Pah, in syaa Allah Allah melindungi Rey, Pah" balas Reyhan mantap.
"Ya sudah kalau kamu sudah berkata seperti itu, tapi ingat kamu harus hati-hati ya Nak" ucap Juhaidi terlihat pasrah.
"In syaa Allah Pah, ya sudah Ray pergi ya? Doain Rey secepatnya menemukan Aziah" pamit Reyhan sembari ia menyalami tangan sang ayah serta mencium tangannya.
"Aamiin, iya In syaa Allah doa Papa selalu menyertaimu" balas Juhaidi.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu" balas Juhaidi sambil mengikuti Reyhan sampai di depan pintu saja.
Sementara Reyhan langsung memasuki garasi tempat penyimpanan mobil dan sepeda motornya. Dan tak berapa lama ia kembali keluar dengan posisi sudah duduk di motor mogenya yang dari dalam garasi motor tersebut sudah menyalah. Dan setelah selesai memakai helmnya, Reyhan pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi mengikuti arahan GPS yang sudah di kirimkan oleh Deni.
********
Sementara di sisi lain di sebuah mobil.
"Athan Lo udah gila ya! Turunkan gue cepat! Lo bilang tadi hanya ingin memberikan gue kado, sebagai hadiah pernikahan guekan! Kenapa Lo malah bawa gue secara paksa! Dasar penipu!" teriak seorang wanita yang tangan dan kakinya sudah diikat hingga ia sulit berontak.
Mendengar omelan wanita yang berada di kursi belakang penumpang, pria yang di panggil Athan malah tertawa, "Hahaha.. Lo benar Ziah, gue emang sudah gila! Tapi gue gila karena cinta Lo Ziah," balas Athan sambil melirik kaca spion dalamnya untuk melihat wajah Aziah yang terlihat sudah memerah karena marah.
"Dan soal hadiah gue tidak menipumu Ziah. Karena hadiah yang ingin gue berikan ke elo, adalah pernikahan kita sayang" lanjut Athan dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Pernikahan? Apa maksud Lo Athan?"
"Iya Ziaah, hari ini akan menjadi hari kebahagiaan kita. Karena gue akan menikahi kamu" jelas Athan sambil kembali melirik kaca spionnya untuk melihat Aziah yang kebetulan sedang melihatnya juga. Dan Athan pun mengedipkan sebelah matanya pada Aziah.
"Dasar bajiangan Lo Athan! Gue nggak sudi menikah dengan Lo! Lebih baik gue mati! Lo dengar hah?! cepat lepaskan gue Athan!" teriak Aziah yang tatapan matanya sudah di penuhi kebencian terhadap Athan.
"Heh! Lebih baik mati Lo bilang? Oke kalau begitu sesuai keinginanmu sayang, kita akan mati bersama, karena bila gue tak bisa memiliki Lo, maka orang lain juga tidak akan bisa! Jadi mari kita mati bersama!" ujar Athan yang kemudian ia pun mempercepat laju mobilnya. Membuat Aziah sedikit takut.
"Apa yang Lo lakukan Athan? Cepat hentikan mobil ini! " teriak Aziah sambil ia merundukkan tubuhnya karena takut.
"Apa yang gue lakukan? Kenapa kamu malah bertanya Ziah? Ya apalagi kalau bukan menuju ke kematian kita sayang" jawab Athan dengan enteng.
"Apa! Gila Lo yaa? Asal Lo tau gue nggak sudi mati bareng Lo! Cepat hentikan mobil ini Athaaan!" teriak Ziah lagi.
Mendengar teriakkan Aziah, lagi-lagi Athan tertawa seperti orang gila, "Hahaha.. hahaha..Yaa gue memang gila Hahaha..hahaha!" katanya sambil tertawa terbahak-bahak, sambil ia melajukan mobilnya semakin cepat.
Aziah yang sejak tadi berusaha membuka ikatan tangannya secara diam-diam, kini sepertinya telah berhasil, setelah ia pun membuka ikatan Kakinya, Namun setelah itu ia bingung harus berbuat apa.
"Apa yang harus gue lakukan sekarang? Gue nggak mungkin melompat dari mobil yang lagi cepat ini!, Yaa Allah tolonglah hamba, hamba tak ingin mati bersama Athan yang menjadi gila ini!" batin Aziah yang terlihat ketakut sambil ia menoleh kebelakang mobil.
Di saat ia menoleh kebelakang ternyata di belakang mobil mereka ada dua motor yang sedang mengejar mereka. Aziah pun mengenali pemilik salah satu motor tersebut.
"*Bang Azkha? Aku ingat motor merah itu milik bang Azkha, tapi motor hitam itu milik siapa?"
___________
Jangan lupa ya guys untuk memVote novel ini. Karena hari ini adalah hari penentu apakah novel ini berlanjut atau tidak? Karena di tanggal satunya adalah keputusan dari NT.
Jadi Author mohon 🙏 tolong bantu novel ini dengan cara memVotenya dengan sebanyak-banyaknya yaa, author beri tahu sekali lagi, novel ini akan terus dan tidaknya tergantung para Readers.
So jangan lupa ya Sebelum dan sesudahnya author ucapkan ribuan terima kasih 🙏🥰*
__ADS_1