SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
SEDANG INGIN.


__ADS_3

◎❅❀❦♦️KALAM ULAMA♦️❦❀❅◎


Setiap mata akan menangis pada hari Qiyamat, kecuali mata yang menangis di dunia karena takut kepada Allah, mata yang sanggup berjaga demi Jihad Fi Sabilillah dan mata yang sanggup tunduk dari melihat perkara-perkara yang di haramkan Allah.


Keluarkanlah air matamu karena takut kepada Allah.. Bersungguh-sungguhlah engkau dalam tangisanmu sekarang, Sebelum engkau menangis dengan sangat pada hari Qiyamat dan tidak memberi manfaat sedikitpun bagimu.


___Al-Habib Umar bin Hafidz__


◎❅❀❦♦️❦❀❅❅❀❦♦️❦❀❅❀❦♦️❦❀❅◎


Mendengar perkataan sang kakek, Naisha dan Azzam jadi sedih mendengarnya, di tambah lagi sang kakek, terlihat begitu kurus dan jalannya sudah tidak gagah lagi, membuat Naisha berpikir, apa yang di kerjakan kakek ini dan apakah masih sanggup untuk bekerja, pertanyaan-pertanyaan begitu banyak di hati Naisha namun ia tak berani mengungkapkannya karena ia takut sang kakek akan tersinggung.


"Mas, boleh tidak, kakek dan nenek tinggal di rumah kita?, bukankah, di rumah banyak kamar mas?" Bisik Naisha, pada Azzam, karena ia tak ingin kakek itu mendengar omongannya,


"Boleh sayang, tapi tanya dulu pada kakek dan nenek dulu sayang, mereka mau tidak, tinggal bersama kita" Bales Azzam, dengan berbisik juga.


"Terima kasih mas, Icha akan tanyakan dulu pada kakek ya." Bisiknya lagi


"Iya sayang, tanyalah" Balas Azzam masih berbisik juga, dan setelah di anggukan oleh Azzam, Naisha kembali mendekati Sang kakek.


"Kakek, maukah kakek tinggal bersama kami?" tanya Naisha dengan penuh Hati-hati sekali.


"Maaf Cu, kakek tidak mau merepotkan kamu, apalagi sekarang nenek selalu bertingkah seperti anak kecil, jadi kakek nggak mau kalian terbebani karena kami Cu." Balas sang kakek, dengan raut wajah yang terlihat lelah. membuat rasa Iba Naisha semakin meningkat.


"Tidak merepotkan kok kek, dan kakek tidak usah khawatir tentang nenek, nanti kami akan mencarikan perawat untuk nenek kek, jadi biar kakek ada yang bantu merawat nenek, gimana kek, kakek maukan?" Kali ini Azzam yang berusaha menyakinkan sang kakek agar ia bersedia tinggal di rumah mereka.


"Iya kakek, benar kata suami saya, kakek mau ya tinggal sama kami, " Sambung Naisha juga.


"Kakek malu nak, mengapa orang lain malah seperti keluarga sendiri, sedangkan keluarga


sendiri, malah seperti orang lain." Ujar sang kakek yang terlihat sedih.


"Mungkin, itu hadiah dari Allah kek, sebagai gantinya keikhlasan kakek, jadi karena ini dari Allah kakek tidak boleh nolak ya." Kata Naisha lembut.

__ADS_1


"Baiklah Cu, tapi tunggu dapat persetujuan dari nenek ya, kalau nenek menyetujuinya in syaa Allah kakek akan setuju." balas sang kakek.


"Alhamdulillah Baiklah kek." Ujar Naisha yang terlihat senang.


"Alhamdulillah, ya sudah kek, karena nenek harus di rawat beberapa hari di sini, kalau begitu kami pulang dulu ya kek, in syaa Allah, besok kami akan datang lagi." Kata Azzam, pada sang kakek.


"Iya Cu, kalian hati-hati di jalanya ya dan terimakasih sudah baik dengan kami." Balas sang kakek penuh rasa haru.


"Iya kek sama-sama, ya sudah kami pamit ya kek Assalamu'alaikum." Pamit Azzam pada sang kakek sembari menyalami tangan sang kakek serta mengecupnya.


"Iya Cu, Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu." Setelah sang kakek membalas salamnya Azzam dan Naisha pun berlalu meninggalkan sang kakek yang sedang menunggu sang nenek yang sedang di rawat inap.


Setelah mereka keluar dari rumah sakit, Azzam dan Naisha kembali ke pondok sang Kakek untuk menjemput Frans dan Irma. Sesampainya di sana..


"Lama banget sih Zam, kami dah berkerak di sini nih." Protes Frans.


"Akh, masa sih, mana keraknya " Ledek Azzam santai.


"Dah kami makan, Udah yuk pulang, dah gerah gue di sini" Ajak Frans yang kemudian ia hendak naik di kursi belakang.


"Eh, tega banget sih lu sekali sekali gue duduk di belakang ngapa." Gerutu Frans yang akhirnya ia pasrah dan pindah tempat ke kursi depan dan duduk di belakang kemudinya.


"Jangan manja cepat jalan!" Bentak Azzam.


"Iya iya ini juga mau jalan." Balas Frans yang kemudian ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan beberapa menit kemudian mobil mereka pun memasuki halaman Rumah Azzam.


"Ya udah gue langsung pulang ya Zam Assalamu'alaikum." Ujar Frans setelah tadi ia memarkirkan mobilnya Azzam di halamannya, dan kemudian Frans beralih mobil bersama Irma.


"Iya hati-hati kalian di jalan, Wa'alaikumus salam" Balas Azzam dan hanya di balas oleh Frans dengan menunjukkan jari jempol ke Azzam dan kemudian mobil Frans pun meninggalkan halaman Rumah Azzam.


"Ayo sayang kita masuk." Ajak Azzam sembari merangkul pundak Naisha, dan hendak melangkah.


"Loh mas, buah Buninya mana?" Tanya Naisha yang tiba-tiba ia teringat dengan buah Buninya.

__ADS_1


"Oh iya mas lupa, tunggu sebentar Sayang, Mas akan ambil di bagasi ya." Ujar Azzam yang kemudian ia pun kembali menuju mobilnya dan kemudian ia langsung membuka pintu bagasi mobilnya. dan ia kembali menutup pintu bagasinya setelah di tangannya sudah ada beberapa tangkai buah Buninya, dan kemudian ia kembali menghampiri Naisha.


"Ini Sayang buah Buninya." katanya lagi sembari ia memberikan beberapa tangkai buah Buni.


"Terima kasih Mas." Balas Naisha yang kemudian ia mengambil tangkaian buah Buni dari Azzam.


"Sama-sama sayang, ya sudah ayo kita masuk." Ajak Azzam dan ia kembali merangkul pundak Naisha dan kemudian mereka pun berjalan memasuki rumah mereka.


Sesampainya di dalam mereka pun langsung menuju ke kamar mereka, dan sampainya di kamar Azzam langsung melakah ke kamar mandi sedangkan Naisha merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, yang mungkin ia merasa lelah dengan kejadian di rumah sang kakek.


Sementara Azzam yang tadi pergi ke kamar mandi, kini telah keluar kembali. "Loh sayang, kok malah tidur, mandi dulu sayang emang badan kamu tidak gerah apa?" Tanya Azzam yang sedikit kaget saat ia keluar ternyata Naisha sudah terlelap.


Karena tak mendapatkan respon dari istrinya Azzam pun menghampiri Naisha." Sayang mandi dulu yuk, biar kamu tidurnya nanti nyaman" Bisik Azzam di telinganya Naisha. sembari ia memincit hidung sang Istri.


"Humm, emas Icha ngantuk." kata Naisha dengan suara manjanya.


"Sayang kalau kamu tidak bangun mas mandiin nih." Ancam Azzam.


"Huuum." lenguh Naisha, yang malah ia menarik tangan Azzam hingga tubuh Azzam jatuh di atas tubuhnya Naisha.


"Sayang, jangan pancing mas deh, nanti mas makan loh." Ancam Azzam lagi, namun bukannya merasa takut Naisha malah menggesek-gesekkan wajahnya di dada bidang Azzam, sambil mengeluarkan lenguhan.


"Huuum..."


"Hmm, sepertinya kamu sedang ingin sayang?" Bisik Azzam di telinganya Naisha yang memang di situ adalah bagian sensitif Naisha hingga ia kembali mengeluarkan lenguhannya.


"Baiklah sayang, kalau begitu kita bercinta dulu ya, setelah itu kamu harus mandi oke." Kata Azzam lembut yang kemudian ia langsung meraih bibir ranum Naisha dengan lembut dan di sambut oleh Naisha, dengan senang hati, setelah puas mereka bermain di sana Azzam pun berpindah ke bagian yang paling ia sukai, permainan menjadi panas setelah suara-suara yang indah menurut Azzam keluar dari mulut Naisha membuat semakin ia ingin berenang di lautan bercintanya.


Dan setelah itu Author nggak tahu lagi.😜


cukup sekian saja dah yaa..


******

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya Ok 🙏😉


__ADS_2