
┈••✾•◆❀💚 Kalam Al-Qur'an 💚 ❀◆•✾••┈
"Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasul yang sangat dianjurkan. Karena menikah adalah penyempurna agama."
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir"
___[ Q.S. Ar-Rum ayat 21]___
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀💚❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
"Nikahilah dia, maka akan menjadi halal bagimu dan dia dek."
Mendengar perkataan dari Azzam, Azkha terperanjat kaget. "Apaa!"
"Kenapa Lo kaget gitu? Nggak salahkan perkataan Abang? Bukankah kamu ingin ia berbicara melihat kamu tadi? Yaa hanya itu cara agar dia melihat kamu. Lagian kalau kamu menikahinya, itu sama saja kamu sudah menolong dia dari kejahatan Ayahnya. Dan kamu juga bisa menyempurnakan agama kamu jugakan" jelas Azzam, dan seketika Azkha memandang wajah pucat Zahra yang sejak tadi tak sedikit pun mau melihat dirinya.
"Aah, ide Lo nggak masuk akal banget sih Bang! Ada-ada aja Lo! Kenal juga kagak, main nyuruh nikahin aja! Huh, dasar aneh Lo Bang!" pungkas Azkha, yang kemudian ia langsung keluar dari ruang rawat Zahra, dengan wajah terlihat masih kesal.
"Eh, kok malah di bilang aneh sih? Woy, mau kemana Lo! Tunggu gue!" teriak Azzam pada Azkha yang terlihat ia tak merespon Abangnya. "Nai, Mas nyusul Azkha dulu ya, kamu tunggu sebentar oke?" lanjutnya pada Naisha.
"Baiklah Mas," balas Naisha lembut. Dan setelah mendapatkan jawaban dari istrinya Azzam pun langsung melangkah pergi menyusul Azkha.
"Maafkan perkataan Azkha yang kasar ya Zahra. Sebenarnya dia baik kok, cuma ya gitu orangnya suka ceplas-ceplos, tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengarnya," ujar Naisha, setelah kepergian Azzam dan Azkha.
"Nggak papa Ustadzah, lagian Ana juga yang salah, karena membuat Akhy itu marah tadi," balas Zahra, yang sebenarnya ia juga merasa tidak enak. Pada Naisha dan Azzam, karena keduanya begitu baik padanya.
"Ya sudah, tidak usah kamu pikirkan itu, oh iya, sebaiknya kamu makan dulu ya? Soalnya kata dokter kamu lemah karena kurang asupan, jadi kalau kamu ingin sembuh, kamu makan ya?" ujar Naisha sembari ia mengambil sebuah mangkuk yang telah tersedia di meja, samping ranjangnya Zahra. Lalu ia bermaksud menyuapi Zahra namun langsung di cegah olehnya.
"Maaf Ustadzah, hari ini Saya sedang berpuasa Sunnah Kamis ustadzah." balas Zahra, dengan sopan.
"Maa shaa Allah, kamu memang wanita yang shalihah ya? Tapi Zahra, bukannya Ustadzah ingin menghalangi kamu beribadah, tapi saat ini kondisi kamu sedang melemah, apa tidak sebaiknya kamu tunda dulu puasa dek. Nanti in shaa Allah, kalau kondisi kamu sudah membaik kamu bisa menjalankannya lagi, gimana apa kamu setuju?" tanya Naisha dengan lembut.
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan Naisha, Zahra langsung melirik jam dinding yang ada diruang itu. "Maaf Ustadzah, tapikan tinggal sedikit lagi, hanya tinggal dua jam lagi akan Maghrib. Jadi bolehkan Zahra meneruskannya Ustadzah." balas Zahra, sembari ia mengatupkan kedua tangannya dan dengan mata yang terlihat sedang memohon.
Naisha tersenyum lembut, sambil ia mengusap-usap kepalanya Zahra seraya berkata. "Baiklah Sayang, sesuai keinginanmu. Tapi kamu harus istirahat ya, sembari menunggu Maghrib, oke" ucapnya, sambil ia mengecup dahinya Zahra.
"Terima kasih Ustadzah," balas Zahra terlihat senang.
"Sama-sama sayang. Sekarang pejamkanlah mata kamu." titah Naisha.
"Baiklah ustadzah" balas Zahra yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya. Dan tak berapa lama, nafasnya pun mulai teratur menandakan ia telah tertidur pulas. Naisha tersenyum melihatnya.
"Semoga setelah ini, kamu akan kembali tersenyum, dan semoga Allah memberikan kamu kebahagiaan dunia wal akhirat, sayang" batin Naisha saat melihat wajah tenangnya Zahra dikala ia tertidur.
*******
Sementara di sisi lain.
"Azkha, tunggu!" panggil Azzam saat sudah berada di luar ruangan rawatnya Zahra.
"Enak aja Lo mau pulang! Tugas lokan belum selesai!"
"Kok belum selesai, inikan sudah jam pulang."
"Kok kamu yang mengatur! Bosnya siapa disini hah?"
"Ya Lo sih Bang,!" jawab Azkha, sambil memutarkan bola matanya.
"Nah tuh Lo tahu, jadi gue perintahkan Lo jaga Zahra malam ini, Karena tidak mungkin Naisha yang menjaganya. Lo tahukan keponakan Lo masih kecil jadi nggak boleh jauh dari ibunya." jelas Azzam terdengar tegas.
"Nggak, Nggak, nggak! Gue kagak mau! Siapa dia, harus gue jaga!" cetus Azkha, yang terlihat ia hendak melangkahkan kakinya. Namun terhenti, disaat ia melihat seorang pria berwajah bengis bersama seorang pria yang sempat ia lihat tadi saat dirumah thafidz. Dan dibelakang mereka juga terdapat dua orang bertubuh besar, yang sepertinya ia pengawal dari pria berwajah bengis.
"Eh, Bang, itukan Ayah si gadis itukan?" tanya Azkha, sambil menunjuk keempat pria yang sepertinya sedang mencari-cari sesuatu.
"Ah iya! Cepat kamu hubungi Ridho, untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu!" titah Azzam, dengan mata masih menatap keempat Pria tersebut.
__ADS_1
"Oke Bang!" balas Azkha, yang kemudian ia langsung menghubungi Ridho, salah satu sahabat Azzam.
"Wah, wah, wah.. ini dia yang di cari! Dimana anak gue! Cepat serahkan dia pada gue!" seru salah satu keempat pria itu, yang ternyata ia adalah Ayahnya Zahra.
"Iya Dimana calon istri gue! Sembarang saja Lo membawa calon istri orang!" kata Pria berwajah bengis dan gendut.
"Ape Lo kata? Calon istri Lo?! Woy ngaca woy! Sadar badan sudah bau tanah, mau menikahi gadis yang masih Muda? Mimpi aja Lo sana!" senggak Azkha setelah ia memutuskan sambungannya dengan Ridho.
"Heh! Berarni banget Lo ngatai gue bau tanah hah! Lo nggak tau ya siapa gue ya? Nih kenali gue Jampang jawaranya disini!" seru si pria bengis yang mengaku namanya si Jampang.
"Cih! Sumpah mati gue nggak tanya! Mau Lo jawara kek mau enggak kek! Emang gue pikirin!" cetus Azkha enteng.
"Aah banyak omong Lo ya! Cepat serahkan calon istri gue!" seru Jampang yang terlihat sudah mulai kesal dengan Azkha.
"Kata siapa Lo calon lakinya? Emang dia setuju apa nikah ma Lo hah?!" tanya Azkha yang terlihat tidak takut sama sekali pada Jampang.
"Itu bukan urusan Lo! Emang Lo siapa sih? Mau ikut campur saja urusan gue hah?!" tanya Jampang mulai panas.
"Siapa gue? Kenalin nih gue Azkha, calon suaminya Zahra yang sesungguhnya! Mau ape Lo!" balas Azkha dengan spontan yang sepertinya ia tak menyadari apa yang ia katakan. Azzam yang mendengarnya langsung tersenyum tipis.
"Calon suaminya? Emang Lo sanggup bayar seratus juta untuk membayar hutang bapaknya hah?!" tanya Jampang terlihat menyepelekan Azkha.
"Saya yang akan membayarnya!" timpal Azzam yang akhirnya ikut buka suara.
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏
__ADS_1