
══ ✥.❖.✥ 💠KALAM ULAMA💠 ✥.❖.✥ ══
"Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing-masing, maka tidak usah kau bersusah payah ingin tampak baik di mata orang lain. Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari redha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai"
⚛⚛[ Al Habib Umar bin Hafidz ]⚛⚛
*•◎❅❀❦|| 🌹 ||❦❀❅◎◎❅❀❦|| 🌹 ll ❦❀❅◎•*
Setelah mendapatkan izin dari Dokter Azzam yang terlihat begitu bahagia langsung menuju ke ruangan tempat istrinya di rawat.
Saat ia membuka pintu ruangan itu, ternyata Naisha telah Sadarkan Diri.
"Mas?, kenapa Icha ada disini?" tanya Naisha saat melihat Azzam masuk ke ruangannya.
" Tadi kamu pingsan Sayang, makanya mas membawa kamu ke rumah sakit" jawab Azzam yang langsung menghampiri Naisha diranjangnya dan kemudian Ia pun duduk di tepi ranjang tersebut.
"Oh, Lalu apa kata dokter Icha sakit apa Mas? " tanya Naisha yang begitu penasaran.
"Kamu, tidak sakit apa-apa Nai,"
"Tidak sakit?, lalu kenapa Icha pingsan?"
"Itu karena kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu sayang" ujar Azzam yang kemudian ia menyatukan dahinya ke dahi Naisha.
"Hah?, Benarkah mas?" tanya Naisha dengan mata yang berbinar.
"Iya sayang, kita akan menjadi orang tua, ada buah cinta kita di sini Nai" bales Azzam semabari ia mengusap-usap perut Naisah yang masih rata dengan raut wajah yang nampak bahagia.
"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah, terimakasih mas, kamu sudah menjadi Icha wanita yang sempurna" Ujar Naisha yang tak kalah Bahagianya dengan Azzam, sembari ia memeluk suaminya itu.
"Sama-sama sayang, mas juga berterimakasih padamu karena sudah melengkapi kebahagiaan mas" Bales Azzam yang juga menyambut pelukan sang istrinya serta memberikan kecupan lembut pada puncak kepala Naisha.
"Mas?, bisakah kita pulang sekarang?, Icha nggk suka berada di rumah sakit mas." Ujar Naisha di dalam pelukan suaminya.
"Baiklah sayang, kita akan pulang sekarang, kamu bersiaplah, mas keluar dulu untuk mengurus Administrasinya dulu ya" kata Azzam sembari ia melepaskan pelukannya pada Naisha.
"Iya Mas"
"Ya sudah tunggu sebentar ya" kata Azzam lagi dan ia langsung melangkah pergi meninggalkan Naisha di Ruangan rawatnya.
__ADS_1
Tidak memakan waktu yang lama kini Azzam telah kembali lagi.
"Kamu sudah siap Nai?" tanyanya saat ia baru memasuki ruangan rawat Naisah.
"Sudah mas." bales Naisha lembut.
"Ya sudah ayo kita pulang" Ajak Azzam semabari ia membantu Naisha turun dari ranjangnya.
"Iya Mas" setelah Naisha turun dari ranjangnya Azzam pun langsung menuntun Naisha dan pergi meninggalkan ruangan tersebut, menuju pintu lobby rumah sakit, yang ternyata di depan lobby, sudah ada mobil Azzam terparkir di sana dengan pintu mobil yang sudah di buka oleh Frans.
Setelah kedua bosnya sudah memasuki dan sudah duduk dengan sempurna Frans pun langsung menutupnya kembali setelah itu ia pun memutari mobil menuju pintu mobil bagian depan tempat ia mengemudikan mobil tersebut. setelah semuanya siap ia pun mulai melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang..
*******
Sementara di sisi lain..
Di sebuah rumah yang besar nampak seorang gadis berjalan mengikuti pintu rumah tersebut.
setelah ia berada di depan pintunya ia pun mulai memencet tombol di dekat itu dan tak berapa lama muncul seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Assalamu'alaikum Tante" salam gadis tersebut, saat pintu terbuka.
"Terimakasih Tante Renita " ujar gadis itu yang ternyata Irma.
"Iss kamu kapan sih memanggil tante mamah?" protes wanita yang bernama Renita itu, irma hanya menyengir saja saat mendengar Renita protes.
"Ya sudah ayo masuklah, papa kamu sudah menunggu mu sejak tadi" Ajak Renita sembari ia menarik tangan Irma kemudian membawanya masuk.
" Horeee kak Imah dataaang !" Sorak seorang anak perempuan yang masih kecil dengan berlari-lari menuju ke arah Irma dan saat sudah dekat ia langsung memeluk kaki Irma dengan erat hingga Irma tidak bisa bergerak.
" Salwah jangan menghalangi kak Imah kamu berjalan dong nak" Ujar Renita pada Anak kecil itu yang bernama Salwah
"Awahkan kangen Ama kak Imah mah," kata si kecil Salwah yang masih memeluk kaki Irma.
"Ya sudah ayo ikut kak Imah jumpa papa" kata Irma yang kemudian ia meraih tangan kecil Salwah dan menuntunnya menuju ruang keluarga yang ternyata di sana sudah ada dua Pria yang satunya pria paruh baya dan yang satunya lagi pria muda dan tampan.
"Assalamu'alaikum " salam Irma saat memasuki ruang keluarga itu.
"Wa'alaikumus salam "Jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Irma?, sini nak, kenalkan ini Devta Ardana, Dev kenalkan ini ana om Irma Sundari " Ujar Pria paruh baya tersebut memperkenalkan Antara Irma dengan pria muda yang bernama Devta itu.
"Oh jadi ini, Anak pak Darma Wijaya?, ternyata sangat cantik ya, perkenalkan saya Devta Ardana " Ujar Devta sembari ia mengulurkan tangannya bermaksud ingin berjabat tangan pada Irma.
"Terimakasih atas Pujiannya pak, Salam kenal juga saya Irma " bales Irma, mengabaikan uluran tangan Devta dan ia hanya mengatupkan kedua tangannya saja. " Maaf bukan muhrim" Lanjut Irma lagi, bermaksud agar Devta tidak salah paham padanya.
"Oh iya tidak apa-apa" kata Devta yang akhirnya ia juga mengatupkan kedua tangannya.
"Syukurlah Akhirnya kalian sudah saling kenal, karena yang di tunggu-tunggu telah datang, sekarang mari kita lanjutkan di ruang makan saja ya nak Dev " Ujar Darma Wijaya yang ternyata dia adalah Ayahnya Irma.
"Mari pak, dengan senang hati" bales Devta
"Ayo Irma, ikut makan dengan kami" Ajak Darma lagi pada Irama.
"Imah masih kenyang pah, tadi sebelum kesini Imah sudah makan di rumah." Tolak Irma secara halus karena ia sepertinya sedang tidak ingin berbasa-basi pada mereka.
"Ayolah temanin Nak Dev saja, tidak sopan menolak begitu" paksa Darma yang akhirnya Irma menyerah dan ia pun ikut ke ruangan makan.
Sesampainya di sana mereka pun mulai memakan Makananya, sedangkan Irma hanya minum jus buah saja karena memang ia tak ingin makan.
"Nak, orang tua Dev dan papah bermaksud menjodohkan kalian berdua, dan nak Dev telah menyetujuinya" kata Darma Wijaya setelah, ia menyelesaikan makanannya,
Irma yang sedang meminum jus buahnya, mendengar kata menjodohkan ia langsung tersedak dan itu membuat ia terbatuk-batuk, Devta yang seperti sudah di rancang duduk di sebelah Irma langsung memberikan air putih miliknya pada Irma.
"Minumlah ini, kenapa tidak hati-hati sih Ir" Ujar Devta sembari ia memberikan air putih pada Irma, dan Irma pun menerima sodoran segelas air putih dari Devta dan ia pun langsung meminumnya.
Setelah selesai ia pun menaruh kembali gelas di tangannya tadi seraya berkata " Apa yang papa bicarakan tadi?, siapa yang hendak papa jodohkan?" tanya Irma dengan raut wajah yang nampak tidak suka dengan perjodohan itu.
"Ya kamu Irma, dan papa sudah mendapatkan persetujuan dari bunda kamu, dan hari pertunangannya sudah di tetapkan Minggu depan, dan tidak ada bantahan!" tegas Darma Wijaya karena ia tahu pasti anaknya akan membantahnya.
Mendengar itu Irma tak tak ingin bicara lagi namun dengan raut wajah yang nampak kesal ia langsung bangkit dari duduknya, dan langsung pergi tanpa permisi.
Darma Wijaya nampak marah, melihat kelakuan anaknya yang menurutnya tidak sopan.
"IRMAA!!"
********
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏
__ADS_1