
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈
"Ada saatnya kita menangis, sedih, dan kecewa. Tapi bukan berarti dari situ kita tak bisa kembali bahagia. Justru dari semua ketidak sempurnaan yang terjadi dalam hidup, kita bisa lebih bijak menghadapi hidup. Lalu memiliki kekuatan untuk menciptakan bahagia kita sendiri, dengan cara terbaik yang bisa kita lakukan sendiri."
So Menangislah sepuasnya, namun setelah itu berusahalah untuk kembali tersenyum. Ibarat air hujan yang turun begitu deras. Namun ia akan menghadirkan pelangi yang indah, setelahnya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
"Hiks...hiks..hiks..hiks.."
"Zahra!" sentak Naisha, saat ia melihat Zahra yang sedang menangis, ternyata saat Azzam bercerita tentang Ayahnya, ia ikut mendengarkannya. Sehingga ia begitu sedih, tatkala mendengar Azzam mengatakan Ayah rela memutuskan hubungan mereka, dengan uang Lima ratus ribu sebagai gantinya. Naisha langsung menghampiri Zahra yang masih berada di pembaringannya.
"Kamu sudah bangun Zahra?" tanya Naisha terdengar kaget.
"Hiks..hiks.. kenapa bapak jahat banget sama ana ustadzah? Hiks..hiks..kenapa Bapak begitu tega sama Ana..hiks..hiks.. Apakah ana ini bukan anaknya bapak? Sehingga Dia tega menjual Ana ustadzah? Hiks..hiks ." ungkap Zahra, terlihat ia begitu sedih sekali.
"Sssth, jangan sedih Zahra. Ingatlah apa pun yang terjadi dengan hidupmu saat ini, yakinlah Allah telah merencanakan hal terbaik untuk kamu Zahra. Jika tidak untuk saat ini, sesuai waktu-Nya, kita mendapatkan hal terbaik dari-Nya." ujar Naisha, dengan lembut, sembari ia memeluk tubuh lemahnya Zahra. Yang terlihat ia masih terus menangis.
" Zahra percayalah! Rencana Allah Subhanahu Wa Ta'ala, selalu berakhir dengan kebaikan. Dan jika yang kamu dapatkan belum baik, maka itu bukanlah akhir. Jadi hadapilah ujian ini dengan ikhlas dan sabar, in shaa Allah semua hal buruk yang sedang kamu hadapi akan menjadi indah. Percayalah, Allah punya rencana baik untukmu Zahra." kata Naisha lagi dengan penuh kelembutan. Membuat tangisan Zahra pun terhenti, hanya tinggal isakannya saja yang sesekali lolos begitu saja.
"Hiks.. Aamiin.. terimakasih Ustadzah, in shaa Allah, Ana akan ikhlas Ustadzah hiks." ucap Zahra yang terlihat kini, ada keikhlasan dari raut wajahnya.
"Aamiin, Alhamdulillah.. berarti kamu juga bersediakan menjadi Adik Iparnya Ustadzah sayang?" tanya Naisha, yang terlihat berhati-hati sekali, dalam pengucapannya.
"In shaa Allah, Ustadzah," balas Zahra sambil menundukkan wajahnya, sedikit malu.
"Alhamdulillah, Ustadzah sangat senang mendengarnya." ucap Naisha dan saat bersamaan Azkha pun datang.
"Assalamualaikum," salam Azkha.
"Wa'alaikumus salam," balas mereka secara bersamaan. Sambil semua memandang kearah Azkha, termasuk Zahra, namun dengan cepat ia pun langsung mengalihkan pandangannya. Membuat Azkha, menjadi penasaran terhadapnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah bengong? Mana makanan yang kamu beli?" tanya Azzam, karena ia melihat Azkha malah memandangi wajah pucat Zahra, yang terlihat menundukkan wajahnya.
"Ah maaf, saya lupa ini makanannya Kak" balas Azkha, sembari ia menyerahkan kantongan plastik pada Naisha. Ia juga terllihat canggung, karena ketahuan, mencuri pandang pada Zahra.
"Sabar, tinggal satu malam lagi, setelah itu akan menjadi halal untuk kamu." goda Azzam, sambil ia mengedipkan sebelah matanya pada Azkha.
"Apaan sih bang! Nggak lucu tau!" balas Azkha terlihat jadi salah tingkah. "Eh gue lupa kayak sudah Maghrib deh, tadi saat diluar gue mendengar Adzan." lanjut Azkha, mengingatkan Zahra untuk berbuka puasa.
"Alhamdulillah, ya sudah ayo kita kemesjid," ajak Azzam, pada Azkha. Dan Azkha pun menuruti. "Nai, Mas kemesjid dulu ya, Assalamualaikum" pamit Azzam pada Naisha.
"Iya Mas, Wa'alaikumus salam," bales Naisha. Setelah mendapatkan jawaban mereka pun pergi lagi meninggalkan ruangan Zahra.
"Zahra, kamu berbukalah dan minumlah air putih ini dulu" titah Naisha sambil memberikan gelas berisikan air putih.
"Terima kasih ustadzah," ucap Zahra, seraya ia menyambut gelas yang si sodorkan oleh Anisah. Setelah itu ia langsung membaca doa berbuka, dan kemudian ia pun meminum air putih tersebut. dan dilanjutkan dengan memakan sepotong kue manis.
"Alhamdulillah, sudah Ustadzah, sekarang boleh Ana, sholat?" tanya Zahra.
"Tidak Ustadzah, ana bisa melakukan sholat seperti biasa kok, tubuh ana sudah terasa kuat kok." balas Zahra, sambil ia turun dari pembaringannya. "Tuh Ustadzah ana sekarang sudah sehat kok" lanjutnya lagi.
"Alhamdulillah... Ya sudah ayo kita sholat berjamaah ya? Tapi sebelumnya kita berwudhu dulu yuk," ajak Naisha, sembari tersenyum.
"Mari Ustadzah," balas Zahra, yang kemudian mereka pun langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Dan tak berapa lama mereka pun kembali lagi. Lalu mereka pun melanjutkan sholat berjamaah, dengan Naisha sebagai Imamnya.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka, dan berdoa, Naisha menyuruh Zahra untuk melanjutkan berbukanya agar ia bisa minum obatnya. Zahra yang yang sebenarnya anak yang penurut, ia pun selalu mengikuti apa pun yang dikatakan oleh Naisha, membuat Naisha senang melihatnya.
"Ustadzah, bolehkah Ana pulang kerumah thafidz saja? Maaf Ustadzah, Ana merasa tidak nyaman untuk beristirahat disini, boleh ya Ustadzah?" tanya Zahra, dengan wajah yang terlihat begitu berharap.
"Sabar ya Zahra, kita tunggu suaminya Ustadzah dulu ya?" balas Naisha. Dan saat bersamaan, Azzam dan Azkha pun masuk.
"Assalamualaikum" salam mereka secara bersamaan.
"Wa'alaikumus salam" balas Naisha dan Zahra secara bersamaan juga.
__ADS_1
"Mas, Zahra minta pulang ke rumah thafidz, karena katanya ia tidak bisa istirahat disini, gimana Mas, apakah boleh Zahra pulang?" tanya Naisha saat suaminya sudah mendekati dirinya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti Mas, akan meminta izin pada Dokternya." balas Azzam. " Tapi sebelumnya, saya mau tanya, memangnya kondisi kamu sudah benar-benar mrmbaik Zahra?" tanyanya pada Zahra.
"Alhamdulillah, ana sudah merasa baik Ustadz," balas Zahra.
"Alhamdulillah, berarti besok kamu sudah siap jugakan, kalau adik saya mengijab kamu Zahra?" tanya Azzam. Seketika Zahra melirik kearah Azkha yang kebetulan Azkha juga sedang memandangnya. Yang otomatis mata mereka pun bertemu. Dan spontan jantung keduanya berdegup kencang.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku Zahra? Dan kenapa kalian jadi saling pandang gitu?" tegur Azzam, membuat Azkha dan Zahra langsung berpindah pandangan. "Jawablah Zahra? Apakah kamu bersedia menjadi istri adikku? Yang artinya, kamu bersedia juga untuk diijab qobul besok?" tanya Azzam lagi. Dan nampak juga Azkha, sangat menanti jawaban dari Zahra. Itu terlihat dari ketegangan diwajahnya, karena ia takut kalau Zahra menolaknya.
Degh..degh..degh.. itulah yang dirasakan keduanya, terutama Azkha, ia sampai menahan nafas menunggu jawaban dari Zahra.
"Bismillahirrahmanirrahim, In shaa Allah Ana bersedia Ustadz, " ucap Zahra, dengan wajah yang terlihat tertunduk malu. Mendengar jawaban Zahra, seketika Azkha bernafas lega.
"Alhamdulillah.." jawab mereka serentak.
"Ya sudah kamu bersiaplah, biar aku dan Azkha menemui dokter dulu, semoga dokter mengizinkan kamu pulang." ujar Azzam lagi.
"Baiklah Ustadz, Syukron," balas Zahra masih menundukkan wajahnya.
"Na'am, ya sudah kami pergi Assalamu'alaikum" pamit Azzam
"Wa'alaikumus salam"
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏
__ADS_1