SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
AWAL Perubahan


__ADS_3

Bahagia itu sangatlah sederhana..


Sesederhana engkau tersenyum dan bersyukur atas apa yang Allah berikan.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


Azzam masih terdiam terpaku dengan tangan yang masih memegang pipinya yang habis di cium oleh Naisah tadi. sedangkan Naisha masih sibuk berbincang dengan sang kakak yang sudah lama tak bertemu.


Ternyata bunda Naisha, sejak tadi memperhatikan Azzam yang masih memegang pipinya, ia tersenyum melihat anak mantunya yang sepertinya bingung karena melihat sang istrinya, tapi ia juga kasian karena Naisha jadi mencuekin dia, bunda pun menghampiri Naisha..


"Nak, ajak suamimu kekamar kamu mungkin ia mau istirahat nak" ujar sang bunda agar Naisha mau memperhatikan suaminya.


"Eh, iya bun,..imah juga udah gerah pakai baju ini sejak tadi" Bales Naisha sambil menunjukan baju pengantinnya tadi,


"Ya udah Imah ke kamar dulu ya Bun.. Ayo mas.."Lanjut Naisha lagi, sembari ia merangkul tangan sang suami tanpa canggung sama sekali, membuat Azzam lagi-lagi terkejut akan tingkah istrinya yang terlalu berani menurutnya.


Naisha menarik tangan Azzam sampai ke kamarnya, dan Azzam hanya diam dan mengikutinya saja, sesampainya dikamar..


"Mas istirahat dulu yaa disini" ujar Naisha sambil menduduki Azzam di tempat tidurnya, dan lagi-lagi Azzam hanya bisa pasrah dan menurut apa yang di titahkan oleh sang istri


"Sebentar ya mas Imah mandi dulu gerah banget nih, "Lanjutnya lagi lalu ia berlalu menuju kamar mandi. Setelah masuk kamar mandi, Azzam pun merebahkan tubuhnya ke ranjang milik Naisha..


"Mimpi apa gue tadi malam dalam sekejap gue udah menjadi suami bocah nakal, haiis.." _batin Azzam sembari menepuk dahinya..


Belum sempat Azzam memejamkan matanya, pintu kamar mandi sudah kembali terbuka keluarlah Naisha dengan memakai handuk kimononya dan dengan handuk melilitkan rambutnya di atas kepalanya, nampaklah leher jenjang nan Putih milik Naisha. dia berjalan tanpa canggung menghampiri sebuah lemari sekilas matanya ke arah Azzam.


"Kok belum tidur mas, panas ya kamarnya ?" tanya Naisha sembari menarik handuk yang ada di atas kepalanya dan tergerailah rambut nan hitam dan panjang menutupi seluruh punggungnya..


Azzam terkesima melihat keindahan rambut basah Naisha, karena jarang sekali ia melihat rambut sepanjang itu, hingga mendekati lutut Naisha..


"Mas kok diam?" suara Naisha pun membuyarkan kekagumannya..


"Eh, aku nggak ngantuk nai " Jawabnya salah Tingkah karena terpergok ia melongo melihat rambut Naisha

__ADS_1


"Oh kalau gitu bisa nggak bantu Icha?"


"Apa?" Azzam mengerenyit tak paham melihat Naisha bahkan berani minta bantuannya..


"Hehehe, bantu keringkan rambut Icha " pinta Naisah sambil cengengesan..


"Haiis, bocah ini memang nggak ada waspadanya sama sekali ya, hah nasib beristri kan anak kecil ya gini huft"_ batin Azzam menghembuskan nafas pasrahnya..


" Ya sudah sini " bales Azzam pasrah,


"Asiik.." Naisha pun berlari mendekati Azzam serta menyerahkan hair dryerny ke Azzam lalu ia duduk di depan Azzam.. lagi-lagi Azzam terpelongo melihat tingkah istrinya yang baru beberapa jam ia ijab tak ada rasa canggung atau pun takut terhadap dirinya..


Akhirnya Azzam pun membantu mengeringkan rambut Naisha dengan lembut dan hati-hati sekali karena ia takut bila salah rambut indah itu akan putus.. tiba-tiba terbesit keinginan tahunya mengapa Naisha bisa berubah..


"Nai?"


"Iya mas?"


"Kenapa kamu bisa berubah?" tanya Azzam penasaran.


"dulukan kamu gendut hitam dan..."


"Jelek ya" sambung Naisha melanjutkan perkataan Azzam..


"Hmm" di iyakan Azzam dengan hmm saja.


"Mungkin karena rasa ketakutan Icha kali mas" jawab Naisha Asal.


"Maksud kamu?"


"Iya karena dulu Icha pernah melukai mas Azam, jadi bunda mengirim Naisha ke kota Jt mas, dengan ancaman kalau tidak pergi Icha akan di masukkan penjara karena melukai mas Azam" jawab Naisha Mulai menceritakan Awal perubahan nya


"Lalu apa hubungannya dengan kekurusan kamu?" tanya Azzam yang masih penasaran..

__ADS_1


"Iya adalah mas.. Icha di kirim ke kota Jt di rumah kakek Ustadz, rumah kakek Ustadz itu pondok pesantren mas, jadi mau nggak mau Icha harus mengikuti program pondok, seperti menghafal Al-Qur'an, menghafal hadits, terus ikut kegiatan bela diri, panah, berkuda, serta renang, jadi otomatis badan ihca ya menciut mas" Azzam hampir saja kelepasan tertawa karena melihat Naisha bercerita dengan wajah yang berubah-ubah terlihat lucu menurutnya namun ia menahannya..


"Kenapa mas mau nertawain Icha ya?" tanya Naisha dengan wajah cemberutnya..


"Nggak kok siapa bilang?" bales Azzam dengan wajah di datarin agar ia tak tertawa.


"Terus kenapa kamu memanggil dirimu bisa berubah-ubah, kadang Imah, kadang Icha, kadang Nai?" tanya Azzam lagi yang sudah mulai nyaman ngobrol dengan Naisah.


"Nama Icha, itu dari mas Abhizar, waktu kecil dia sulit manggil Naisha atau isha, ya maklum anak kecilkan cadel kalau ngomong" jelas Naisha santai.


"Kalau Imah?" tanya Azzam lagi..


"Imah, itu kakek mas Azzamkan yang pertama manggil, jadi Imah ikuti deh, tapi semenjak Imah berteman sama ty Irma yang dia juga manggil dirinya Imah, ya udah Imah ganti Nak kalau di depan teman, tapi kalau sama bunda dan Ayah keseringan Icha dan Imah sih mas" jelas Naisha panjang lebar..


"Oh,.. terus kenapa kamu tidak ada rasa cagung atau takut dan malu terhadapku?" Tanya Azzam lagi..


"Iyakan sekarang mas Azam suami Icha,.. dan lagian kita sudah biasa jugakan bermain waktu kecil" bales Naisha apa adanya, membuat Azam hanya manggut-manggut saja..


"Hmm.. terus kenapa kamu tidak menentang dengan perjodohan kita?" tanyanya lagi..


" Ya coba aja mas bayangkan ketika mas kecil hingga dewasa. apapun yang mas Azzam minta pada orang tua mas selalu di turuti kan? dan juga mas Azzam tidak pernah kehabisan kasih sayang dari mereka kan? mereka selau memberi apapun yang kita mau, tanpa meminta imbalan.. lalu apakah masih pantas Kita menentang Permintaannya? dan lagian Permintaannya adalah untuk kebahagiaan anaknya..benar tidak mas?" Perkataan Naisah seperti sentilan bagi Azzam, dan itu membuatnya merasa menjadi anak yang tidak berguna, rasa bersalah dan malu Akhirnya menyelimuti hatinya..


"Astaghfirullah, mengapa selama ini aku tidak berpikir seperti dia, dia begitu dewasa dan penuh dengan keikhlasan, sedangkan aku..haah aku tadi sudah membuat papi sedih" _Batin Azzam berkecamuk merasa bersalah kepada orang tuanya..


"mas kamu kenapa?" tanya Naisha karena melihat raut wajah sang suami nampak sedih.


BERSAMBUNG


รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA


**LIKE......VOTE... KOMENTAR..

__ADS_1


ADALAH PENYEMANGAT BUAT AUTHOR UP LOH..๐Ÿ˜‰**


__ADS_2