
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈
"Terkadang penyebab utama kita tak bisa bahagia adalah karena kita menahan diri kita sendiri untuk bahagia. Menunggu semua berjalan sesuai harapan baru bahagia. Padahal untuk bahagia, cara terbaiknya adalah menjalani semuanya dengan hati yang ikhlas. Tidak menyiksa diri dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tak perlu cemburu pada kehidupan orang lain.
Yuk, Readers kesayanganku kita mulai bahagia saat ini dengan cara kita. Bahagia itu jangan ditunggu tetapi diciptakan, setuju?
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
"Jangan Bang! Jangan hubungi dia Bang!" ujar Azkha terdengar pelan. Namun masih terdengar oleh Azzam.
Azzam langsung tersenyum penuh kemenangan. Dengan posisi masih membelakangi Azkha, Azzam pura-pura tidak mendengar, agar Azkha mau mengulangi perkataannya.
"Kamu ngomong apa sih? Nggak jelas banget sih! Sudah jangan berisik, gue mau menghubungi Nicko!" kata Azzam yang kemudian, ia seperti sedang mencari sebuah nama kontak pencarian. Namun dengan sigap Azkha pun merebut handphone yang sedang berada ditangannya Azzam.
"Gue bilang, jangan hubungi dia! Karena gue yang akan menikahinya!" balas Azkha dengan tegas. Sambil memasuki, benda pipihnya Azzam kedalam saku jasnya Azzam.
"Yakin, Lo mau nikahin Dia?"
"Iya!" jawab Azkha singkat.
"Bukankah tadi Lo bilang, nggak mau menikah tanpa adanya cinta ya? Yang artinya kamu nggak mau menikahi wanita yang tidak kamu kenalinkan?" tanya Azzam, mengulangi perkataan Azkha tadi. Yang membuat Azkha, sedikit malu.
"Ya itukan sebelum Abang menjelaskan, keistimewaan wanita Sholehah Bang. Tapi setelah mendengar penjelasan Abang tadi. Gue jadi berpikir, kalau sebenarnya, di jaman sekarang ini sangat sulit, mendapatkan wanita shalihah Bang. Makanya itu, gue berubah pikiran. Lagian, Mamah juga pernah ngomong cinta akan tumbuh, kalau sering bersamanya. Jadi gue, mau coba mengikuti saran Mamah deh," ungkap Azkha sedikit malu.
"Alhamdulillah.." ucap Azzam lirih. "Jadi benaran nih Lo mau menikahi si Zahra?" tanya Azzam lagi, meyakinkan Azkha.
__ADS_1
"Iya Bang, benaran!" tegas Azkha.
"Dan nggak bakalan kaburkan? Seperti dulu hm?" tanya Azzam, mengingatkan saat Azkha yang pernah kabur dari pernikahannya bersama Naisha dulu. Sehingga Azzamlah yang akhirnya menikahi Naisha.
"Iya In shaa Allah, gue nggak bakalan kabur lagi!" balas Azkha dengan tegas.
"Mau janji sebagai seorang laki-laki?"
"Janji sebagai seorang laki-laki? Maksudnya Apa? Emang gue perempuan apa?"
"Ya Lo kan setengah laki-laki!" goda Azzam sambil tersenyum mengejek.
"Cih! Sekate-kate Lo ngomong Bang!" balas Azkha ketus.
"Yaa kan pengalaman Dek! Soalnya kamukan dulu pernah tuh, seakan mau menjadi pahlawannya Mama, tapi pada akhirnya gue yang terseret. Nah makanya gue nggak mau itu terjadi lagi, dan jadi gue harus benar-benar pastikan keyakinan kamulah." jelas Azzam yang sengaja ingin membuat adiknya itu, tidak mengulangi hal yang sama terhadap Zahra.
"Apaan sih Bang! Iya iya gue janji sebagai laki-laki, nggak bakalan kabur! Jadi jangan hubungi dia lagi! Dan jangan sama gue yang sekarang sama yang dulu deh! Dulu guekan masih muda bang! Di tambah lagi, Lo dulu belum menikah, masa gue udah nikah sih? Makanya itu gue kabur! Kalau sekarang berbedalah, apa lagi Ziah adik gue juga udah nikah, makanya gue udah berani bang!" tutur Azkha terdengar begitu tegas.
Melihat keyakinan Azkha, Azzam pun tersenyum penuh rasa syukur."Alhamdulillah.. gue percaya kok Dek. Kamu tidak akan mengulangi kebodohanmu itu lagi. Ya sudah ayo kita beritahu kakak ipar kamu dan calon istri kamu, baru setelah itu mengabarkan Papa dan Mama, " ajak Azzam sembari ia merangkul pundak adiknya itu, lalu keduanya pun memasuki ruang rawat Zahra.
"Assalamualaikum," ucap Azzam saat mereka sudah berada di dalam.
"Wa'alaikumus salam," jawab Naisha seorang diri, karena sepertinya Zahra masih tertidur.
"Loh, Zahra tidur ya Nai?" tanya Azzam setelah ia melihat ke tempat tidurnya Zahra.
"Iya Mas, oh iya Mas bisa minta tolong, belikan sesuatu yang manis nggak? Soalnya Zahra puasa, dan dia tidak mau membatalkan puasa itu tadi" kata Naisha menceritakan tentang Zahra yang berpuasa.
__ADS_1
"Maa shaa Allah, kamu dengar itu Azkha? Disaat dia sakit pun ia tak mau puasanya terputus. Jadi kamu seharusnya bersyukur bila memilikinya. Dan sekarang pergilah, belikan sesuatu yang manis-manis untuk calon istrimu itu" ujar Azzam, entah mengapa hatinya Azkha, menjadi senang saat, ia mendengar Azzam menyebutkan calon istrinya.
"Baiklah Bang, kalau begitu gue pergi ya Assalamu'alaikum," pamit Azkha, yang terlihat bersemangat.
"Wa'alaikumus salam" balas Naisha dan Azzam secara bersamaan. Setelah mendapatkan jawaban salamnya, Azkha pun langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan Zahra.
"Calon istri? Apa maksudnya Mas?" tanya Naisha, setelah kepergian Azkha. Ternyata ia tadi sempat kaget saat Azzam berkata Calon istri pada Azkha.
"Iya Nai, tadi Ayah Zahra datang bersama Jampang, seorang rentenir, yang mau menjadikan Zahra sebagai istrinya. Dan karena melihat, calon suaminya yang terlihat sangat buruk, Azkha terpancing hingga ia mengatakan kalau dirinya calon suaminya Zahra," jelas Azzam.
Azzam Akhirnya menceritakan semuanya, tentang pertemuannya, saat ia bertemu dengan Ayahnya Zahra dan Jampang, bahkan ia juga menceritakan permintaan Ayahnya Zahra, yang meminta uang sebanyak Lima ratus juta, sebagai ganti rugi karena ia pernah mengurus Zahra dari kecil hingga besar. Naisha yang mendengarnya menjadi geram.
"Astaghfirullah, kok ada ya orang tua yang begitu kejam pada anaknya?" ujar Naisha begitu kesal setelah mendengar cerita dari suaminya. Dan saat bersamaan terdengar suara isakan orang menangis, dan seketika Azzam dan Naisha pun mengarah ke tempat tidurnya Zahra.
"Hiks...hiks..hiks..hiks.."
"Zahra!"
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏
__ADS_1