SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
INGIN MENIKAHI KAMU.


__ADS_3

ೋ๑🤍 MUTIARA HIKMAH🤍๑ೋ


"Jika seseorang menyadari bahwa dirinya hanya seorang hamba, maka dia akan belajar mengerti, bukan di mengerti. Bersyukur dan menerima segala nikmat-Nya adalah jawaban dalam hidup. Selalu memandang Allah dalam setiap nafas, karena setiap nafas yang keluar dari hidung kita itu adalah harta dan nikmat Allah yang paling mahal."


___sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ___


ೋ๑ೋೋ๑🤍๑ೋೋ๑🤍๑ೋೋ๑ೋ


Jantung Azzam berdegup kencang tatkala mendengar kata maaf dari sang Dokter, hingga pikirannya langsung tertuju pada sang Mama yang bahkan terlintas olehnya wajah sang Mama saat mengeluarkan air matanya di saat ia sempat berdebat padanya.


"Soal apa Dok?!, Maaf soal apa?!, cepat katakan Dok?!" Tanyar Azzam sedikit membentak dan tubuhnya juga sudah bergetar dan di saat bersamaan Rayhan datang menghampiri mereka.


"Zam Lo kenapa?." Tanya Reyhan saat melihat tubuh Azzam bergemetar hebat.


" Katakan Han, apa yang terjadi dengan nyokap gue cepat katakan Hah?!, mengapa dokter ini meminta maaf pada kami ada apa dengan nyokap gue?!" tanya Azzam dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca.


Raihan langsung memandang dokter yang sedang berdiri di sampingnya dan memberikan kode agar dia yang memberitahukan yang sebenarnya, dan sang dokter pun mengangguk lalu ia pun pergi meninggalkan mereka, sedangkan Reyhan kembali beralih kepada pada Azzam.


"Tenangkan diri lo Zam, karena nyokap lo gue yang nanganin dan Alhamdulillah operasinya berhasil, dan beliau juga sudah melewati masa kritisnya." Jelas Rayhan, membuat Azzam sedikit lega.


"Alhamdulillah, lalu kenapa Dokter tadi meminta maaf?." Tanya Azzam masih penasaran.


"Ini soal Mang Udin supir Bokap Lo Zam, beliau meninggal dunia." Jawab Reyhan.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un." Jawab Azzam, Azhka dan Aziah secara bersamaan.


"Han gue minta tolong, Lo uruskan jenazah dengan baik ya," Ujar Azzam pada Reyhan, ia juga terlihat sedih, karena ia mengenali sopir Ayahnya itu sedari ia kecil, makanya ia sudah mengenal dekat pada sang Sopir.


"Baik Zam, Lo tenang aja, gue pasti akan mengurus semuanya." Balas Reyhan.


"Thanks bro." Kata Azzam, dan di balas oleh Reyhan dengan acungan jempol.

__ADS_1


Lalu Azzam beralih pada Azkha. " Azkha, Abang minta tolong kamu pergi pulang dan kabarkan pada Bi Ijah dan bila ia ingin membawa jenazah suaminya ke kampungnya, maka kamu bantu dia ya." Kata Azzam pada Azkha.


"Baiklah Bang." Balas Azkha singkat, lalu Azkha dan Reyhan pun berlalu pergi meninggalkan kan Azzam dan Aziah.


"Ayo dek, kita keruangan Mami dan Papi." Ajak Azzam pada Aziah.


"Iya Bang." Balas Aziah singkat lalu mereka pun berjalan menuju keruang rawat orang tua mereka, yang kebetulan mereka di tempatkan di dalam satu ruangan.


Sesampainya di dalam ruangan Azzam terlihat sedih melihat kondisi kedua orang tuanya yang terlihat lemah tak berdaya, lalu pun ia berjalan menuju pembaringan Mamanya terlebih dahulu, dan kemudian ia pun duduk di kursi yang berada di samping pembaringan tersebut. Sejenak ia memandangi wajah wanita yang telah melahirkannya itu, sambil ia meraih tangannya..


"Mah, maafin Azzam ya, karena belum bisa memberikan Mama kebahagiaan dan Maaf, kalau Azzam selalu melawan pada Mama." Ujar Azzam dengan mata yang sudah berkaca-kaca " Tapi bukan maksud Azzam untuk melawan ke Mama, tapi pada saat itu, Azam hanya malu, karena melihat sikap Mama yang hanya ingin menang sendiri, tapi Azam tetap sadar kok, kalau Mama begitu hanya ingin mendapatkan perhatian dari Azam, Maaf ya Mah." Lanjutnya lagi yang kini Air matanya sudah lolos begitu saja, ia pun menyembunyikan Wajahnya di lengannya yang terletak di samping pembaringan sang Ibu.


"Kamu nggak salah kok Nak, Mama yang memang terlalu egois." Azzam tersentak kaget saat mendengar suara lemah sang Ibunya, di tambah lagi tangannya yang kini sudah berada di kepala Azzam.


"Mama?, Alhamdulillah Mama sudah sadar, sebentar ya Mah, Azzam panggil Reyhan." Kata Azzam yang terlihat senang saat melihat ibunya telah membuka matanya. dan dengan semangat ia pun mencari Reyhan sahabatnya itu. Dan tak berapa lama Azzam pun kembali lagi dan kali ini bersama Reyhan


"Assalamu'alaikum Tante." Salam Reyhan saat ia sudah berdiri di samping pembaringan Raniah.


"Kita periksa dulu ya Tante." Ujar Reyhan sembari ia mengeluarkan Stetoskopnya dari Katong jas dokternya.


"Silahkan Nak." Balas Raniah, dan Reyhan pun memeriksa Raniah.


"Syukurlah sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Tante hanya menunggu proses pemulihan saja kok, banyak-banyak istirahat ya Tante." Ujar Reyhan setelah mamperiksa Raniah.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu." Ujar Azzam terlihat lega


"Oh, iya Han, kenapa bokap gue belum sadar juga?" Tanya Azzam sembari iia menoleh ke pembaringan sang Papa yang bersejajar pada pembaringan Raniah.


" Bentar gue lihat dulu keadaannya." Kata Reyhan yang kemudian ia pun menghampiri pembaringan Hendrawan. " Maaf ya Ziah, bang Ehan periksa Papa Ziah dulu Oke." Kata Reyhan pada. Aziah yang kebetulan ia berada di kursi sebelah pembaringan sang Ayah.


"Cih, Ehan?, sejak kapan Lo sok manis di depan Adik gue!" Protes Azzam ketus.

__ADS_1


"Ya elah bro gitu aja di protes, emang nggak boleh ya gue pdkt ma adik Lo? " Tanya Reyhan sembari memeriksa tubuh Hendrawan yang masih memejamkan matanya.


" Langkahin dulu mayat gue!." Kata Azzam yang masih ketus.


"Waduh!, sadis banget sih Lo jadi orang, kan kalau gue sama adik Lo, guekan jadi adik ipar Lo bro." Kata Reyhan sembari ia mengedipkan matanya pada Azzam.


" Eh, apaan sih bang Reyhan sama bang Azzam orang Papa masih belum sadar, kalian malah berdebat sih!" Tegur Aziah terlihat Kesal melihat dua lelaki yang berada di dekatnya.


" Ya Maaf Ziah, habis Abang kamu sih, bang Ehankan berniat baik." Kata Reyhan sembari ia kembali memasuki alat Stetoskopnya kedalam kantong jas Dokternya.


"Kalau Papa sih iyes yes aja." Mendengar suara lemah dari seorang pria membuat ketiganya menoleh ke arah Hendrawan. Membuat ketiganya langsung terpelongo saat mendengar perkataan Hendrawan.


"Mama juga iyes juga deh, siapa sih yang nolak mempunyai menantu seorang dokter." Sambung Raniah, membuat wajah ketiganya sama-sama beralih ke arah Raniah.


"Apaan sih Papa dan Mama, Ziah masih baru kuliah, ngomongnya kok pada ngelantur sih!" Ujar Aziah yang terlihat kesal.


"Iyakan nggak papa dek, nanti setelah menikah kamu tetap kuliah, banyak kok dek yang seperti itu, setelah menikah mereka tetap kuliah." Kata Reyhan yang terlihat bersemangat setelah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tuanya Azzam.


" Benar tuh kata Reyhan, Mama dulu juga gitu waktu nikah sama Papa, iyakan Pah." Sambung Raniah, yang terlihat senang melihat Anaknya di sukai oleh seorang Dokter.


" Iya Nak, Papa dulu menikahi Mama di saat Mama masih kuliah, dan setelah kami menikah Mama melanjutkan kuliahnya." Sambung Hendrawan.


"Iiss, kok jadi membicarakan soal menikah sih!, kaliankan masih pada sakit!, jadi lebih baik fokus dalam pemulihan aja deh!" Ujar Azia yang terlihat kesal.


"Tapi dek, Niat Abang baik ingin menikahi kamu." Kata Reyhan, yang tidak ada rasa canggung sama sekali pada keluarga Sahabatnya itu.


" AU akh!, maaf bang Ziah sudah punya pacar, jadi jangan bermimpi untuk menikah dengan Ziah!." Ujar Aziah ketus. " Ziah pulang Ma, Pah!" Lanjutnya lagi yang kemudian ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Ruang rawat kedua orang tuanya.


____________


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😘.

__ADS_1


__ADS_2