
◎❅❀❦🏵MUTIARA HIKMAH 🏵❦❀❅◎
"Berharap berjodoh dengan orang yang kita harapkan tapi akhirnya Allah memisahkan dengan suatu alasan, kecewa pasti ada, sedih pasti menyapa, tapi apalah daya jika Allah berkata “Bukan dia yang baik untukmu”, maka mau menangis darah sekalipun tidak akan Allah jodohkan.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
⊱◈◈◈⊰⊱◈◈◈⊰⊱◈◈◈⊰⊱◈◈◈⊰⊱◈◈◈⊰⊱◈◈◈⊰
"Uhm, Panas..uhm" gumam Irma, ia menggeliat di atas pangkuan Frans, dan bahkan ia mulai menciumi lehernya membuat Frans kaget.
"Astaghfirullah, kamu kenapa Irma?" tanya Frans yang terlihat bingung akan tingkah laku Irma
Mendengar pertanyaan Frans, Azzam pun langsung melirik kaca spionnya lalu ia pun mengerenyit, saat melihat Irma yang tubuhnya bergeliatan itu.
"Gawat, sepertinya si bajingan itu sudah memberikan Irma obat perangsang Frans." Ujar Azzam, membuat Frans kaget.
"Sialan!, dasar bajingan!," Geram Frans, di saat bersamaan Irma terus meraba tubuhnya menciumi dirinya membuat Frans bingung menghadapi Irma.
"Eh, tapi ini ngomong-ngomong gimana ngatasinnya Zam, tolongin gue, nih perempuan ganas banget sih!" Seru Frans yang semakin bingung melihat Irma yang terlihat semakin berhasrat.
"Hahaha" Azzam terkekeh melihat temannya yang terlalu polos, maklum Frans pun sebenarnya sama, sama Azzam yang nggak pernah berpacaran, dan dia juga sama dengan Azzam selalu dingin pada wanita, namun tidak separah Azzam dulu yang memang membenci Wanita.
"Eh, kok Lo malah ketawa sih, bukan bantuin gue cari solusi untuk mengatasinya!" Ujar Frans kesal, karena malah di tertawain oleh Azzam.
"Ya mau gimana lagi, cara mengatasinya ya Lo nikmatin aja bro, karena memang setau gue tidak ada obatnya terkecuali Lo harus gaulin dia," Ujar Azzam membuat mata Frans membulat.
"Apa!, gila aja Lo!, dia bukan halalnya gue tau!, main suruh gaulin aja, sembarangan banget sih Lo!" ujar Frans yang semakin kesal, di tambah lagi Irma yang semakin sulit ia atasi
"Ya makanya, secepat Lo halalin dia."
"Hah!, ngomong asal jeplak aja Lo, emang gampang apa nikah?, udah jangan banyak omong, cepatkan saja jalan mobil Lo ke rumah sakit, siapa tahu Dokter bisa ngatasinnya" kata Frans yang mulai putus asa Melihat kelakuan Irma.
"Ukh, tolongin aku, panaas." rancau Irma yang masih bergeliatan di tubuh Frans.
"Aduuhkan, bro cepat, gue Udah nggak kuat nih" kata Frans yang sangat berusaha menjauhkan wajahnya Irma dari lehernya.
"Nggak ada jalan lagi Frans!, kerumah sakit juga percuma, jadi kita harus ke rumah orang tuanya Sekarang!" kata Azzam, yang kemudian ia pun mempercepat laju mobilnya. hingga tak berapa lama mobil pun memasuki gerbang rumahnya Irma.
__ADS_1
"Eh, ini rumah siapa?" tanya Frans polos.
"Ya rumah mertua Lo!,"
"Apa?!, kapan gue punya mertua?"
"Udah jangan banyak omong cepat turun!" Titah Azzam sembari ia membuka pintu mobilnya dan ia pun turun, setelah itu ia pun membantu membukakan pintu untuk frans, dan akhirnya Frans pun ikut turun, sambil menggendong Irma.
"Apa kita nggak papa nih, membawa Irma dalam keadaan begini?" tanya Frans yang nampak ragu untuk memasuki rumah Irma.
"Udah Lo tenang aja, karena anak buah gue sudah mengatur semuanya" kata Azzam santai.
"Apa?, maksudnya apa?" tanya Frans yang tampak bingung.
"Udah Lo diam saja!" kata Azzam yang kemudian ia pun memasuki rumah Irma yang kebetulan terbuka.
"Assalamu'alaikum, Om Darma, Tante Renita?" Salam Azzam.
"Wa'alaikumus salam, pak Azzam" bales Seorang wanita bersama seorang pria paruh baya, yang sudah pasti orang tua Irma yaitu Darma dan Renita ibu tiri Irma.
"Astaghfirullah, jadi ini kelakuan Devta, yang membuat anakku seperti ini?" tanya Darma Wijaya, yang terlihat ada kemarahan di raut wajahnya.
"Oh, baiklah, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Darma yang akhirnya kemarahannya berubah menjadi rasa cemas.
"Om, percayakan sama saya?" tanya Azzam dengan wajah yang serius.
"Iya saya percaya pada pak Azzam" bales Darma
"Panggil saya Azzam saja Om,"
"Baiklah, nak Azam"
"Baiklah, begini om, tapi sebelumnya om berkenalan dulu pada teman saya ini, sekaligus Asisten saya Frans" kata Azzam, " Frans, bawa Irma ke kamarnya dahulu" titah Azzam lagi ia hampir saja lupa kalau Irma masih di gendong Frans.
"Eh, iya, maaf Tante di manakah kamar Irma?" tanya Frans pada Renita.
"Oh iya, ayo nak, saya antar" kata Renita yang kemudian ia pun menunjukkan kamar Irma yang berada di lantai dua, yang sebenarnya kamar itu tidak pernah ia tempati karena Irma lebih suka tinggal di rumah tempat orang tua kandungnya sebelum orang tuanya bercerai, karena ia tak mau memilih salah satu dari mereka akhirnya, ia memilih untuk tinggal sendiri di rumah lama Darma dengan di temani dua pembantunya.
__ADS_1
Setelah Frans sampai di kamar Irma ia pun langsung membaringkan tubuh Irma di ranjang, dan setelah itu ia pun hendak meninggalkannya namun tangannya malah di tarik oleh lagi oleh Irma.
"Jangan pergi, uhm, tolong aku, panas uhm" kata Irma yang suaranya sudah bergetar, hingga Frans tak sampai hati. namun ia tak bisa membantunya.
"Maaf Irma, aku belum bisa membantumu, kamu tunggulah di sini dulu ya" kata Frans, sembari ia melepaskan tangan Irma yang mencengkram tangannya. " Tante tolong pegang Irma ya, " lanjutnya lagi pada Renita.
"Iya nak, pergilah" bales Renita, sembari ia memegang Irma.
"Jangan pergi!!" pekik Irma dengan wajah yang sudah merah, Frans yang melihat itu sebenarnya harinya terasa sakit, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, dan akhirnya ia pun meninggalkan Irma yang menjerit-jerit seperti kesakitan.
Sementara Frans yang sudah keluar dari kamar Irma langsung mempercepat langkahnya agar ia tak mendengar jeritan Irma yang baginya sangat menyakitkan, setelah ia menuruni anak tangga ia pun langsung menuju ke ruangan tamu yang ternyata di sana sudah ada beberapa orang yang baru saja datang.
" Maaf lama, " kata Frans yang langsung menyalami mereka semua yang baru datang.
"Apakah ini yang mau menikah?" tanya salah satu pria paruh baya yang memakai peci, membuat Frans terkejut.
"Eh, apa maksud bapak itu Zam?" tanya Frans setelah duduk di samping Azzam, namun tak di Jawab oleh Azzam.
"Iya pak, dia yang mau menikah" Ujar Darma mengiyakan pertanyaan pria berpeci itu.
"Eh, apa maksudnya ini pak?" tanya Frans yang terlihat bingung.
"Nak Frans, bapak mohon padamu, Nikahilah Irma nak, karena selama ini ia sudah menderita, saya yakin kamu pasti bisa membahagiakannya " ujar Darma sembari mengatupkan kedua tangannya, ia nampak tulus memohon pada Frans, membuat frans sangat terkejut akan perminta dari ayah Irma.
Frans pun langsung menatap wajah Azzam, seperti ingin bertanya, apa yang harus ia lakukan, tapi mulutnya seperti terkunci hingga ia tak bisa mengeluarkan kata-katanya.
Azzam yang melihat itu seperti paham dengan tatapan mata Frans.
"Ikutilah kata hatimu Frans, dan ingatlah kondisi Irma saat ini Frans" Ujar Azzam mengingatkan Frans.
Frans diam sesaat ia nampak bingung harus mengambil keputusan apa, ia pun memandangi ayah irma yang terlihat sangat berharap padanya, bahkan semua orang yang berada di ruangan itu juga menatapnya karena menunggu jawaban darinya..a
"S.saya..sa, saya..."
Akh sudahlah bersambung saja..
Lama banget si Frans tinggal jawab aja.🙄
__ADS_1
°°°°°°°°
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉. SYUKRON 🙏😊