Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 100


__ADS_3

Tian membuka pintu restoran Yamada bersama dengan Shima, Lusi dan Rio. Begitu melihat Shima, Shila langsung memburunya lalu memeluk tubuhnya. Shima tampak terkejut dengan perlakuan adik semata wayangnya itu.


"Terima kasih kak, terima kasih" Ucap Shila sambil menyusut air matanya.


"Ada apa?" Shima masih terlihat bingung.


"Terima kasih sudah membelikan ku restoran ini"


Mata Shima terbelalak mendengar ucapan Shila, pandangannya langsung tertuju pada Tian yang sudah duduk bersama keluarganya di meja yang sudah dipesan. "Jadi ini maksud dia membeli restoran ini" Batinnya.


"Sayang, sini!" Panggil Tian.


"Oke, Shila berterima kasihlah pada Kak Tian, karena dia yang membelikanmu restoran ini"


Shila mengangguk. Ia menggandeng shima lalu mengajaknya ke meja yang sudah dipesan. Shima duduk disebelah Tian sedangkan Shila duduk disebelah ibunya.


Manager restoran segera menghampiri meja sambil membawakan menu andalan restoran itu.


"Selamat datang keluarga tuan Kim, silahkan mencoba menu andalan di restoran kami" ucap sang manager. "Silahkan memberikan kritik dan saran jika dirasa ada yang kurang dengan pelayanan dan menu restoran kami" lanjutnya.


"Terima kasih untuk sajian menu istimewa nya, tolong bantu adik saya mengelola restoran ini" Jawab Tian.

__ADS_1


"Kami akan berusaha keras memajukan restoran ini, tuan Kim. Terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk membantu Bu Shila mengelola restoran ini"


"Senang bisa bekerja sama dengan anda"


Sang manager membungkukkan badannya lalu kembali ke dapur untuk briefing bersama para pegawai dan koki.


"Terima kasih kak Tian, aku masih gak percaya sampai aku bingung mau berkata apa" Ucap Shila.


"Kamu cukup sesekali datang ke restoran untuk mengechek biar pak Andre yang memberi laporan harian padamu, Lebih fokuslah pada kuliahmu" Kata Tian.


Shila mengangguk mantap. Sedang Shima masih berkali-kali melayangkan lirikan mautnya pada Tian yang dibalas dengan senyuman termanis oleh Tian.


"Sayang, aku mau bicara" Shima merebahkan tubuhnya disamping Tian.


"Bicara apa?"


"Kenapa membelikan Shila restoran? Dia kan masih kuliah, belum bisa mengelola sebuah restoran"


"Justru biar dia belajar. Biarlah dia menjadi ownernya. Memang kamu tega membiarkan adikmu bekerja paruh waktu sambil kuliah?"


"Tapi, membelikannya sebuah restoran terlalu berlebihan, sayang"

__ADS_1


"Aku menikahimu artinya menikahi keluargamu juga. Anggaplah kado untuk Shila karena kerja kerasnya selama ini. Selama hidup kalian sudah cukup menderita. kini tugasku adalah membahagiakan kalian"


"Jangan bilang kau juga membelikan ibuku sebuah butik?"


Tian menahan senyumnya "Gadis pintar, tau saja apa yang dipikirkan suaminya. Sudah ku belikan, tapi sedang direnovasi. mungkin bulan depan baru siap"


"Apa?" Mulut shima menganga tak percaya dengan kelakuan suaminya "Kamu serius?"


"Serius dong! besok kita kesana ya sekalian ajak ibu. Ibu dan Shila suruh pindah ke apartemen saja sayang, apartemen mu kan kosong. Aku sudah siapkan mobil dan supirnya yang akan standby mengantar Shila dan ibu jika ingin bepergian. Satu mobil gak apa-apa kan?"


Mulut Shima tambah menganga lebar. Ia berulang kali mencubiti dada Tian.


"Sakit sayang" Rintih Tian memegangi tangan Shima yang gencar mencubitinya.


"Aku mau memastikan ini mimpi atau bukan"


"Nih, aku mau buktiin kalau ini kenyataan" Tian menarik dagu Shima lalu ******* lembut bibirnya. "Udah percaya kalau ini nyata?" Lanjutnya.


Shima terdiam. Dipeluknya tubuh kekar Tian "Terima kasih untuk semuanya, sayang" Tak terasa air mata bahagia meleleh dari pelupuk matanya. Ia begitu terharu dengan semua kasih sayang Tian, terlebih kepada keluarganya.


Tian mengusap air mata di pipi shima dengan tangannya. "Jangan menangis! Aku masih belum selesai membuktikan kalau semua ini nyata" ucapnya di iringi seringaian dan tangan nakalnya yang perlahan melepas tali baju tidur Shima. Dan Shima kini sudah mengerti apa arti seringaian suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2