
"Aku dibawah"
Sebuah pesan masuk ke ponsel Shima dan membuatnya sontak membelalakkan matanya. Ia segera berlari ke arah jendela. Terlihat mobil sport berwarna merah telah terpakir di pinggir jalan.
"Pulang yuk!" Ajak Novi.
"Oh.. oke" Shima segera kembali ke meja kerjanya. Dibereskannya semua peralatan yang terlihat berserakan di atas meja lalu dimasukkannya kedalam tas selempangnya.
" Shima, aku nebeng sampai Mall ya.." Pinta Anton.
"Kau bawa saja motorku"
"Lalu kau naik apa?"
"Aku mau naik bus saja"
"Hah? naik bus? ada motor untuk apa naik bus? aku cuma sampe mall depan doang kok.. mau belanja"
"Gak apa-apa. Bawa aja. aku mau cari angin segar sebentar"
"Okelah.. mana kuncinya?"
Shima menyerahkan kunci motornya pada Anton. Anton berlalu sambil melambaikan tangan. Shima bergegas turun dan berlari menuju mobil. Semoga tak ada yang melihatnya. Shima langsung memukul bahu Tian dan disambut dengan senyum meringisnya.
"Sudah kubilang jangan ke kantor! apalagi naik mobil ini, kamu gak tahu mobilmu ini terlalu mencolok dan mengundang banyak perhatian orang"
"Aku tidak punya mobil lagi selain yang ini. Ya sudah besok kita beli mobil yang lebih sederhana ya"
"Bukan itu maksudku! Bagaimana kalau teman-temanku tahu soal kamu"
__ADS_1
"Biarlah, toh lambat laun mereka akan tahu juga"
"Tapi tidak sekarang, Tian. Sidang kedua ku kan baru di gelar lusa"
"Aku sudah tak bisa menahan rindu, Shima"
"Dua hari yang lalu kita habis ketemu, Tian. kaya gak ketemu sebulan aja"
"Ayo cepat menikah denganku! Biar aku tak terus-terusan mengganggumu"
"Tunggu satu tahun lagi"
"Huh! Sekalinya dapat wanita idaman. Aku harus menunggu satu tahun. Apa wanita itu lupa satu tahun kedepan usiaku sudah 33 tahun. Makin tua saja aku" Dengusnya.
Shima menghiraukan omongan Tian. Ia segera mengalihkan pembicaraan tak ingin mendengarkan rengekan manja tuan mudanya itu.
"Ada apa kesini?"
" Apa tidak bisa di tunda lusa rindunya?"
Tian menggeleng " Rindu itu rasanya sakit sekali, dan obatnya hanya kamu. Untung aku jatuh cinta setelah sukses, tak bisa ku bayangkan aku jatuh cinta saat muda. Bisa-bisa rusak semua pekerjaanku"
Semenjak jatuh cinta, Tian banyak kehilangan konsentrasi untuk pekerjaannya. membuat pak Yohan sibuk menghandle perkerjaan Tian.
" Pasti pak Yohan yang kamu tumbalkan ya?"
Tian kembali mengangguk "Aku harus memberikan bonus yang besar padanya. Aku terlalu banyak merepotkan nya" Ia terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
" Bukan cuma bonus. tapi cuti juga. bisa-bisa pak Yohan benci padaku karena bosnya lebih mementingkan pacarnya daripada perusahaannya"
__ADS_1
"Kau bukan pacarku tapi istriku. Aku bukan abege yang masih harus pacaran"
"Tapi kelakuanmu memang mirip abege yang baru merasakan cinta monyet Tian" ledek Shima sambil menahan tawanya.
"Sam, kita ke apartemen ya" Ucap tian.
"Bukannya mau antar aku pulang?"
Tian menggeleng. " Temani aku makan malam dulu, baru ku antar pulang"
Shima membuang nafas berat. Ia benar-benar tak bisa menghindar dari Tian. Dulu saat bersama Darren, Shima tidak serepot ini. Mereka hanya bertemu satu atau dua Minggu sekali saat keduanya senggang. Sedang Tian menemuinya hampir setiap hari, paling lama hanya berjarak dua hari.
Tian membuka jasnya lalu melemparkannya ke sofa. Ia menggulung tangan kemejanya hingga lengan lalu bersiap pergi kedapur.
"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Shima. Matanya masih berkeliling mengamati satu-persatu desain interior ruangan itu. Ini pertama kalinya Shima masuk kedalam apartemen Tian. Biasanya Tian yang selalu datang ke apartemennya.
"Shima, tolong bukakan dasiku" Pinta Tian. tangannya terlihat berlumuran dengan kecap.
Shima menghampirinya dan membantunya melepaskan dasi yang masih terikat di leher Tian. Perlahan Tian makin mendekatkan tubuhnya pada Shima, menundukkan wajahnya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Shima. Dengan sigap Shima menyumpalnya dengan dasi yang sudah dilepasnya.
"Cepat selesaikan masakmu!Jangan macam-macam!" Shima menjulurkan lidahnya ke arah Tian dan kembali duduk di sofa sambil menonton televisi.
Tian hanya tertawa renyah. Usahanya kali ini gagal lagi "Awas kau Shima" Ancamnya sambil tertawa.
"Shima, bantu aku bawakan ke meja makan" Lagi, Tian mencoba rencana kedua.
Shima kembali menghampirinya. "Apa lagi?" Tanyanya waspada.
"Taruh masakan ini di meja!" Tian memberikan sepiring daging panggang ditangan kanannya dan semangkuk salad ditangan kirinya. Begitu tangan tangan Shima penuh dengan piring, Tian mendaratkan bibirnya pada bibir Shima. Kali ini Shima mati kutu. kedua tangannya penuh dengan piring, tak mungkin kan ia melempar tuan muda manja ini dengan semangkuk salad, baginya melemparkan slada ke wajahnya saja sudah cukup menakutkan.
__ADS_1
"Bahkan keterampilanmu bukan seperti orang yang pertama kali pacaran, tuan muda Kim"
Tian hanya tersenyum sambil mengambil piring dan mangkuk ditangan Shima lalu membawanya ke meja makan.