
Darren membanting tubuhnya di sofa. Pandangannya berputar menyusuri ruangan kantornya. Entah apes atau beruntung bisa bertemu dengan mantan istrinya ditambah dengan pria yang berbeda. Apakah status janda menjadikannya semurah itu? Hingga ia rela di kencani beberapa pria kaya yang berbeda. Tiba-tiba ia teringat dengan foto-foto dimajalah yang kemarin dilihatnya. Apakah tuan Kim sudah mencampakkannya? Atau dia melakukan itu demi mendongkrak popularitas nya?
Tiba-tiba terlintas ide di kepalanya. Bagaimana jika tuan Kim tahu kalau Shima berkencan dengan pria lain? Pasti fatal akibatnya. Tapi sebelum memberitahukan masalah Shima, ia harus terlebih dahulu memastikan tentang hubungannya dengan tuan Kim.
Seulas seringai licik tersungging di bibirnya. Tak sabar menunggu Shima kembali berlutut di kakinya setelah dicampakkan oleh tuan Kim. Apa yang di harapkan dari seorang janda sepertinya? Jika publik tahu ia sudah di campakkan oleh tuan Kim. Kalaupun publik tidak mengetahuinya, hidupnya akan terpuruk karena sudah berurusan dengan tuan Kim.
Tak sabar Darren ingin bertemu tuan Kim saat rapat nanti. Tak bisa ia bayangkan bagaimana ekspresi tuan Kim begitu tahu kebenaran tentang Shima. Ia akan menunggu saat-saat Shima menginginkan kembali padanya. Karena satu-satunya orang yang akan menerimanya kembali hanyalah Darren.
################################
Lisa mematut diri didepan cermin. Memandangi wajah polosnya tanpa make up. Semenjak menjadi ibu rumah tangga biasa, ia hampir tidak pernah menyentuh peralatan make up nya. Badannya pun terlihat membesar dua kali lipat. Ia mencoba berputar memandangi tubuh yang dulunya sintal dan kini menjadi tambun itu. Benar-benar jauh dari kata menarik. Andai ia tidak hamil, ia pasti sudah mati-matian diet untuk menjaga bentuk tubuhnya.
Sebentar lagi Darren akan pulang. Ia memutuskan segera mandi dan memakai baju yang seksi. Segera ia hiasi wajahnya dengan riasan yang cantik. Ia harus bisa kembali menguasai Darren seperti dulu lagi. Tak akan ia biarkan pernikahan yang susah payah di raihnya hancur seketika. Ia tak ingin menjadi wanita bodoh layaknya Shima dulu yang rela kehilangan pernikahannya.
__ADS_1
################################
Shima memandangi pria didepannya. Wajah tampannya memang pantas jadi idaman para wanita. Shima berpikir sejenak, haruskah ia ceritakan pertemuan nya dengan Darren tadi siang? Tian begitu cemburu jika ada hal-hal yang berbau Darren. Tapi jika tidak di ceritakan, nanti ia tahu dari Rio dan menganggapnya tidak terbuka. Huft! Shima meniup sendiri poni yang bertengger di dahinya.
"Sayang, bagaimana harimu? Sudah bertemu dengan Rio?" Tanya Tian.
"Hariku campur aduk. Tian, bukan kamu kan yang menyuruh Rio mengontrak ku?"
Tian menggeleng "Tidak, aku berani jamin itu murni pilihan Rio. Memang kenapa?"
"Pilihlah sekolah model yang kamu inginkan. Aku yang akan membayarnya. Jangan kecewakan Rio, harapannya besar padamu"
"Baiklah. Kamu saja yang pilihkan sekolahnya. Oh iya Tian, tadi aku bertemu Darren di kafe saat makan siang" Shima memilih mengatakannya daripada Tian harus mendengarnya dari orang lain.
__ADS_1
Tian menghentikan makannya. Telinganya rasa panas saat mendengar nama itu disebut. "Apa yang ia katakan?" Selidiknya.
"Tidak ada, tapi sepertinya ia masih peduli dengan urusanku"
"Jauhi dia! Entah kenapa aku tidak suka jika kamu bertemu dengannya"
"Kamu cemburu ya" Ledek Shima.
"Sangat cemburu!" Tian memberikan tekanan pada perkataan nya.
"Tidak percaya padaku? Dia kan cuma masa lalu"
"Tapi dia yang pertama mengisi hatimu. Aku takut kamu belum melupakan nya"
__ADS_1
"Sudah ku buang namanya di hatiku sejak aku tahu hubungannya dengan Lisa. Sudah berganti dengan tuan muda Kim yang tampan"
Tian mencubit pipi Shima gemas, Shima meringis kesakitan. Digenggamnya tangan mungil Shima seraya berkata "Terima kasih sudah mengisi hari-hari ku dengan cinta"