
Shima memeluk Darren erat. Hatinya sangat senang karena tugasnya mencari berita sukses. Setelah bertemu dengan Tian, Shima, Anton dan Novi pergi kekantor polisi yang menyelidiki kasus itu.
Benar saja, kasus itu sudah di mark up sedemikian rupa. Kantor polisi hanya menyebutkan bahwa sang aktris overdosis obat tidur karna depresi pamornya sebagai aktris yang tengah naik daun tiba-tiba turun tanpa menyebutkan bahwa si aktris adalah simpanan seorang pejabat daerah.
Shima memilih mengikuti berita yang dipublikasikan oleh penyidik. Buatnya percuma mengungkap kejadian yang sebenarnya karena tak akan ada yang mempercayai perkataannya.
" Kamu pasti lagi senang ya? " Tanya Darren.
" Iya sayang. Akhirnya kasusku selesai "
" Berarti kamu siap berhenti kerja dong? "
" Ah.. sayang, Kalau aku nganggur aku mau ngapain dirumah? pasti aku jenuh banget deh. kalo nanti aku hamil, aku berhenti deh "
" Kamu kan bisa menulis novel. Hanya ganti pekerjaan saja. Toh sama-sama menulis kan? "
" Ah.. beda.. gak ada gregetnya kalo cuma duduk didepan laptop. Kalo jurnalis kan kita bisa kerja dilapangan, melihat langsung kejadiannya. "
" Kan sambil nulis kamu bisa observasi tempat. Biar bisa lebih menghayati peran yang kamu ciptakan. Gregetnya nanti kalau kamu udah jadi penulis besar. Karyamu di baca orang banyak. Pasti jadi kebanggaan buatmu "
__ADS_1
" Baiklah.. Demi suamiku yang baik. Besok aku bikin surat pengunduran diri deh "
" Gitu dong! kamu cukup dirumah, merawat diri untukku. Bersiap menjadi ibu dari anak-anakku "
Wajah Shima bersemu merah. Ia dihujani begitu banyak kecupan sayang dari suaminya.
" Ayo main polisi-polisian " Bisik Darren manja.
" Enggak ah. Takut dipenjara " Ledek Shima.
" Aku emang mau menjarain kamu dihati aku. Biar kamu gak keluar dari sana "
Tanpa bertanya Darren menggendong tubuh mungil istrinya lalu membawanya kekamar. " Ayo kita buat Darren Junior! "
################################
Lagi, Tian melepaskan pandang ke arah trotoar dari kaca jendelanya. Ia masih mengingat sosok cantik bermata indah duduk disana. Entah mengapa wajah itu mengganggu pikirannya.
Teringat bagaimana wajah seriusnya saat mendengarkan ceritanya. Cara makan dan minumnya, ah.. benar-benar menghantuinya. Sejauh ini, belum ada wanita yang bisa menarik perhatiannya. Tapi wanita itu berbeda. Membuatnya bahkan rela mengganti jasnya hanya demi menemuinya.
__ADS_1
Tak hanya itu, bahkan dia mencari tahu tentang berita konyol yang bahkan tidak pernah ditontonnya. Itu hanya tak tik agar dia bisa mengobrol dengan Ashima.
Ia begitu merasakan ketulusan di mata indahnya. Melihatnya berkedip membuat jantungnya seakan mau copot. Itulah alasan kenapa Tian meninggalkannya di kafe. Ia tak mau terlarut dalam perasaannya. Yang entah itu hanya sekedar suka dengan mata indahnya atau benar-benar cinta?
Ia berjalan meninggalkan jendela dan merebahkan tubuhnya pada sisi ranjang. Diambilnya telepon seluler miliknya. Pak Yohan adalah tujuan utamanya.
" Malam bos, ada yang bisa saya bantu? " Ucap Yohan saat mengetahui di layar ponselnya tertulis nama bosnya yang sedang menghubunginya.
" Bisa bantu saya mencari informasi tentang seseorang? "
" Akan saya usahakan bos "
" Tolong cari tahu identitas Ashima Nayla, Seorang jurnalis dari salah satu televisi ternama "
" Siap bos! "
" Baik. Trima kasih pak Yohan, Maaf sudah mengganggu malam- malam begini "
" Gak apa-apa bos. Santai saja. Nanti kalau sudah lengkap datanya akan saya laporkan ke bos "
__ADS_1
Sambungan telepon diputus oleh Tian. Yohan hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sudah 2 hari ini bosnya bersikap aneh. Dari mencari tahu info tentang aktris yang bunuh diri sampai mencari tahu nama seorang jurnalis. Sebenarnya ada apa dengan bosnya?