
Shima dan Shila sibuk menata beberapa sajian makanan di meja makan. Ibunya, Bu Siti menyelesaikan masakan terakhirnya. Hari ini Tian akan datang kerumah untuk acara lamaran. Karena acara tertutup, acara lamaran hanya akan dihadiri oleh keluarga inti saja.
"Sudah sana siap-siap, keburu Tian datang" Suruh Bu Siti.
"Iya bu, aku mandi dulu. Shila lanjutkan ya" Shima segera berlari ke kamarnya untuk mandi. Sebuah gaun indah sudah tergeletak di atas ranjangnya. Tian memang sangat baik, semua acara lamaran disiapkannya dengan matang bahkan sampai pakaian pun ia sendiri yang memilihnya.
Setelah selesai mandi, Shima bergegas memakai riasan wajahnya. Rambutnya hanya di sanggul sebagian dan sebagian lainnya di biarkan tergerai. Kembali ia berdiri di depan cermin, memastikan bahwa penampilannya malam ini sudah sempurna.
"Kak, keluarga kak Tian datang" Teriak Shila didepan pintu kamar Shima.
Shima bergegas turun dan bergabung bersama Bu Siti dan Shila menyambut kedatangan keluarga Tian. Tian hanya datang bersama nyonya Kim, Yohan dan Rio.
Bu Siti menyambut hangat uluran tangan nyonya Kim. Bu Siti segera mempersilahkan untuk duduk sedang Shima menuangkan teh untuk mereka.
"Seperti yang besan tahu, kedatangan kami kesini selain untuk bersilaturahmi juga ingin mengutarakan niat baik putra saya, Destian Kim untuk melamar putri besan, Ashima Nayla. Kiranya, niat baik kami bisa diterima oleh keluarga besan terlebih oleh Shima sendiri" Nyonya Kim membuka obrolan.
__ADS_1
"Saya sangat berterima kasih dan bersyukur karena keluarga besar Kim mau meminang putri saya, tapi untuk lebih jelasnya lagi silahkan nak Tian tanyakan sendiri pada Shima. Apakah Shima menerima lamaran nak Tian? Saya selaku ibunya membebaskan pilihan untuk Shima"
"Ashima Nayla, Bersediakah kamu menerima lamaran ku?" Tanya Tian.
Shima mengangguk sambil tersenyum malu-malu "Saya bersedia"
Ucapan syukur tampak memenuhi ruangan. Bu Siti segera mengajak para tamu untuk menikmati hidangan yang sudah di sajikan. Tian dan Shima memilih mengobrol di teras rumah.
"Akhirnya.." Ucap Tian lega. Keinginannya untuk mempersunting Shima sukses sudah. Tinggal menunggu hari pernikahan nya dilangsungkan.
"Akhirnya apa?" Tanya Shima penasaran.
"Apa kau tahu Tian, padahal aku sudah pernah menikah. Tapi entah mengapa rasanya seperti baru akan menikah saja. Aku deg-degan tadi"
"Buatku, ini pernikahan pertamamu dan akan jadi pernikahan terakhirmu. Karena aku akan menghabiskan sisa umurku bersamamu" Tian mengambil tangan Shima lalu menciumnya.
__ADS_1
"Yakin nih? dulu Darren juga bilang begitu. Tapi kenyataannya, dia selingkuh"
"Apa kamu tidak percaya padaku? Aku akan menjadikanmu ratu di hatiku"
Shima tersenyum simpul "Aku percaya! kalau gak percaya mana mungkin aku mau menikah denganmu"
"Aku janji Shima, tak akan kubiarkan kesedihan sedikitpun menyentuhmu"
"Ish.. aku kan manusia. Wajar jika punya perasaan sedih"
"Bagaimanapun caranya, kamu tidak boleh bersedih. Setiap kali kamu merasakan sedih, ingatlah ada aku disampingmu"
Shima memeluk lengan pria yang berdiri disampingnya itu. Ia masih tidak percaya bisa mencintai Tian secepat ini. Dulu, ia butuh waktu hampir dua tahun untuk menerima cinta Darren. Tapi, hanya dengan dua bulan Shima menerima lamaran Tian.
Sambil melayangkan pandangannya ke langit yang berhias bintang-bintang bertaburan, Shima mengucap seuntai doa dihatinya.
__ADS_1
"Tuhan, jadikanlah Tian pelabuhan terakhir dalam hidupku. Biarkan aku mencintai nya hingga akhir usiaku!"
Tian memeluk bahu Shima lalu mencium keningnya. "Terima kasih sudah bersedia menghabiskan hidupmu bersamaku. Aku berjanji akan membahagiakanmu"