Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 87


__ADS_3

Shima berkali-kali memandangi layar ponselnya. Tak ada satupun notifikasi yang masuk dari tian. Bahkan pesannya belum mendapat balasan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Tian belum juga menghubunginya.


"Apa dia marah padaku karena kemarin aku menolak keinginannya?"


"Atau.. dia sudah mendapat penggantiku?"


"Jangan-jangan ia hanya ingin bermain-main denganku?"


Satu demi satu pikiran negatif terlintas dibenaknya. Membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut pening. Tunggu dulu! Bukankah harusnya ia bersyukur? Jika tian hanya bermain-main dengannya itu artinya Tuhan sudah memberinya petunjuk bahwa Tian tidak baik untuknya. Tidak lucu kan kalau ia harus cerai untuk yang kedua kalinya. Tapi mengapa hatinya merasa hampa saat Tian tidak menghubunginya sendirian. Kenapa hari-harinya menjadi kosong tanpa Tian yang setiap hari mengganggunya. Mengapa tiba-tiba ia merasa rindu akan pelukannya bahkan ciumannya? Apakah Shima sudah benar-benar jatuh cinta pada Tian?


Shima segera menghapus semua pikiran yang mengganggunya. Dipejamkannya perlahan kedua matanya. Berharap saat esok hari ada kabar yang menggembirakan untuknya.


################################


Sudah genap tiga hari tanpa kabar dari Tian. Shima memutuskan untuk menemuinya di apartemennya setelah pulang bekerja. Ia sengaja tidak mengabari Tian dan menunggu didepan pintu apartemennya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Harusnya Tian sudah pulang kerumah.


Sudah satu jam Shima berdiri didepan pintu. Tapi belum ada tanda-tanda kalau Tian sudah pulang. Shima mulai resah. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Tian tapi panggilannya tidak tersambung. Shima terduduk lesu bersandar pada dinding apartemen. Jika satu jam lagi Tian tidak juga datang, maka ia akan pergi.


Dari ujung lorong tampak seorang pria sedang berjalan ke arahnya. Di pandangnya sosok yang begitu di kenalnya itu. Ia segera berdiri menyambutnya.

__ADS_1


"Shima" ucapnya terkejut.


"Apa kau tahu aku sudah menunggu dua jam disini?"


"Maaf, aku ada rapat tadi. Ayo masuk kedalam! ku buatkan teh hangat untukmu"


Shima segera membuntuti Tian masuk kedalam apartemennya lalu menyandarkan punggungnya pada sofa. Tak lama kemudian Tian membawa 2 cangkir teh manis hangat dan sepotong cheesecake untuk Shima. Tian hanya duduk tertunduk tanpa bicara.


"Kemana saja tiga hari ini?" Tanya Shima.


"Tidak kemana-mana, aku ada di kantor"


"Kenapa tidak menghubungiku selama tiga hari ini?"


"Jika kamu hanya ingin main-main denganku, kita sudahi saja semua"


"Jangan Shima! aku ingin menikahimu"


"Lalu apa maksudnya tiga hari tanpa kabar?"

__ADS_1


"Aku hanya terlalu malu berhadapan denganmu setelah kejadian itu. Aku takut kamu marah padaku"


"Apa? jadi gara-gara itu?"


Tian mengangguk "Aku takut kamu berpikir aku hanya menginginkan tubuhmu. Aku takut kamu membenciku"


"Astaga.. kukira kenapa" Shima tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa orang seperti Tian memimpin perusahaan sebesar itu sendirian? bahkan ia terlalu bodoh untuk kategori seorang pria yang sedang jatuh cinta.


"Aku bahkan sengaja mematikan ponselku agar tidak bisa menghubungimu. Aku berusaha menerima kenyataan jika kau tidak menemuiku nanti itu artinya kau ingin hubungan ini segera berakhir"


"Memang iya, justru aku kesini mau minta keputusanmu. Apakah hubungan ini akan dilanjutkan atau tidak. Karena jika tidak dilanjutkan, maka aku harus siap-siap sakit hati karena aku akan kehilangan lagi orang yang sangat aku cintai"


Tian menegakkan wajahnya "Apa? orang yang sangat kau cintai? maksudmu, kau sangat mencintai aku?


Shima mengangguk " Iya , aku sangat mencintaimu Tian muda Kim"


Spontan Tian melompati meja dan menubruk tubuh gadis didepannya itu. Hatinya sangat senang mendengar pernyataan cinta dari Shima. Ia mengeratkan pelukannya "Terima kasih sudah mencintaiku. Kita nikah bulan depan ya"


Shima merasakan tubuh Tian kembali bereaksi. Ia segera melepaskan pelukan Tian. "Jangan lama-lama peluknya. itu ada yang bangun" Ledek Shima.

__ADS_1


Tian segera melepaskan pelukannya dan mundur menjauhi Shima. Wajahnya tampak memerah menahan malu sekaligus nafsunya.


"Ah.. juniorku. Tolong bertahanlah satu bulan lagi" Batinnya.


__ADS_2