
Shima perlahan membuka matanya. Didepannya tampak wajah tampan Tian yang masih tertidur lelap. Ditekuknya lengannya untuk memangku kepalanya sambil menikmati sejenak wajah tampan suaminya itu. Lelaki yang sedikitpun tidak terbayang dalam benaknya akan menjadi suaminya.Tian tampak menggeliat. Shima kembali memejamkan matanya, berpura-pura masih tertidur.
Tian membuka kelopak matanya. Dibelainya rambut panjang istrinya yang masih tertidur. Perlahan di kecupnya kening dan bibirnya hingga membuat Shima menggeliat. Tian kembali menutup matanya, berpura-pura tidur juga.
Tiba-tiba tawa Shima meledak melihat tingkah konyol mereka. Padahal mereka sudah menikah, kenapa harus malu-malu? terlebih bagi Shima, ini pernikahan keduanya. Tapi entah mengapa, ia merasa seperti pengantin baru saja.
"Apanya yang lucu?" Tian membuka matanya begitu mendengar tawa renyah Shima.
"Tidak ada" Ucapnya tanpa menghentikan tawanya. "Kenapa pura-pura tidur lagi?"
Tian menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Shima menarik paksa selimut yang menutupi seluruh tubuh Tian hingga terlihat dada bidang dan perut sixpack nya.
"Aku malu" Wajahnya bersemu merah. "Aku baru pertama kali melakukannya, jadi belum terlalu bisa" Lanjutnya. Tian teringat kejadian semalam saat pertama kalinya ia berhubungan badan dengan Shima, Ia salah masuk.
"Ya ampun.. gitu aja malu. Ternyata, nafsu aja yang gede, tau-taunya gak bisa" Ledek Shima.
Tian langsung menarik tangan Shima, di kuncinya tubuh mungil itu di bawah kakinya.
"Kita coba lagi ya, aku sudah banyak belajar semalam. Kali ini yakin tidak salah lagi"
"Ish.. sudah siang. Kamu gak kerja?"
"Masa pengantin baru disuruh kerja"
__ADS_1
"Sayang.. yang tahu kamu pengantin baru cuma pak Yohan. yang lainnya taunya kamu masih single. Sana mandi, aku buatin sarapan ya"
Tian perlahan turun dari tubuh Shima. "Nanti aku pulang cepat ya, Jangan lupa aku minta dua ronde" Ancamnya.
"Siap, tuan muda Kim. Aku tunggu di bawah ya"
Shima segera turun dari ranjang dan bergegas pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk Tian.
Tak lama kemudian Tian memghampiri Shima yang sudah menunggu di meja makan.
"Masak apa sayang?" Tanya Tian.
"Cuma bikin sandwich aja sama susu, cukup kan buat sarapan?" Tanya Shima yang memang bingung ingin memasak apa untuk suaminya. "Nanti sambil aku belajar masak makanan kesukaan kamu ya, gak apa-apa kan?"
"Tidak perlu. Nanti kalau aku malas masak, kita makan diluar aja"
"Ini apa?" Tanya Tian saat melihat tablet obat diatas meja makan.
"Pil KB sayang"
"Kamu mau KB?"
Shima mengangguk "Pernikahan kita kan masih rahasia, tidak lucu kalau aku tiba-tiba hamil tanpa memiliki suami kan? lagipula aku sedang meniti karir di dunia model, sebelum aku sukses aku belum mau hamil dulu"
__ADS_1
"Tapi setelah karirmu tercapai, kita pikirkan punya anak ya sayang. Tahu kan sudah berapa usiaku?"
Shima terkekeh "Iya tahu, sudah tua kan" Ledeknya.
Tian mencubit gemas hidung mancung Shima. "Kalau kamu begini terus aku jadi malas berangkat ke kantor deh pengen bobo lagi sama kamu"
"Eits.. aku ada janji sama Rio untuk bertemu kak Lusi dirumahnya"
"Ya udah, aku anter aja kerumah kak Lusi ya. Aku juga sudah lama gak ngobrol sama kak lusi"
Shima membuang nafas berat. Ia lupa kalau lelakinya yang satu ini sangat manja dan pencemburu.
"Baiklah"
Tian menyunggingkan senyuman yang cukup lebar di bibirnya lalu disantapnya sandwich buatan istri kesayangannya.
"Aku mandi dulu ya" Shima berdiri dari kursinya, ia menghampiri Tian dan memeluk lehernya dari belakang lalu perlahan mencium pipinya.
"Sayang, terima kasih ya" Ucapa Shima.
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk semua cinta yang kamu beri. Terima kasih karna sudah mengerti aku. Aku mencintaimu" Bisik Shima mesra.
__ADS_1
"Apa kau tahu, kau membangunkan macan yang tidur!" Tian memegang tangan Shima erat. "Dan kamu harus bertanggung jawab untuk menidurkannya kembali" Bisiknya nakal.