
Shima memandangi sosok lelaki yang sedang duduk di kursi dengan ponsel ditangannya. Matanya tampak tak berpaling dari ponselnya, entah apa yang ia lihat hingga begitu seriusnya. Kedatangan Shima pun luput dari penglihatannya.
" Sudah lama? " Sapa Shima lalu menarik bangku dan duduk di depannya.
Darren mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata bulat Shima " Ah.. kenapa ia begitu cantik hari ini " Batinnya.
" Ada apa? " Shima kembali bertanya saat melihat Darren yang terdiam melihatnya tanpa menjawab pertanyaannya.
" Oh.. belum. " Jawabnya kikuk. " Mau makan apa? " Sambungnya.
" Aku minum saja. Jus jeruk "
" Tidak makan? "
" Aku sedang diet "
Diet? Darren mengerutkan dahinya. Saat bersamanya dulu Shima tak pernah diet. Makan banyak pun tubuhnya tidak berubah. Kenapa ia mendadak ingin diet? " Kamu tinggal dimana sekarang? "
" Dirumah "
" kamu bohong! kemarin aku kerumahmu dan kamu tidak ada disana. Shila pun tidak tahu kamu tinggal dimana "
" Aku masih ada acara. Cepat bicara! " Ucapnya ketus.
" Baiklah, Dokter Adam meneleponku. Dia bilang kamu hamil. Kenapa kamu tidak bilang " Darren memulai percakapannya.
__ADS_1
" Oh.. "
" Hanya "oh"? " Darren menyipitkan matanya mendengar jawaban Shima.
" Aku kira ingin bicara penting tentang perceraian kita, ternyata kamu hanya ingin menanyakan itu "
" Apa menurutmu anak tak penting untukku? Kita menantikannya, Shima. Bagaimana kamu bisa semudah itu menjawabnya "
" Aku malas bertengkar denganmu! Jika tak ada lagi yang penting aku akan pergi "
" Shima tunggu! Aku ingin kamu memikirkan lagi tentang gugatanmu! Aku tahu aku bersalah, tapi tak bisakah kau memberi aku satu kesempatan saja, aku berjanji aku tak akan mengulanginya "
" Aku tak akan mengubahnya. Apapun alasanmu "
Suara dering ponsel mengalihkan mata Shima ke arah ponselnya. " Hallo " Ucapnya.
" Dimana? "
" Kafe dekat kantor "
" Bertemu Darren? "
" Iya. Kamu pulang jam berapa? Mau ku belikan makanan untuk makan malam? mumpung aku di kafe nih "
" Boleh "
__ADS_1
" Makan apa? "
" Apa saja. Terserah kamu. Aku akan menyuruh Sam menjemputmu "
" Oke. Aku tunggu ya "
Perasaan Darren begitu terbakar melihat Shima bertelepon mesra dengan pria lain dan itu dilakukannya didepan matanya. Bahkan dia belum menceraikannya. Bagaimana bisa Shima sudah begitu mesra dengan pria lain. " Telepon dari siapa? " Tanyanya dengan rahang mengeras.
" Teman "
Teman? Dengan nada semesra itu? Memangnya Darren bodoh " Sejak kapan kamu punya teman pria? "
" Sebelum menikah denganmu juga teman priaku banyak. Aku hanya lebih menghargaimu sebagai seorang suami maka aku tidak membicarakan mereka di depanmu "
" Lalu kamu menghubungi mereka karena akan bercerai denganku? Begitu? "
" Aku tidak pernah menghubungi mereka. Aku bukan wanita murahan yang mencari kesempurnaan pria lain demi menutupi kekurangan suamiku. Mungkin kamu lupa, saat wanita lain terlihat lebih menarik dimatamu, maka wanitamu pun akan tampak menarik Dimata pria lain " Shima beranjak dari bangkunya. Tak ingin lebih berlama disana. Muak dan senang berpadu dihatinya.
" Shima tunggu! Pikirkanlah lagi gugatanmu! Aku ingin jadi ayah yang baik bagi anakku. Tak apa kamu membenciku. tapi izinkan aku jadi ayah yang baik untuk anakku untuk menebus semua kesalahanku. Aku mohon! "
Shima menyeringai sinis mendengar ucapan Darren " Lebih baik kamu memikirkan bagaimana kamu jadi ayah yang baik untuk anak Lisa. Bukankah dia hamil? "
Darren terduduk lunglai dikursinya. Bahkan Shima sudah tahu kalau Lisa hamil. Bagaimana bisa istrinya sehebat itu. Darren tiba-tiba tertawa dengan keras sendiri. Menertawakan kebodohannya. Ia lupa kalau istrinya dulu seorang jurnalis. Sangat mudah baginya mendapatkan informasi dari manapun. Tapi kantornya tak bisa dimasuki oleh sembarang orang terlebih seorang jurnalis. Darimana ia mengetahui semua itu?
Dipandanginya punggung wanita yang dinikahinya satu tahun lalu itu menghilang di ambang pintu. Kebodohannya benar-benar membuatnya kehilangan sebuah permata!
__ADS_1