Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 80


__ADS_3

Shima mengikat tali sepatunya dengan kuat. Seperti biasa, ia harus mengejar deadline berita. Dan sasaran utamanya adalah fotografer yang kabarnya pemakai narkotika. Para jurnalis dari media yang lain sudah ikut berkumpul di depan studio fotonya.


Shima berinisiatif ke lantai basemen. Kalau fotografer yang bernama Rio itu tidak ingin bertemu media, pasti akan kabur lewat pintu belakang. Sayangnya Shima kalah cepat, sudah ada awak media lain yang sudah menunggu disana. Waktu sudah berjalan empat jam, tapi belum ada tanda-tanda Rio keluar dari studionya.


Letih menunggu lama, Shima memutuskan menemui Anton di pintu depan. " Ton, aku ke kafe depan ya, cari minuman"


Anton terlihat mengangkat jempolnya tanda setuju. Shima bergegas berlari ke arah kafe terdekat. Ia segera memesan satu cup moccachino dan latte untuk Anton sebagai mood booster nya ketika lelah. Saat ia hendak keluar kafe, seseorang menabraknya dan membuat dua cup kopi yang di pegangnya tumpah berserakan dilantai.


"Maaf mba saya tidak sengaja .." ucapnya " Biar saya ganti pesanannya" imbuhnya.


"Kamu Rio kan?" Tebak Shima saat melihat wajah pria muda itu. Topinya terlepas saat mereka bertabrakan.


Pria itu tampak kikuk. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruh Shima untuk diam. Ia segera ingin kabur tapi Shima dengan sigap memegangi jaketnya.


"Kalau kau mau mengobrol denganku. Aku tidak akan memanggil awak media kemari"


Rio tampak celingak-celinguk memeriksa keadaan di kafe yang kebetulan sepi pengunjung itu. "Baik tapi lepaskan aku dulu!"


"Tidak! Pesan dulu minuman lalu kita duduk disana" Shima masih memegangi jaket Rio.


Mau tak mau Rio menuruti Shima. Ia memesan dua cup kopi dan waffle lalu duduk dimeja yang ditunjuk Shima.

__ADS_1


"Kenalkan, Aku Ashima nayla"


" Kamu jurnalis?"


Shima mengangguk sambil menyeruput es kopinya. "Iya. Sebuah televisi nasional. Kabur lewat mana tadi?"


"Apa? Kabur? Aku saja belum sempat masuk kedalam. Tadi pagi security bilang kalau banyak wartawan yang kumpul didepan studio. Jadi aku mau melihatnya dari sini"


"Beritanya benar?"


"Tentu saja tidak! Aku dijebak"


"Oleh siapa?"


"Alasannya?"


"sakit hati"


Shima tertawa " Gak masuk akal. kamu mengada-ada nih"


"Terserah. Untuk apa aku membocorkan aibku sendiri pada jurnalis"

__ADS_1


"Kenapa tidak cek urin?"


"Itu jurus terakhirku. Sekarang biarlah panas dulu. Bukankah itu baik untuk konsumsi para jurnalis"


"Untuk menaikkan popularitas mu?"


"Tanpa berita seperti inipun aku sudah cukup tenar. Aku di kenal karna bakat bukan karna pansos. Mana kartu namamu"


"Untuk apa?"


"Untuk menuntut mu jika kau menulis berita macam-macam tentangku"


Shima memberikan selembar kartu nama pada Rio. "Silahkan tuntut! Aku tidak takut" Shima segera berdiri dan hendak pergi tapi Rio memanggilnya dan ia menoleh ke arah Rio.


Rio memotret Shima beberapa kali dengan kamera digital yang di bawanya.


"Hei, jangan asal main foto"


" Untuk dokumentasi. Biar aku ingat wajahmu"


"Simpanlah buat kenang-kenangan. Karna jurnalis yang cantik cuma seribu satu" Shima melengos dan kembali berjalan meninggalkan Rio yang masih sibuk memfotonya dari berbagai sudut.

__ADS_1


Satu persatu dipandangnya foto-foto yang sudah diambilnya dari berbagai sudut. Rio tampak terkesan dengan hasil jepretan kamera digitalnya. Padahal itu hanya kamera biasa, tapi hasilnya sungguh luar biasa di luar ekspektasi nya. Tentunya wajah Shima yang menjadi penyempurna fotonya. Wajah cantik alami dengan postur tubuh yang ideal membuatnya sangat cocok menjadi seorang model. Sayang sekali ia malah menjadi seorang jurnalis.


" Benar-benar maha karya yang indah.Wanita ini harus mau jadi modelku" Tekadnya.


__ADS_2