
Tian memandangi langit-langit ruangannya. Kepalanya bertumpu pada kedua telapak tangannya. " Chat? Tidak? " ia meniup poni yang menutupi sebagian dahinya. Diliriknya ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Sudah dua bulan tak ada kabar dari Shima. Apa dia lupa padaku? Ah.. lupa pun tak jadi masalah untuknya karena aku hanya teman yang tak sengaja dikenalnya.
Tok.. Tok.. Tok.. tergengar suara ketukan pintu. Tian segera memutar kursinya kedepan. Yohan sudah berjalan menghampirinya.
" Ini beberapa file yang harus bos periksa " Yohan menyerahkan beberapa file pada Tian.
" Ada kendala? "
" Sejauh ini tidak bos "
" Jadwal harian Darren masih kamu pantau? "
" Masih bos "
" Apa yang terbaru? "
__ADS_1
Yohan terdiam. Ia sudah mencium bau perselingkuhan Darren dan Lisa. Tapi apakah harus mengatakan hal itu pada bosnya? Sedang ia tahu bagaimana perasaan bosnya pada Ashima. Akankah bosnya marah atau senang jika mendengar tentang perselingkuhan Darren dan Lisa? Yohan tak berani menduga-duga. Ia memang kenal sekali dengan watak bosnya, tapi kalau urusan percintaan Yohan masih tak mengerti dengan emosi bosnya yang sering kali berubah-ubah. Kadang terlihat begitu bahagia, kadang kecewa yang terekam diwajahnya.
" Masih seperti biasa bos "
" Program kehamilannya bagaimana? " Satu-satunya hal yang ada di pikiran Tian adalah suksesnya program kehamilan yang di ambil oleh Shima, sebab itu Shima tak lagi menghubunginya. Benarkah Shima sudah hamil?
" Sepertinya masih berlanjut bos, Baru kemarin Darren pulang lebih awal karena harus kembali kontrol ke dokter spesialis kandungan "
" Baik. Terima kasih untuk infonya pak Yohan "
Yohan hanya mengangguk lalu kembali ke ruangannya.
" Apa kabar? " Tian mengirim sebuah pesan. Cukup lama ponselnya tak bergeming. Hingga sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Segera ia meraih ponselnya lalu membuka pesannya.
" Baik. kamu sendiri apa kabar? "
__ADS_1
Ada senyum yang merekah menghiasi wajah tampannya. " Aku juga baik. Lama tak mendengar kabarmu "
" Oh iya.. aku sedang banyak beristirahat sekarang. Aku sedang program untuk kehamilan "
" Wah.. semoga sukses ya "
" Terima kasih doanya "
Tian meletakkan ponselnya. Hanya begitu saja sudah cukup membuatnya senang. Tunggu! Rasanya ada yang salah di otaknya. Ingat Tian, Shima itu istri orang! Dia sedang berencana mengandung anak dari suaminya. Apa kamu masih bisa bahagia? Tian terdiam merenungi kata hatinya. Sepertinya memang ada yang salah dengan otaknya!
################################
Shima meletakkan ponselnya setelah membalas pesan dari Tian. " Tumben sekali dia menghubungiku " Batinnya.
Pandangannya kembali pada layar laptop didepannya. Ia memeriksa lagi tulisan-tulisan yang sudah di ketiknya. Novel itu muncul karena bantuan ide dari Tian. Ia ingin segera menyelesaikannya dan memperlihatkan pada Tian. Dua bulan beristirahat membuatnya banyak memiliki waktu luang untuk menulis. Bahkan saat jenuh pun ia akan alihkan untuk menulis. Tidak seperti biasanya, saat jenuh ia akan memilih pergi ke mall atau nongkrong bareng Shila. Tapi untuk kesuksesan program kehamilannya, ia mengalah dan memilih beristirahat dirumah.
__ADS_1
Betapa inginnya Shima menimang bayi mungil yang lahir dari rahimnya. Betapa inginnya ia membuat Darren bahagia dengan memenuhi keinginannya untuk segera menjadi seorang ayah. Betapa inginnya ia menjadikan keluarganya sempurna dengan hadirnya sosok buah hati di kehidupannya. Bukankah hidup itu begitu indah?
Setelah merevisi beberapa tulisannya, ia segera mematikan laptopnya. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Waktunya Shima mandi untuk menyambut suami tercintanya. Sambil membantu Bu Darmi menyiapkan makanan untuk makan malam.