Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 86


__ADS_3

Set untuk wawancara ekslusif sudah di tata rapi. Studio jadi pilihan tempat diselenggarakannya wawancara itu. Shima memakai kemeja pink dengan rok dan blazer berwarna hitam. Sedang Rio hanya memakai kaos yang dipadu dengan celana jeans belel.


Anton bersiap didepan kamera, sedang Novi bertugas sebagai pengarah acara.


"Bagaimana tanggapan anda tentang beredarnya berita bahwa anda adalah pemakai narkotika?" Shima mulai mengajukan pertanyaan pada Rio.


"Bagi orang yang berkecimpung dalam dunia entertain adalah hal yang biasa. Tapi, bukan berarti saya masuk kedalam kategori "Pemakai" yang seperti dituduhkan oleh orang-orang"


"Apakah anda memiliki bukti atau sanggahan untuk kasus yang sedang anda alami?"


"Saya sudah tes urin saat menjalani pemeriksaan. Silahkan tanyakan sendiri kepada kepala polisi bagian narkotika"


"Lalu, menurut anda darimana sumber datangnya isu tersebut?"


"Sepertinya ada yang sengaja menjatuhkan karir saya "


"Bagaimana dengan pendapat para netizen yang menganggap bahwa anda hanya membuat alasan Klise untuk menjaga nama baik anda?"


"Saya kembalikan kepada pandangan masing-masing. Toh, suatu saat kebenaran pasti terungkap. Saya sama sekali tidak khawatir dengan hal itu. Selama saya benar, saya tidak akan takut"


"Baiklah, terima kasih untuk waktunya. Semoga kebenaran akan segera terungkap"


Shima menyudahi wawancaranya. Ia melirik ponselnya, sudah pukul satu siang tapi Tian belum juga menghubunginya. Apa dia sangat sibuk hari ini? Shima kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.


"Bi, mau lihat hasil pemotretan kemarin gak?" Tanya Rio.

__ADS_1


"Memang aku bibimu! " Shima gusar.


"Lalu aku harus panggil apa? Tante?"


"Nanti aku dikira tante-tante lagi"


"Terus mau panggil apa? kakak?" Rio ikut gusar.


"Oke.. kakak saja"


Rio menghempaskan nafasnya dengan keras. Rasanya salah kalau kemarin memuji pamannya karena pintar memilih calon istri. Calon istrinya petakilan begini modelnya.


"Ayo kak, kita lihat hasil foto kemarin" Ledek Rio sambil menahan tawanya.


"Duluan aja deh. sambil ngedit video"


"Ya udah. Nanti kalau sudah selesai aku akan segera menyusul"


Shima segera menghampiri Rio yang sudah duduk didepan laptopnya. Satu-persatu dipandanginya foto-foto hasil jepretannya kemarin. Pantas saja ia sangat terkenal, hasil fotonya memang luar biasa bagus.


"Boleh dipindahkan ke ponselku tidak?"


"Tidak boleh. Kecuali foto-foto yang ini" Tian menunjuk kumpulan foto-foto Shima bersama Tian.


"Memang yang sendiri kenapa?"

__ADS_1


"Itu untuk di jual" Rio terkekeh "Tunggulah, sebentar lagi kakak akan terkenal" Lanjutnya.


"Terkenal darimana?"


"Foto ini untuk majalah fashion lho kak. Sebentar lagi kakak akan jadi idola"


"Idola apanya?"


"Idola anak muda dong. Itu majalah fashion nomor satu di negara ini kak. Eh kak, mau tau gak caranya biar lebih cepat terkenal?"


"Gak tau. Memang bisa?"


"Bisa, aku taruh foto kakak bersama paman disampul depan majalah" Rio tergelak melihat ekspresi melotot Shima. Ia tahu Shima tak ingin hubungannya dengan pamannya terekspos media.


"Awas saja kalau berani" Lagi, Shima mengambil ponsel dari sakunya. Masih belum ada sebuah pesan pun dari Tian. Tumben sekali, biasanya bagaimanapun kesibukannya, ia selalu mengirim pesan padanya. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjuk ke angka tiga itu.


"Rio, aku kembali ke kantor dulu ya. Terima kasih untuk wawancaranya. Jangan lupa kirimkan foto-foto itu padaku" Shima melambaikan tangannya lalu bergegas meninggalkan studio milik Rio dan kembali ke kantornya.


Setelah sampai dikantor shima menghampiri meja Anton. ia tampak serius menonton video yang sudah dieditnya tadi.


"Sudah selesai?"


"Sudah. Ini mau aku serahkan ke bos" jawabnya.


Shima menyeruput capuccino nya sambil membuang pandangan ke arah jendela berharap mobil sport merah sudah terparkir menunggu kepulangannya.

__ADS_1


__ADS_2