
Semua anggota dewan direksi berdiri menyambut kedatangan tuan Kim dan pak Yohan. Setelah tuan Kim duduk, mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.
"Rapat hari ini di agendakan untuk membahas program peluncuran kosmetik kita. Saya ingin mendengar laporan dari masing-masing departemen" Tian membuka rapat.
"Kami sudah menyaring para agensi yang mengikuti tender perusahaan kita. Dari sepuluh agensi, kami sudah memilih dua agensi yang modelnya cocok untuk launching kosmetik perusahaan. Kami akan kembali menyeleksi 2 agensi ini untuk menentukan yang terbaik"
Sekretaris bagian personalia membagikan dua file yang berisi resume model dari dua agensi yang lolos penyaringan.
"Silahkan para anggota dewan melihat resume yang sudah dibagikan dan mengisi angket untuk mempermudah penyaringan. Poin yang tertinggi akan kami ambil sebagai brand ambassador untuk kosmetik perusahaan kita"
Masing-masing anggota dewan membuka file yang sudah dibagikan. Mereka tampak serius menilai satu persatu model yang di ajukan. Beberapa tampak terkejut saat mengenal salah satu model yang lolos penyaringan. Sesekali mereka melirik Darren yang hanya tertunduk tak bersuara. Ia kenal betul dengan wajah ayu itu. Ya, dia Ashima Nayla. mantan istrinya dulu.
"Menurut pendapat saya, ada baiknya jika angket ini di bagikan ke seluruh karyawan perusahaan. Jika hanya mengandalkan anggota rapat, rasanya kurang adil karena hanya dua orang perwakilan dari masing-masing direksi " Tian buka suara. Di sambut dengan lirikan mata Yohan disampingnya.
"Jika angket dibagikan ke semua karyawan perusahaan akan makan waktu lebih lama tuan"
"Tugaskan semua sekretaris masing-masing direksi untuk mengkopi dan membagikan angket. Sebelum makan siang angket sudah harus selesai dan dikumpulkan kembali. Pukul tiga, masing-masing direksi sudah menyaring satu nama dan kumpulkan semua pada pak Yohan. Setelah terkumpul, baru kita putuskan model yang akan menjadi brand ambassador produk kosmetik kita"
"Baik, tuan"
"Bagaimana dengan bagian pemasaran?" Tanya Tian.
__ADS_1
"Untuk iklan dan promosi, kami sudah memilih Mozza advertising sebagai agensi pemenang tender dari perusahaan kita. Mozza advertising mengusung konsep beauty natural, cocok dengan produk kosmetik kita yang soft"
"Kalau begitu, saat angket cantumkan juga konsep yang sudah diusung oleh Mozza advertising agar model yang dipilih sesuai dengan karakter yang sudah dikonsepkan" Kembali, Tian memberikan pendapat.
"Baik, tuan"
"Untuk yang lainnya apakah ada masalah? atau ada yang ingin disampaikan? Silahkan bicara di forum ini"
Para anggota dewan direksi tampak saling pandang. Tak ada satupun yang mengajukan keberatan ataupun sanggahan untuk proyek baru mereka.
"Jika sudah tidak ada yang perlu di bahas. Saya akan sudahi rapat hari ini. Segera laksanakan sesuai yang sudah dirapatkan"
"Baik, tuan Kim" Sahut para dewan direksi serentak.
"Maaf tuan Kim, saya ingin bicara. Apakah anda punya waktu sebentar?" Pinta Darren berhati-hati. Ia tahu, bos besarnya itu tidak akan mau membahas sesuatu hal diluar pekerjaan jika sedang dikantor.
Tian menoleh ke arah Darren "Jika ada yang ingin dibahas, sampaikan di forum"
"Maaf jika saya mengganggu tuan, masalah model ini.." Darren menggantungkan ucapannya.
"Maksudmu Shima? Kenapa dengan dia?"
__ADS_1
"Apa hubungan tuan dengan Shima baik-baik saja?"
Dahi Tian berkerut mendengar pertanyaan dari Darren. "Sejauh ini kami masih baik-baik saja"
"Apa tuan tidak terkejut dengan pamornya yang tiba-tiba naik begitu drastis? Setahu saya, Shima bukanlah wanita yang percaya diri. Ia hanya wanita yang bahkan dengan suaminya sendiri masih malu-malu. Bagaimana bisa ia semelejit ini dalam waktu singkat?"
Tian tersenyum sinis "Maksudmu, Shima main curang?"
"Saya pernah memergokinya sedang ngobrol berdua dengan fotografer Rio Dewantara di kafe, tuan. Rio Dewantara adalah fotografer yang sekarang menjadi agensi Shima. Saya melihat mereka begitu akrab saat itu"
"Sebenarnya apa maksud ucapanmu?"
"Saya hanya takut tuan nantinya kecewa jika mengetahui hal yang sebenarnya. Tuan berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari Shima"
.
"Pak Darren, ternyata anda tidak mengenal siapa mantan istri bapak. Dia berdiri seperti sekarang karena usahanya sendiri. Menurutmu, kenapa aku memerintahkan untuk membagikan angket ke seluruh karyawan perusahaan? kau tahu berapa banyak dewan direksi yang mengenal Shima? dan hubungan mereka sangat baik denganmu. Mungkin mereka akan merasa tidak enak memilih Shima karena dekat denganmu. Aku ingin semua penilaian objektif. Dari situ kau akan paham, apakah Shima layak atau tidak dijadikan sebagai brand ambassador produk kita"
"Apakah tuan percaya pada Shima?"
"Tentu saja! Dia wanitaku, aku lebih mempercayai nya daripada dirimu" Tian segera melangkahkan kakinya meninggalkan Darren yang masih berdiri mematung di samping lift.
__ADS_1
Pintu lift sudah terbuka, Tian segera masuk kedalam. Tapi ia mengurungkan niatnya dan berdiri di pintu lift.
"Oh iya pak Darren Atmaja. Apakah diangketmu nanti kau akan memilih Ashima Nayla?" Tanyanya. Tanpa menunggu jawaban dari Darren, Tian kembali masuk kedalam lift.