
Lisa mengetuk pintu ruangan Darren. " Masuk! " terdengar suara Darren dari dalam. Lisa segera membuka pintu dan menyerahkan beberapa file pada Darren. " Ini file yang pak Darren minta "
" Sudah dicek semua belum? " Tanya Darren.
" Sudah pak. Tinggal tanda tangan saja yang belum "
Darren membuka file dan membacanya kembali satu persatu.Ia tak ingin ada kesalahan pada proyeknya dengan Hexa design.
Lisa menatap arlojinya. Sudah pukul 5 sore. Ia tampak sedikit gelisah. Ia ingin segera kerumah sakit tapi tak enak jika harus meninggalkan Darren sendiri dikantor. Ponselnya kembali berdering, Lisa hanya melihat ID yang meneleponnya tanpa mengangkatnya.
" Kenapa tidak diangkat? sepertinya penting. Dari tadi Hp mu bunyi terus " Kata Darren.
" Maaf pak Darren, bisa saya izin pulang duluan. Ibu saya sedang dirumah sakit, sekarang jadwalnya saya yang jaga menggantikan bapak karna bapak harus berangkat bekerja "
" Oh.. kenapa tidak bilang dari tadi. Ya sudah, kamu pulang duluan saja. Ibumu dirawat dirumah sakit apa? "
" Central Medika pak "
" kesana naik apa? "
" Taxi pak "
Darren berpikir sejenak. Mencari taxi di jam pulang kerja sangat sulit, belum ditambah macet. Lisa bisa sangat terlambat sampai rumah sakit " Ayo bareng sama aku saja, kebetulan searah dengan apartemenku. Nyari taxi jam-jam begini pasti susah " Darren segera membereskan filenya dan memasukkannya kedalam tas.
" Baik pak, kalau begitu saya ke meja saya dulu untuk beres-beres " Lisa segera keluar ruangan dan segera membereskan meja kerjanya. Yes! pekiknya dalam hati. Lisa sangat suka ketika berduaan dengan Darren dimobil. Melihatnya menyetir sudah cukup memuaskan hasratnya pada Darren apalagi jika memilikinya. Wajah tampan, hidup mapan, baik, apalagi yang dicari oleh wanita? bukankah semua itu sudah mewakili kata "Sempurna" untuk wujud seorang pria.
__ADS_1
" Ayo! "
Suara Darren membuyarkan lamunannya. " Iya pak " Lisa segera mengekor di belakang Darren yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Darren membuka pintu mobilnya begitupun dengan Lisa. Segera ia memacu mobilnya menerjang ramainya jalanan ibukota.
" Pak Darren mau mampir? Ibu saya pasti senang kalau tahu pak Darren menjenguknya " Rayu Lisa.
" Baiklah, Aku beli buah-buahan dulu untuk ibumu "
Darren menghentikan mobilnya didekat toko buah. Ia segera turun dan berlari karena mobilnya diparkir dipinggir jalan. Tak lama kemudian Darren kembali dengan sekeranjang parsel buah ditangannya.
Mobil memasuki halaman parkir rumah sakit. Darren dan Lisa segera naik ke lantai 2, tempat ibunya dirawat. Lisa membuka pintu kamar dan melihat ibunya sedang membuang pandangan kearah jendela.
" Bu, Pak Darren datang menjenguk " Lisa duduk disamping ranjang ibunya.
Lisa mengambilkan bangku dan air mineral untuk Darren. Darren meletakkan parsel buah dimeja lalu duduk dibangku yang sudah disediakan oleh Lisa.
" Bapak pulang jam berapa bu? "
" Jam empat tadi, bapak tidak menunggu kami karna takut bapak telat masuk kerja "
" Maafkan saya bu, saya tidak tahu kalau ibu dirawat dirumah sakit jadi saya membiarkan Lisa pulang telat bersama saya dikantor " Ucap Darren.
" Tidak apa-apa pak, sudah menjadi tugasnya Lisa sebagai sekretaris bapak. "
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi dulu ya bu, semoga ibu lekas sembuh " pamit Darren.
" iya pak Darren, terima kasih sudah menjenguk saya. Hati-hati dijalan "
Darren hanya membalas ucapan ibu Lisa dengan senyuman lalu ia segera pulang. Rindu dengan ratu di istananya.
Lisa terus memandangi punggung Darren yang sudah menghilang dibalik pintu. Ibunya menepuk pundak Lisa hingga membuatnya menoleh.
" Kamu suka sama pak Darren ya? "
" Ibu sok tahu nih " Wajah Lisa bersemu merah.
" Aku ibumu, apa yang tidak aku tahu tentangmu"
Lisa adalah anak semata wayangnya. Ia cantik dan pandai tetapi sangat manja. Bagaimanapun Lisa menyembunyikan sesuatu, ibunya pasti mengetahuinya.
" Menurut ibu gimana? "
" Gimana apanya? "
" Suka gak sama pak Darren? "
" Orangnya ganteng, sopan lagi. Tentu saja ibu suka "
" Aku gak salah pilih kan? "
__ADS_1
" Memang Darren masih single ya? "
Lisa terdiam. Tak ingin merusak hati ibunya yang tengah sakit. Mungkin ibunya akan menentangnya habis-habisan jika tahu kalau Darren sudah beristri. Tapi hati tak bisa dibohongi. Lisa sangat menyukai Darren. Beberapa kali ditepisnya rasa itu, tapi justru semakin menjadi-jadi. Salahkah mencintai suami orang?