
Shima berdiri didepan pintu masuk kafe. Bola matanya memutari seluruh isi ruangan mencari sosok yang sudah menunggunya. Pria yang dulu pernah mengisi hidupnya selama setahun itu terlihat sedang memainkan gawainya di kursi paling ujung. Shima segera menghampirinya.
"Sudah lama?" Tanyanya sambil menarik kursi lalu mendudukinya.
Darren menoleh. "Belum" Jawabnya singkat. "Mau makan apa?" lanjutnya.
"Q mau ice cream sundae aja"
Darren segera memanggil waiters dan memesan menu yang diinginkan.
"Ada apa ingin bertemu denganku?"
"Hanya ingin berpamitan saja"
"Kemana?"
"Yang jelas... jauh dari sini. Aku mau memulai hidup baru. Sekaligus ingin minta maaf padamu" Ingin sekali Darren mengucapkan bahwa ia benar-benar menyesal tapi lidahnya terlalu kelu.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Mungkin ini memang takdirku"
"Maaf, aku tidak bisa hadir di acara pernikahanmu nanti. Aku turut mendoakan semoga kamu langgeng dengan tuan tuan Kim dan cepat dapat momongan"
__ADS_1
"Terima kasih doanya. Kamu mau pergi dengan Lisa?"
"Tidak. Aku ingin sendiri. Entah mengapa aku merasa sangat tidak cocok dengan lisa"
"Lalu, kenapa kamu ingin Lisa dibebaskan jika tak ingin hidup bersamanya?"
"Jujur, aku merasa bersalah padanya. Apapun yang ia lakukan, itu karena aku juga. Aku hanya bisa berharap ia bisa memulai hidup yang lebih baik lagi"
"Aku akan menjenguknya dipenjara terlebih dahulu. Aku ingin tahu, sebenarnya apa salahku padanya hingga dia begitu benci padaku"
Darren menyesap kopinya. Sesekali ia memandang wanita yang tengah asyik makan es krim didepannya itu. Ada sakit yang menghujam hatinya melihat wanita yang ia cintai bahagia dengan orang lain bukan dengannya. Semoga ia segera menemukan shima-shima yang lain untuk mengisi kekosongan hatinya.
Lisa bergeming memandangi Shima. Wanita yang membuat hari-harinya seperti dineraka karena ia harus menghabiskan enam tahun hidupnya dalam jeruji besi. Dan wanita itu dengan pedenya duduk didepannya untuk menemuinya.
"Apa kabar, Lisa?" Shima membuka pembicaraan setelah sekian menit waktu kunjungannya diisi dengan diam dan saling pandang.
"Untuk apa bertanya kabar? sudah lihat kan bagaimana kabarmu?" Lisa menyeringai. Andai tak ada sipir yang menjaganya, ingin sekali ia menjambak rambut wanita didepannya itu.
"Maaf jika kedatanganku mengganggumu. Aku hanya ingin bertanya, sebenarnya apa salahku padamu? Kenapa kamu tega melakukan semua itu padaku?"
"Aku hanya iri melihatmu begitu dicintai Darren sedangkan Darren adalah pria yang kucintai"
__ADS_1
"Iri?" Shima mengerutkan dahinya "Hanya karena iri?"
"Wanita sepertimu tidak pantas mendapatkan kebahagiaan dari Darren"
"Aku bahkan melepaskannya demi anak dalam kandunganmu. Kenapa kau masih jahat padaku?"
"Karena kenyataannya Darren masih mencintaimu! raganya memang bersamaku, tapi hatinya tetap padamu"
"Itu bukan kesalahanku Lisa, aku sekarang hanya mencintai Tian"
"Itu bukan urusanku. Yang jelas aku tidak suka karena Darren masih mencintaimu dan sama sekali tidak memandangku. Aku akan membencimu seumur hidup, Shima"
"Ck..ck..ck.. sayang sekali! Padahal aku kesini ingin memberikan berita yang bagus untukmu. Tapi, karena kau sudah berikrar akan membenciku seumur hidup maka aku batalkan berkas pembebasanmu"
"Apa?" Lisa memastikan ucapan Shima.
"Darren memohon padaku untuk membebaskanmu. Karena ia ingin kau hidup lebih baik lagi. Tapi, orang yang hatinya dipenuhi dengki sepertimu rasanya tak bisa untuk memulai hidup baru. Daripada aku dipusingkan dengan ulahmu. Lebih baik ku batalkan saja. Sepertinya, penjara lebih baik untukmu. Oh iya, satu lagi. Besok Darren akan pergi jauh meninggalkan kota ini, lebih baik kau doakan supaya Darren cepat-cepat menemukan wanita penggantimu!"
Shima melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kunjungan. Tak dihiraukannya teriakan makian yang keluar dari mulut Lisa.
"Maaf Darren, aku tak bisa mengabulkan permintaan terakhirmu. Semoga penjara jadi hukuman terbaik bagi Lisa" Batinnya.
__ADS_1