Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 41


__ADS_3

" Sepertinya seminggu dok " Jawab Shima sambil mengingat-ingat.


" Sus, ambilkan wadah dan testpack untuk nyonya Ashima! "


" Baik Dok " Suster yang mendampingi Dokter Adam segera keluar ruangan dan kembali dengan sebuah wadah kecil dan testpack.


" Mari ikut saya nyonya " Ajaknya.


Shima mengikutinya ke kamar mandi untuk mengambil urine. Setelah urine tertampung didalam wadah suster itu segera mencelupkan testpack kedalamnya. Shima kembali ke kursi. Perlahan muncul 2 garis berwarna merah meskipun masih sedikit samar.


" Selamat nyonya Shima, anda mengandung "


Shima reflek memeluk Bu Darmi yang sejak tadi menemaninya di ruangan dokter Adam. Bu Darmi menepuk-nepuk punggung Shima, merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh majikannya.


" Silahkan naik ke ranjang "


Shima mengikuti perintah dokter Adam. Dokter Adam termasuk dokter yang paling irit bicara. Tidak seperti dokter lainnya yang ramah, Dokter Adam hanya bicara poin-poin penting saja. Tapi jangan dikira, pasiennya setiap hari membludak karena ketenarannya sejagat ibukota. Tak ada yang tak berhasil jika sudah ditangani dokter Adam. Ya.. Memang semua butuh campur tangan Tuhan.


Dokter Adam segera melakukan USG, dilayar tampak setitik kecil sebesar kacang. Itukah janinku? Calon buah hatiku?

__ADS_1


" Usia kandungan nyonya sudah 5 Minggu, sejauh ini semua sehat dan baik-baik saja. Morning sickness adalah hal yang wajar untuk wanita yang hamil muda. Obat yang saya berikan distop saja minumnya. Saya ganti dengan vitamin dan obat mual "


Shima segera menurunkan kaosnya dan kembali ke kursi pasien. Dokter Adam terlihat meresepkan beberapa obat lalu memberikannya pada Shima.


" Silahkan tebus di apotek. Jangan stress dan terlalu lelah karena kandungan masih muda. Jika ada keluhan silahkan konsultasikan pada saya "


" Baik dok. Terima kasih " Shima segera keluar dari ruangan dokter Adam dan mengantri di tempat penebusan obat.


Ada bahagia dan Haru menyelimuti hati Shima, Setelah satu tahun berumah tangga akhirnya Tuhan mempercayakan bayi mungil padanya. Ia yakin Darren pasti lebih bahagia darinya. Karena ialah yang paling menginginkan buah hati di kehidupannya. Tak sabar Shima ingin segera memberikan kabar bahagia ini pada Darren.


" Bu Darmi langsung pulang saja kerumah ya, maaf sudah merepotkan "


" Saya nanti naik taxi saja. Saya mau ke kantor Darren nanti saya pulang sama Darren saja "


" Ya sudah, saya Carikan dulu taxi untuk nyonya "


Bu Darmi menggandeng lengan majikannya menuju parkiran rumah sakit. Setelah memastikan Shima naik taxi yang aman, Bu Darmi segera mencari taxi yang lain untuk mengantarnya pulang.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Shima ingin memberi kejutan pada Darren. Dipandanginya testpack dan foto hasil USG dengan titik kecil digambarnya.

__ADS_1


Sesampainya di kantor Shima segera menghampiri security. Kantor sudah terlihat sepi, mayoritas karyawannya sudah pulang tersisa beberapa orang yang memang harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Shima mematung didepan ruangan Darren. Dilihatnya meja Lisa yang kosong. " Apa rapatnya belum selesai? " Batinnya. Shima memutuskan untuk masuk dan menunggu didalam.


Shima menyandarkan punggungnya pada sofa empuk diruangan Darren. Perjalanan dari rumah sakit cukup menguras tenaganya. Untung tadi ia segera minum obat dari dokter Adam, hingga mual dan pusingnya sedikit berkurang.


Bosan menunggu, Shima berjalan menghampiri meja kerja Darren. Dipandanginya foto pernikahan yang terpajang dimeja kerjanya. Ah.. suaminya memang type suami idaman. Perlahan ia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Apa Darren lupa mematikannya? Shima berjalan ke arah kamar mandi, dipegangnya gagang pintunya. Terkunci!


Shima menajamkan pendengarannya. Seperti ada suara-suara desahan dari dalamnya. Ia kembali meyakinkan pendengarannya dengan menempelkan telinganya pada pintu kamar mandi. Ia tak salah! terdengar jelas suara desahan bahkan erangan dari sana. Ia memberanikan diri mengintip dari lubang kunci, penasaran dengan apa yang terjadi didalamnya.


Shima segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ingin ia tak mempercayai adegan yang dilihatnya. Sekali lagi ia mengintip melalui lubang kunci, Tampak sosok suaminya bergumul mesra denga sekretarisnya, Lisa.


Perlahan Shima melangkah mundur dengan gontai. Satu-satunya hal yang terpikir diotaknya adalah segera lari. Lari menjauh dari tempat ini.


Shima melangkah diikuti tetes demi tetes air matanya. Testpack dan foto USG diremasnya lalu dimasukkannya dengan kasar kedalam kantong jaketnya. Ada luka menyayat hatinya. Suami yang dipercayainya tega mengkhianati ya. Lalu untuk apa menikahinya jika hanya untuk menanamkan benih dirahimnya sedang ia bersenang-senang dengan wanita lain.


Tak dihiraukannya sapaan security didepan pintu perusahaan. Ia melangkah dengan tatapan yang kosong. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Menghadapi kenyataan bahwa suami terbaiknya mengkhianati nya terlalu berat untuknya.


Bruukkkk! Sosok Shima terpental dan terjatuh diaspal. Shima berusaha membuka matanya. Samar-samar Sesosok pria tampak berlari memghampirinya. Tak jelas sosoknya, yang ada hanya tiba-tiba semua menjadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2