
" Sayang " Darren mengguncangkan tubuh Shima pelan.
" Hmm.. "
" Aku berangkat dulu ya "
" Sepagi ini? " Shima membuka matanya lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
" Semalem pak Yohan telepon. Aku harus masuk kantor karena ada tanda tangan kontrak dengan klien "
" Oh "
" Ya udah, kamu tidur lagi deh. Hati-hati selama di Bali ya. Aku pergi dulu " Darren mencium kening Shima lalu mengambil kopernya dan menyeretnya keluar kamar hotel. Ia harus segera ke bandara untuk ikut jadwal penerbangan yang pertama.
Shima hanya memandangi punggung Darren yang menghilang di depan pintu. Pikirannya melayang melihat Darren yang begitu terburu-buru untuk kembali ke kantor. Apakah ia sangat merindukan wanita itu? Ataukah benar-benar perintah pak Yohan? Masa bodoh dengan semua itu! Yang paling penting sekarang adalah misinya mendapatkan video kedua suaminya.
Shima beranjak dari ranjangnya. Dengan malas ia berjalan ke kamar mandi. Membasuh wajah kuning Langsatnya yang mulai terlihat lingkaran hitam disekitar matanya. Entah sudah berapa lama Shima tak bisa memejamkan matanya untuk sekedar tertidur pulas sebentar, Seringkali juga di tengah-tengah tidur lelapnya terselip mimpi buruk perselingkuhan suaminya yang menghujaninya beribu rasa sakit hingga membuatnya enggan untuk kembali tidur dan memilih menangis meratapi nasibnya.
Shima segera memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ia akan mengambil jadwal perjalanan di sore hari. Ingin menghabiskan waktunya untuk bernostalgia ke pantai tempat ia dan Darren berbulan madu dulu. Entah ini akan jadi hari terakhirnya menginjakkan kakinya di Bali atau masih ada lain waktu. Yang pasti Shima tak ingin semua kenangan indah bersama Darren terus menghiasi hari-harinya.
Setelah satu tahun berlalu, tak banyak yang berubah dengan pantai ini. Masih asri dengan banyaknya wisatawan lokal dan mancanegara memenuhi hamparan pasir putihnya. Sebuah dering ponsel membuyarkan lamunan Shima.
" Kamu dimana? "
" Di Sanur. Kenapa? "
" Oke.. tunggu sebentar! "
__ADS_1
Shima memandangi ponselnya yang meredup. Ia hanya dapat geleng-geleng kepala menghadapi teman lelakinya yang satu ini. " Kebiasaan, suka seenaknya matiin telepon nih " Gerutunya. Shima kembali mengedarkan pandangan matanya pada pantai yang menghampar luas itu.
Tiga puluh menit kemudian seorang pria duduk disebelahnya. Shima cukup terkejut melihat sosok yang tak asing itu.
" Ngapain disini? " Tanya Shima.
" Jemput kamu! " Tian membuka kacamata hitamnya. Tak jauh dibelakangnya berdiri supirnya yang diketahui bernama Sam itu.
" Jemput aku? Emang kamu gak punya kerjaan lain? " Shima merasa Tian akhir-akhir ini Tian selalu ada didekatnya.
" Tuan Kim yang suruh "
" Ah.. Basi! Masih aja ngeledek nih "
Tian tampak terkekeh " Kamu serius gak mau sama Tuan Kim? Dia gak cuma ganteng dan kaya lho. Tapi tulus sama kamu "
Shima mendesah " Lama-lama aku bosan dengar omonganmu. Sekarang gak usah jauh-jauh ke Tuan Kim deh. Aku tanya sama kamu, kamu kan tahu semua tentang aku, mau gak jadiin aku istri kamu? "
" Iyahlah! masa sama Sam! " Shima mulai terpancing emosinya karena merasa Tian mulai kelewatan meledeknya.
" Mau! memang kenapa? "
" Aku janda, bahkan pernah keguguran. Masih mau? "
" Mau. Emang apa yang salah dengan janda? "
" Tian, Di dunia ini gak ada wanita yang mau jadi janda. Karena kebanyakan orang memandang negatif tentang mereka. Terlebih janda cerai "
__ADS_1
" Lalu, jika harus menyandang predikat seberat itu kenapa kamu memutuskan menjadi janda? "
" Sudah aku bilang, seumur hidup itu terlalu lama jika di habiskan dengan orang yang salah. Menikah bukan untuk sekedar mencari kenyamanan dan kecocokan semata. Tapi lebih ke bagaimana kita menyamankan dan mencocokkan diri dengan pasangan kita. Karena didunia ini tidak ada yang cocok. Masing-masing punya porsi sendiri sesuai karakter yang sudah melekat didirinya sendiri "
" Alasanmu bercerai karena sudah cocok? "
" Tidak. Bercerai sebenarnya hanya masalah waktu. Karena aku rasa aku akan terus-terusan hidup dalam mimpi buruk. Aku tak akan bisa melupakan luka meski mencoba melupakannya. Aku akan dipenuhi rasa curiga, tak bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah dirusaknya. Lama kelamaan tetap saja akan memicu pertengkaran. Cepat atau lambat akhirnya akan bercerai juga jika tak bisa menguasai diri "
" Percuma ngomong panjang lebar, aku gak ngerti "
Shima menepuk dahinya. Sia-sia ia berbicara panjang lebar pada pria yang belum menikah. Bagaimana ia bisa tahu kondisi sebuah rumah tangga, ia saja belum pernah masuk ke dalamnya.
" ayo kita pulang! "
" Eh.. jadwal penerbangan ku sore nanti. ini masih siang. Aku ingin disini sebentar lagi "
" Tak perlu lagi mengingat yang sudah lalu. Masa depan sudah menunggumu "
Shima mengerutkan dahinya " Sok tahu nih " cibirnya.
" Aku tahu dulu kamu bulan madu kesini kan? "
Shima membelalakkan matanya. " Kok tahu? "
" Tahulah. Aku yang beli tiketnya "
" Hah? apa? " Shima masih tak mengerti dengan ucapan Tian.
__ADS_1
" Ayo cepat. Sudah ku pesankan tiket kelas VVIP. "
Mau tak mau Shima berdiri juga. Berlari mensejajari langkah Tian yang sudah lebih dulu pergi.