
Shima pergi bersama Tian ke pengadilan agama untuk mengambil surat cerai resmi yang sudah terbit. Setelah itu mereka pergi ke kantor urusan agama untuk mendaftarkan diri sebagai calon pengantin. Pernikahan mereka akan dilaksanakan satu Minggu setelah berkas selesai di urus oleh kantor urusan agama.
"Kita mau kemana?" Tanya Shima saat tahu arah jalan bukan ke perusahaan Tian.
"Kerumahku" Jawab Tian singkat.
"Hah? Kerumahmu?"
"Kita akan menikah Minggu depan, tapi kamu belum pernah bertemu ibuku kan"
Shima terdiam. Dalam bayangannya tergambar sosok bengis ibu dari tuan muda kaya raya yang akan menentang habis-habisan anaknya yang akan menikahi gadis miskin pujaannya. Perlahan ia menelan ludahnya, ngeri dengan apa yang akan terjadi padanya. Apakah ia akan di beri uang dengan syarat harus meninggalkan putranya? Ataukah ia dan keluarganya akan dibuat menderita?
"Kenapa jadi bengong?" Tanya Tian.
"Aku.. aku takut bertemu ibumu"
Tian tergelak mendengar ucapan Shima. "Kenapa harus takut?"
"Kamu tahu kan, kalau di film-film itu kebanyakan ibu dari tuan muda kaya raya digambarkan seperti apa"
"Ya Tuhan, Shima.. kamu kebanyakan nonton sinetron deh. Bertemu dulu dengan ibuku baru berkomentar"
"Kita ke salon dulu ya" Ajak Shima.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Masa aku mau ketemu ibumu pake kemeja begini sih. Kenapa gak bilang sebelumnya, jadi aku bisa pakai baju yang lebih rapih sedikit" Shima memerhatikan setelan kemeja coklat muda yang dipadu dengan celana coklat tua. "Masa ketemu ibu mertua kaya mau ngelamar kerja" Lanjutnya.
"Kamu cantik apa adanya"
Mobil memasuki sebuah gerbang cluster real estate. Didalam cluster hanya terisi sepuluh rumah mewah yang hanya di miliki oleh para pejabat dan orang kaya saja. Shima cukup takjub begitu memasuki gerbang rumah. Matanya di manjakan dengan kebun bunga dan Pinus di kanan dan kirinya. Entah berapa meter jarak antara gerbang depan dengan rumahnya, pastinya akan lelah jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan desain arsitektur bergaya klasik. Terlihat dua penjaga berdiri didepan pintu rumahnya. Salah seorang penjaga terlihat berlari menghampiri dan membukakan pintu mobil.
Tian menggenggam tangan Shima erat mencoba menenangkan. "Tunggu disini dulu ya, aku akan panggil ibuku" Tian segera berlari naik ke lantai dua.
Tak lama Tian tampak menggandeng seorang wanita paruh baya. Wajahnya masih terlihat cantik bahkan di usianya yang sudah tak lagi muda, gurat-gurat kesahajaan tergambar jelas dari senyumannya. Shima bergegas bangun dari duduknya menyambut calon ibu mertuanya.
"Ini yang namanya Shima?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Kok panggil Tante, Mama dong.. kamu kan menantu mama"
"Iya, Tante eh mama.."
Nyonya Kim merangkul pundak Shima dan mengajaknya kembali duduk sedang Tian kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
"Sudah kenal Tian berapa lama?" Tanya nyonya Kim.
"Sekitar satu tahunan ma"
"Kamu hebat sekali Shima, bisa menarik perhatian Tian. padahal mama sudah berulang kali menjodohkannya dengan anak teman mama tapi Tian selalu menolak. Ternyata dia sudah punya pilihan sendiri"
__ADS_1
"Saya juga awalnya bingung ma, orang seperti Tian kenapa malah suka sama saya, padahal masih banyak perempuan cantik dan sepadan dengannya. Apalagi dengan status saya yang seorang janda"
"Jika Tian sudah memilihmu itu artinya kamu istimewa. Tian termasuk tipikal pemilih lho. Oh iya Shima, kata Tian kamu tidak ingin pernikahanmu dengan tian di umumkan. Kenapa memangnya?"
"Saya mohon maaf sebelumnya ma.. saya baru berstatus janda selama dua bulan. Saya hanya takut opini buruk orang-orang jika mengetahui saya dan Tian tiba-tiba menikah terlebih lagi Tian adalah orang besar dan saya hanya seorang janda. Saya ingin membuktikan dulu kepada orang-orang bahwa saya layak menjadi pendamping Tian. Tadinya saya minta waktu satu tahun pada Tian untuk memperjelas hubungan saya dengan Tian, tapi sepertinya Tian sudah tidak sabar ingin menikahi saya"
"Ah.. anak itu masih saja keras kepala. Maklum ya Shima, dari kecil Tian memang selalu mendapat kan apa yang dia inginkan jadi sepertinya dia cukup bikin kamu kewalahan ya"
"Iya ma.."
"Ngobrolnya seru amat" Sapa Tian yang sudah berganti pakaian dan duduk disebelah ibunya. "Shima, apa ibuku seperti nyonya besar yang ada di sinetron-sinetron itu?"
Shima tertunduk malu mendengar ucapan Tian didepan ibunya. "Awas nanti kau ya, ku cubit baru tahu rasa" Batinnya.
"Memang, nyonya besar yang di sinetron itu seperti apa?" tanya nonya Kim.
"Itu ma.. jangan dengerin omongan Tian. Saya cuma kebanyakan nonton sinetron ma.. jadi suka mengandai-andai saja" Shima tersenyum simpul menyadari kebodohannya termakan sinetron yang suka di tonton ibunya.
"Mama akan menjadi mama kamu, shima. Mama titip Tian ya, tolong jaga dia. Ketulusan hatinya adalah bukti bahwa ia sangat mencintai kamu" Nyonya Kim menggenggam erat jemari Shima.
Shima mengangguk "Pasti ma! Shima akan jaga tian seperti mama menjaganya. Dan mencintai Tian seperti mama mencintainya" Janji Shima.
#Maaf baru bisa up..
#Bantu vote ya kak biar semangat up nya 🥰
__ADS_1