
Shima kembali membaca pesan di ponselnya.
"Besok aku tunggu di kafe dekat studio jam 8 ya"
Ia menimbang-nimbang penawaran dari Rio sebagai model. Ia sama sekali tidak memahami tentang modeling tapi wawancara ekslusif dengan Rio begitu menggodanya. Shima segera mencari kontak Tian dan menghubunginya.
"Hallo Tian, sibuk gak?"
"Tidak, kenapa?"
"Menurutmu, aku harus ambil penawaran Rio gak?"
"Ambil saja"
"Yakin?"
"Iya. Kamu pasti bisa"
"Ya sudah. Bye"
Shima bernafas lega. Jika Tian mendukungnya itu artinya ia melihat peluang sukses yang besar. Tian cukup handal dalam melihat peluang bisnis, terbukti dengan bisnisnya yang mulai merambah ke hampir semua bidang dan tidak ada yang tidak sukses. Sebenarnya Shima cukup bingung harus senang atau sedih dengan kondisi Tian. Memiliki pacar seperti Tian tentunya bagai tertimpa durian runtuh, tapi Shima cukup sadar akan dirinya sendiri. Semoga satu tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menilai apakah hubungannya harus dilanjutkan atau tidak. Kegagalan pernikahannya dengan Darren tentunya menjadikan ia lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.
################################
"Ayo berangkat!" Ajak Rio.
__ADS_1
Shima mengerutkan keningnya "Kemana?"
"Puncak. Para kru sudah berangkat lebih dulu kesana"
"Apa? Puncak?"
"Kita akan adakan pemotretan outdoor. Aku sudah menyewa villa kalau-kalau tidak selesai satu hari"
"Apa?Kita menginap juga? Kenapa tidak bilang?"
"Kalau selesai hari ini ya tidak menginap"
Shima terlihat ragu. "Aku mau telepon pacarku dulu"
"Silahkan"
"Tian, aku mau pemotretan di puncak"
"Oke"
"Hah? Hanya oke? kamu tidak takut aku di bawa ke puncak oleh Rio? aku mau menginap lho"
"Tidak. Hati-hati dijalan ya sayang"
Shima mendengus kesal. Padahal ia yang setiap hari merengek dan bilang tidak bisa jauh darinya. Kenapa dia tidak khawatir sama sekali saat Shima pergi ke puncak dengan Pria lain.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo berangkat!" Shima segera naik ke mobil Rio dan berangkat menuju puncak.
################################
"Itu kamarmu. Disana ada wardrobe dan semua kebutuhan untuk pemotretan. Ini Cintya, dia asisten kamu selama pemotretan"
"Hai, Cintya. Aku Ashima Nayla. senang berkenalan denganmu. Mohon bantuannya ya "
"Hai Ashima. panggil saja aku Tya. Tidak perlu sungkan jika membutuhkan sesuatu ya. Ayo kita ke kamar. Sambil istirahat aku akan memasker wajahmu dulu"
Shima mengangguk. Ia ikut masuk kedalam kamar bersama Cintya. Gadis yang akrab di panggil Tya memberikannya baju santai selama Shima melakukan perawatan wajahnya sebelum bermake up untuk kebutuhan pemotretan.
Suasana pegunungan dan alam yang masih asri membuat udara puncak begitu segar bahkan terkesan dingin. Shima sudah memakai gaun kasual berwarna merah lengkap dengan topinya.
Aura keanggunan Shima begitu terpancar dengan balutan gaun yang begitu elegan serta make up bold yang menghiasi wajahnya. Rio saja dibuatnya menganga dan hampir tidak mengenali wajah Shima. Yang membuat Rio lebih takjub lagi, Shima dengan mudah mengikuti arahan darinya layaknya model profesional. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pemotretan sesi pertama. Sesi kedua pasti akan lebih cepat selesai lagi karena Shima sudah cukup ahli untuk berpose didepan kamera.
Shima sudah berganti kostum untuk pemotretan sesi kedua, kali ini Shima hanya menggunakan rok jeans dipadukan dengan jaket kulit berwarna hitam. Rambut panjangnya dikuncir ekor kuda.
"Wah.. kamu cantik sekali"
Shima, Rio dan semua kru menoleh ke arah datangnya suara. Tampak seorang pria berkaos putih dengan kerah seleher di padu dengan jas warna hitam.
"Paman? Ada apa kemari?" Rio cukup terkejut melihat pamannya tiba-tiba datang ke puncak.
"Apa?Paman?"Shima tak kalah terkejutnya.
__ADS_1
Tian menghampiri Shima lalu merangkul pinggangnya. "Kenalkan, dia calon bibimu"