
Shima menyambut tian didepan pintu apartemen. Tian memeluk pinggang Shima lalu mengecup kening dan bibirnya pelan.
"Bagaimana dikantor hari ini?" tanya Shima.
"Seperti biasa, Lancar. Kan ada pak Yohan yang bisa diandalkan"
"Hm... enaknya jadi bos.. apa-apa tinggal suruh" Ledek Shima.
"Sayang aku punya berita untukmu"
"Berita baik atau buruk?"
"Entahlah.. Disatu sisi baik di sisi yang lain buruk. Tergantung bagaimana kamu menilainya"
"Aku? beritanya berhubungan denganku?"
Tian mengangguk "Pak Yohan bilang kalau Darren cuti dua hari karena Lisa mengalami pre-eklampsia"
"Oh.. itu aku sudah tahu, sayang"
Dahi tian berkerut. "Tahu darimana?"
"Darren"
"Darren telepon kamu?"
"Tadi siang aku gak sengaja ketemu dia di kafe, dia bilang kalau bayi Lisa meninggal dalam kandungan"
"Menurutmu, berita baik atau buruk?"
"Buruk dong sayang. Biar bagaimanapun aku pernah ada di posisi Lisa. Kehilangan anak itu sesuatu yang menyakitkan"
__ADS_1
Tian memeluk erat tubuh Shima. "Kamu memang wanita yang baik. Aku bangga padamu"
"Sayang, boleh aku menjenguknya?"
"Untuk apa? Kamu tahu kan bagaimana watak Lisa? Nanti bukannya terharu malah dikira kamu meledeknya"
"Masa bodo sama hal itu. Yang penting niatku baik. Dan aku rindu pada bu Darmi. sudah lama tidak bertemu"
"Baiklah. Perlu ku temani?"
"Tidak perlu sayang. Nanti malah canggung kalau ada kamu"
"Jangan lama-lama. Jangan ngobrol sama Darren!"
"Iya, aku tahu"
################################
"Nyonya Shima" Ucapnya terkejut.
"Apa kabar Bu Darmi?" Shima memeluk tubuh wanita tambun itu.
"Baik, nyonya. Mari silahkan masuk!"
"Gimana kabar Lisa Bu?"
"Masih terpukul nyonya"
"Aku ingin menjenguknya. Oh iya Bu, ini ada sedikit oleh-oleh untuk Bu Darmi. Semoga bermanfaat"
"Terima kasih nyonya, saya antar masuk ke kamar"
__ADS_1
"Darren kemana?"
"Diruang kerjanya nyonya"
"Saya langsung ketemu Lisa aja Bu"
Bu Darmi segera mengetuk pintu kamar. Terdengar sahutan suara Lisa dari dalam. Bu Darmi segera membuka pintu, di ikuti dengan Shima dibelakangnya.
"Nyonya, ada nyonya Shima ingin menjenguk"
"Kenapa Bu Darmi biarkan dia masuk?"
"Maaf nyonya, saya tidak tahu kalau nyonya Shima tidak boleh menjenguk"
"Tidak perlu memarahi Bu Darmi. Aku juga tidak lama, aku dengar dari pak Yohan kalau kamu mengalami pre-eklampsia. Aku hanya ingin menjengukmu"
"Senang kamu sekarang? Melihatku seperti ini"
"Aku bahkan sama sekali tidak menyalahkanmu saat aku keguguran dulu. Kenapa? karena memang semua itu salahku sendiri. Aku yang berlari tanpa melihat jalan hingga aku kecelakaan dan keguguran. Aku kesini karena pernah ada diposisimu. Bahkan lebih parah darimu"
"Lalu, apa maumu? Ingin pamer ketegaran padaku?"
"Tidak! Aku hanya ingin kamu lebih introspeksi diri. Tidak semua yang terjadi padamu adalah kesalahan orang lain. Bisa jadi itu karena kesalahanmu sendiri!"
Tanpa berpamitan Shima langsung meninggalkan kamar yang dulunya adalah miliknya. Tak bisa dipungkiri banyak kenangan indah di kamar itu, terlalu lama disana bisa membuat kepalanya sakit. Terlebih menghadapi sikap Lisa yang begitu buruk padanya. Hei! bukankah seharusnya Shima yang bersikap seperti itu pada Lisa? kenapa justru malah terbalik? Tak mau ambil pusing, Shima menghampiri Bu Darmi di dapur.
"Bu, maukah ikut tinggal denganku?" Shima jadi tak tega melihat Bu Darmi yang harus berada ditengah-tengah Darren dan Lisa.
"Sampai nyonya Lisa sembuh. Saya akan ikut nyonya Shima"
Shima menyunggingkan seulas senyum. "Aku tunggu ya Bu" Shima segera meninggalkan apartemen sebelum bertemu dengan Darren.
__ADS_1