
Tian memukul-mukul dahinya sambil mondar-mandir disamping ranjangnya. Selama ini ia bukannya tidak pernah kenal dengan wanita. Ibunya sudah pernah mencoba menjodohkannya dengan anak teman sosialitanya. Sudah beberapa kali ia disodorkan perempuan malam sebagai hadiah proyek kerja samanya tapi tak ada yang menarik perhatiannya. Padahal mereka pun sangat cantik, malah ada yang sudah siap menunggunya di kamar hotel dengan pakaian yang sangat tipis hingga seluruh lekuk tubuhnya terlihat tapi tubuhnya tak pernah bereaksi apa-apa. Yang ada hanya tatapan jengah dimatanya.
Tapi begitu melihat Shima, tubuhnya langsung bereaksi berlebihan padahal jika dilihat dengan mata normal lelaki tentunya para lelaki akan lebih mudah tergoda dengan wanita tanpa pakaian daripada yang berpakaian sopan kan? Entah mengapa Shima begitu berbeda. Keinginan memiliki yang begitu kuat tertanam di otak dan hatinya. Membuat dorongan kuat pada tubuhnya hingga bereaksi berlebihan saat bersamanya.
Apa Tian tidak normal? Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Yang membuatnya lebih tak mengerti lagi adalah mengapa ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Hampir saja ia menggagahi shima dan itu sangat membuatnya malu ketika berhadapan dengannya. Rasanya ia seperti seorang pria yang tidak beretika didepan wanita yang dicintainya.
################################
Shima membersihkan wajahnya dengan milk cleanser lalu dilanjutkan dengan toner. Perlahan ia menepuk-nepuk wajahnya hingga tonernya menyerap. Setelah menyerap, ia mengoleskan serum anti aging untuk menjaga kekenyalan wajahnya.
Perlahan dibaringkannya tubuhnya yang terasa lelah. Ingatannya kembali pada Tian yang memeluknya di apartemen tadi. Shima tertawa cekikikan seorang diri. Wajah malu Tian kembali terbayang di matanya. Andai Shima tak bisa menjaga dirinya, maka pasti terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
__ADS_1
Baginya, status janda bukan artinya mengobral tubuh dengan murah. Ia memang bukan perawan yang bisa di agung-agungkan, akan tetapi ia tidak mau mendapat predikat janda murahan. Janda juga harus punya harga diri bukan?
Shima memutuskan memejamkan matanya. Esok pagi ia ingin menghabiskan waktu dengan berjoging di area taman. Sambil melemaskan otot-otot nya yang tegang setelah 6 hari bekerja.
################################
Darren berjingkat-jingkat keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya. Diambilnya majalah fashion yang tadi ia dapatkan dari bawahannya. Dipandanginya sederet foto-foto cantik wanita yang pernah bersamanya itu. Perlahan di sentuhnya satu persatu foto itu. Ada sakit yang menyeruak didadanya. Melihat mantan istrinya begitu bersinar setelah lepas darinya. Apa dulu ia terlalu mengekangnya? hingga sama sekali tak nampak pesona keanggunannya. Dimasukkannya kembali majalah itu ke dalam tasnya. Menyesal pun tidak berguna.
################################
"Lagi ngapain sayang kok gak tidur?" Tanyanya.
__ADS_1
"Aku haus tadi, sekalian mau ngechek laporan untuk besok" Bohongnya.
"Ya sudah, kalau sudah selesai cepat tidur ya. Aku kembali ke kamar dulu" Lisa menutup pintu ruang kerjanya dan kembali ke kamarnya.
Didalam hatinya penuh dengan pertanyaan. Rasanya ia tidak bisa mempercayai perkataan Darren. ia ingat, dulu saat berselingkuh dengannya Darren pun akan meneleponnya malam hari setelah Shima tertidur lelap. Kata-kata Shima kembali menamparnya.
"Jika Darren pernah begitu padaku, bisa jadi akan terjadi juga padamu"
Lisa mengelus perut buncitnya. Usia kandungannya sudah masuk empat bulan. Ternyata mendapatkan apa yang di inginkan tidak menjamin akan membuatnya bahagia. Semenjak berpisah dengan Shima, Darren lebih banyak diam bahkan terkesan dingin padanya. Hari-hari Lisa dilalui dengan kejenuhan karena terlalu banyak diam dirumah. Semenjak sidang pertama perceraian Darren dan Shima, Lisa dipecat oleh tuan Kim dengan alasan menjaga nama baik perusahaan. Saat itu Lisa tidak memiliki pilihan, daripada melihat Darren yang dipecat. lebih baik ia yang mengalah.
Awalnya Lisa ingin tetap bekerja, tapi Darren melarangnya dengan alasan kehamilannya yang masih usia muda. Akhirnya ia hanya bisa menghabiskan waktu di apartemennya. Tiba-tiba ia rindu Darren yang dulu. Darren yang penuh gairah jika bertemu dengannya. Darren yang rela membohongi istrinya demi bersenang-senang dengannya.
__ADS_1