
Shima meninggalkan kopernya di samping sofa. Ia segera menyalakan lampu karena hari sudah gelap.
" Hubungi aku jika membutuhkan sesuatu. Aku akan pesan makanan untuk makan malam "
Shima mengangguk pelan. Tian segera pergi keluar untuk membeli makanan untuk makan malam. Shima mendorong kopernya ke kamar. Ia menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas ranjang empuknya. Pikirannya kembali pada Darren. Apa yang ia lakukan sekarang? Diliriknya ponsel yang sepi tanpa notifikasi itu. Bahkan ia belum menghubunginya sampai sekarang. Jenuh dengan suasana, Shima memutar sebuah lagu dari ponselnya.
*Kau dulu pernah bilang
Aku ratu di hatimu, sayang
Dan aku ratu di istanamu
Dan dulu pernah kau pun bilang
Takkan pernah tinggalkanku sumpah
Mungkin kau lupa*
Tak terasa air mata Shima membasahi pipinya. Terharu dan terhanyut mendengar lagu yang diputarnya sendiri. Teringat ucapan Darren yang selalu menyebut bahwa ia adalah ratu di istananya. Entah predikat ratu masih melekat pada dirinya atau sudah berpindah ke tangan sang penggoda. Shima membenamkan wajahnya pada lutut yang di tekuknya. Isakkannya membuat bahunya berguncang.
__ADS_1
Tak disadarinya Tian sudah berdiri sejak tadi memperhatikannya. Ia mematung didepan kamar dengan seplastik makanan ditangannya. Ingin menghampiri, keraguan akan posisi dirinya dimata Shima membuatnya mengurungkan niat dan memilih memandangi wanita yang duduk bersandar ditepi ranjang dengan bahu terguncang hebat.
" Apa kau tahu, bahwa sang ratu tidak akan pernah pantas bersanding dengan penggoda. Ratu tetaplah ratu, sedangkan penggoda hanyalah selingan untuk raja. Meski raja berpaling, ia akan tetap kembali pada sang ratu. Ia tetap jadi yang pertama "
Shima mendongakkan kepalanya. Matanya beradu pandang dengan pria dengan sekantong plastik makanan di tangannya. Perlahan disusutnya air matanya.
" Tak ada ratu yang bahagia melihat Rajanya bermain-main dengan selirnya "
" Daripada meratapi nasib lebih baik memperbaikinya. Jangan dengarkan lagi lagu itu. Gantilah dengan lagu yang lebih beat untuk menyenangkan hatimu. Atau lagi yang klasik untuk menenangkan dirimu "
" Terserah! Aku lapar " Shima bangkit dari duduknya. Meraih plastik ditangan Tian lalu membawanya ke meja. Tanpa menunggu Tian ia segera membukanya lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya.
" Aku ngantuk mau tidur. Kamu pulanglah! "
" Apa kamu memikirkan Darren? " Tian yakin Shima memikirkan Darren. Ia tahu apa saja yang Darren lakukan seharian ini.
" Terkadang, kita butuh mengingat luka untuk menguatkan diri sendiri. Semakin di ingat makan semakin benci "
" Hati-hati dengan kebencianmu. Pastikan kebencian itu membuat cara berpikirmu menjadi tidak logis. Aku akan pulang. hubungi aku ya " Tian tak lagi menoleh. Ia segera keluar dari kamar Shima dan kembali menuju apartemennya.
__ADS_1
################################
Jam klasik Tian sudah berdenging dua kali. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Diletakkannya ponsel yang sejak tadi dipegangnya. Ia tampak membuang nafas berat mengingat rekaman CCTV dirumah Shima. " Secepat inikah? bahkan baru satu hari ia tidak bersama Shima " Batinnya.
terlintas bayangan tubuh Shima dengan bahu terguncangnya di tepi ranjang. Ia segera mengambil kunci apartemen Shima. Entah mengapa ia begitu ingin melihatnya meski sebentar. Hanya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.
Dibukanya pintu itu dengan perlahan. Takut jika akan membangunkan Shima. Tapi yang dilihatnya hanyalah wanita dengan tubuh tertelungkup diatas ranjang dengan isakkannya yang begitu menyayat hati.
*Dan ku pernah jadi yang tersayang
Ku pernah jadi yang paling kau cinta
Mungkin kau lupa..
Dan disaat sang penggoda datang
Kau biarkan dia hancurkan istanaku
Sekarang.. kau lupa aku ratumu*..
__ADS_1
God! ia masih mendengarkan lagu itu!