
Shima memasuki sebuah kafe yang disebutkan oleh Rio. Begitu masuk kedalam, matanya sibuk mencari-cari sosok pria muda yang penuh talenta itu. Matanya terhenti pada pria yang melambaikan tangan ke arahnya. Shima bergegas menghampirinya.
"Ada apa mencari ku?" Tanyanya.
"Tanda tangani kontrak sebagai modelku"
"Aku sedang bekerja di kantor jurnalistik Rio, mana mungkin aku bisa bekerja sebagai modelmu"
"Kalau begitu keluar saja"
Shima mendelik kearahnya. Dikira gampang mencari pekerjaan, seenaknya saja memerintahkan orang untuk keluar "Aku tidak bisa. Aku butuh pekerjaan untuk menghidupi diriku sendiri"
"Model adalah pekerjaan mu nantinya. Pikirkanlah, bukankah kau ingin cepat setara dengan pamanku? dengan menjadi model kau akan lebih cepat setara dengan paman. Aku sudah punya satu tawaran iklan untukmu sebagai permulaan. Bagaimana?"
"Aku tidak yakin bisa melakukannya, Rio"
"Paman sudah berjanji akan menyekolahkan mu. Kau tak usah khawatir. Aku berani jamin paman pasti setuju kalau kau jadi model"
Shima terdiam. Ia terlihat ragu dengan keputusan yang akan diambilnya.
"Shima" Sapa Darren yang sejak tadi memperhatikan Shima sedang mengobrol dengan seorang pria muda. Karena penasaran ia menghampiri.
"Darren" Shima buru-buru menyembunyikan keterkejutannya.
"Siapa?" Rio memandang Shima meminta penjelasan.
__ADS_1
"Saya mantan suami Shima" Jawab Darren tanpa ditanya.
"Mantan suami?" Lagi, Rio meminta penjelasan lewat tatapan matanya.
Shima akhirnya mengangguk. "Dia mantan suamiku. Darren, ini Rio" Shima memperkenalkan Rio pada Darren.
"Oh.. senang berkenalan dengan anda. Bukankah Anda Rio Dewantara?"
"Iya, benar"
"Kalau boleh tau, sedang membahas apa dengan mantan istri saya?"
Shima spontan berdiri. "Apapun yang saya bahas dengannya, sepertinya sudah tidak ada hubungannya lagi denganmu, Darren"
"Terima kasih untuk semua perhatianmu, tapi lebih baik kamu pikirkan Lisa, entah bagaimana sakitnya hati lisa jika mengetahui kalau suaminya masih perhatian dengan mantan istrinya" Cibir Shima.
"Maaf pak mantan suami, sepertinya Shima tidak nyaman berbicara dengan Anda. Sebaiknya anda segera pergi karna saya ingin bicara empat mata dengannya" Rio mulai kesal melihat perdebatan mantan suami istri itu.
Rahang Darren mengeras. Giginya gemeretak menahan kemarahan. Tiba-tiba ia merasa sakit melihat mantan istrinya terlihat akrab dengan pria yang usianya terlihat lebih muda itu. Tapi ia sadar kini ia bukan siapa-siapa lagi bagi Shima. "Aku pergi dulu" Ucapnya lalu pergi meninggalkan meja Shima.
"Itu benar mantan suamimu?" Tanya Rio seakan tidak percaya.
Shima mengangguk "Iya, kami bercerai bulan lalu. Apa Tian tidak bilang padamu kalau aku janda?"
Rio menggeleng. Ia lebih takjub lagi pada Shima. Ada banyak sekali gadis-gadis cantik di sekeliling Tian, tapi Tian justru memilih seorang janda. "Wah, Shima... kamu luar biasa hebat" Rio mengacungkan dua jempolnya ke atas. Salut dengan Shima yang menurutnya memang penuh dengan aura istimewa.
__ADS_1
"Jangan meledekku! jadi janda apanya yang hebat?"
"Justru karena kau janda, itulah yang membuatmu hebat. Cepat ceritakan padaku, bagaimana caranya menaklukkan hati paman?"
"Entahlah. Aku sendiri tidak begitu yakin semuanya berjalan begitu saja." Ia bahkan yg tidak tahu kisah cintanya dimulai darimana.
"Jadi, kapan rencananya?"
"Bulan depan" Shima tertunduk malu. Entah apa anggapan Rio nanti terhadapnya.
################################
Lisa bangkit dari duduknya setelah rasa bosan melandanya. Di letakkan nya remot televisinya diatas meja lalu ia berjalan menuju ruang kerja Darren. Ia ingin mengambil laptop untuk mendownload film kesukaannya. Ditekannya tombol power pada keyboard laptopnya. Didownload nya satu persatu film box office favorit nya.
Simbol lampu pada laptopnya mulai berkedip, Shima segera mencari charger untuk mengisi daya pada laptopnya. Satu persatu dibukanya laci meja kerja Darren. Kegiatannya terhenti saat melihat sebuah majalah fashion wanita di kelas dunia.
"Untuk apa Darren menyimpan majalah ini ya?" Lisa membolak balik sampul majalah itu. penasaran dengan isi di dalamnya. Sudah lama Lisa tidak berbelanja pakaian karena perutnya yang mulai membesar.
Lembar demi lembar di bukanya majalah itu sambil menunggu laptopnya mengisi daya. Matanya memincing melihat model dengan kuncir kuda dan jaket kulit hitam. Perlahan diremasnya lembar majalah itu begitu ia mengenali sosok berjaket hitam itu.
"Darren, awas kau nanti!" Ucapnya penuh amarah.
# kakak cantik, bantu vote dan like ya ....
#terima kasih
__ADS_1