
Darren dan Shima berada didalam sebuah ruangan disalah satu rumah sakit terbaik di Ibu kota. Darren memilih dokter spesialis kandungan yang paling kompeten disana. Seorang dokter kisaran usia lima puluhan tampak sibuk memeriksa berkas-berkas Darren dan Shima. Gurat wajahnya masih memperlihatkan ketampanan meskipun tertutup oleh kerutan-kerutan usia.
" Usia pernikahan baru 10 bulan ya? " Tanya dokter yang bernama Adam itu.
" Iya dok " Jawab Darren.
" Kendala tidak ada, semuanya baik dan sehat. Sebenarnya masih terlalu dini untuk melakukan program kehamilan. Tapi tidak masalah karena itu kembali pada pribadi masing-masing "
" Untuk tingkat keberhasilannya berapa persen dok? "
Dokter Adam tampak tertawa pelan " 100%. Tentunya jika mengikuti sesuai dengan program yang saya berikan "
Shima bernafas lega. Ia atau suaminya tak memiliki masalah apapun, mungkin hanya Tuhan saja yang belum mempercayakannya untuk memiliki momongan. Mungkin Tuhan ingin Shima dan Darren lebih saling mengenal satu sama lain. Pacaran 2 tahun dengan tingkat kesibukan masing-masing belum cukup untuk mereka saling mengerti satu sama lain. Ada saja hal-hal yang menjadi sumber pertengkaran mereka meskipun berakhir dengan Darren yang selalu mengalah. Usia terpaut 5 tahun tentunya membuat Darren lebih dewasa menghadapi Shima, terlebih Shima kehilangan figur seorang ayah kala usianya masih sangat muda.
" Karena tidak ada masalah dengan keduanya. Saya akan meresepkan asam folat dan vitamin E untuk permulaannya. Serta food combining dan cara menghitung waktu subur untuk mengatur hubungan intim kalian. Nanti setelah Ibu Shima menstruasi silahkan kembali lagi untuk kontrol "
__ADS_1
Shima mengangguk. Kebanyakan masalah kehamilan yang selalu disalahkan adalah pihak istri padahal kehamilan itu sendiri adalah hasil kerja sama antara suami dan istri. Meskipun Darren tidak pernah menyalahkannya karna diusia pernikahan yang mulai menginjak satu tahun sedangkan mereka belum diberi keturunan, sebagai wanita Shima memiliki ketakutan tersendiri. Dengan adanya program kehamilan setidaknya pasangan suami istri akan tahu dimana letak permasalahannya tanpa harus menghakimi salah satu pihak.
Dokter Adam memberikan resep obat dan vitamin pada Darren untuk ditebus diapotek rumah sakit. Darren dan Shima segera menuju apotek, setelah mengantri untuk menebus obat mereka memutuskan untuk segera pulang.
#################################
Shima duduk bersandar diranjang sambil memainkan poselnya. Darren baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang dipegangnya. Ditatapnya lekat wajahnya tampannya dengan rambut yang masih basah. " Tampannya luar biiasa suamiku ini " Batinnya.
" Sini aku keringin " Shima menawarkan diri.
" Tentu saja! Mana ada wanita yang tidak siap hamil "
" Adalah.. wanita karir biasanya lebih mementingkan karirnya. Atau model yang lebih mementingkan bentuk tubuhnya "
" Aku bukan wanita karir juga bukan model. Aku cuma ibu rumah tangga biasa. Apalagi yang ku harapkan selain memiliki anak? Segalanya sudah ku punya. Suami yang baik dan mapan. Keluarga yang selalu support. Memiliki anak rasanya akan lebih menyempurnakan hidupku sebagai seorang wanita "
__ADS_1
" Kamu gak takut gemuk? gak takut ngidam? gak takut sakit? "
" Yah.. itu kan udah kodratnya seorang wanita sayang. Kayaknya yang takut bukan aku deh, tapi kamu. Kamu takut setelah melahirkan aku jadi gendut ya? Iya kan? "
" Aku bukan takut kamu jadi gendut sayang. Toh setelah melahirkan kamu bisa ikut senam atau diet sehat. Aku gak tahu kenapa aku takut kalau kamu sakit. Aku baca-baca di internet kalau hamil itu berat. Belum ngidamnya, belum emosinya yang tidak stabil, ditambah lagi lelahnya bawa anak didalam perut kesan kemari. Aku tidak bisa membayangkan saja "
" Itulah mengapa peran suami sangat penting sayang. Untuk menjaga mood ibu hamil supaya tidak stress. Kamu harus jadi suami siaga "
Darren memeluk pinggang ramping istrinya. " Pasti sayang, aku akan selalu siaga buat kamu "
Shima membaca gelagat aneh pada senyum sumringah suaminya " Pasti deh ada maunya " Tebak Shima.
" Kalau kamu gak hamil, gimana aku bisa menunjukkan kalau aku suami siaga " Senyum Darren makin lebar.
Shima segera melepaskan pelukan Darren lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya. " Tidur ah.. " gumamnya. Darren segera ikut memasukkan badannya kedalam selimut. Tugasnya sebagai suami harus segera dilaksanakan.
__ADS_1