
Bandara Soekarno-Hatta
Shima dan Darren menunggu di terminal keberangkatan. Pesawat akan berangkat lima belas menit lagi. Ini kali kedua Shima naik pesawat terbang, tapi ia masih saja terlihat gugup.
" Sayang, aku ke toilet dulu " Ucap Shima lalu segera berlari ke arah toilet.
Beep! ponsel Shima berbunyi. Sebuah notifikasi dari aplikasi berwarna hijau tampak menghiasi layar ponselnya. Darren segera membukanya.
" Hati-hati dijalan "
Dilihatnya id pengirim pesan itu bernama Tian. " Siapa Tian? " Darren membatin. Jika Shila, ibu atau Bu Darmi yang mengirim pesan mungkin Darren tak akan penasaran. Atau mungkin Novi yang menanyakan sudah sampai mana. Tapi Tian? Darren bahkan belum pernah mendengar namanya.
Shima terlihat berlari-lari kecil menghampiri darren. Darren segera memberikan ponsel itu pada Shima.
" Ada pesan tuh dari Tian " Darren tampak cemberut. Kalau diperhatikan, belakangan ini Shima selalu sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Kadang ia terlihat tertawa sendiri tanpa sebab. Ketika ditanya apa sebabnya, Shima lebih memilih menghindar sambil berkata " Mau tahu aja " .
__ADS_1
" Oh.. Tian " Shima segera membuka aplikasi hijau yang sedang di gandrungi orang-orang.
" Siapa Tian? " Tanya Darren. Ia makin penasaran.
" Temenku "
" Aku belum pernah denger namanya deh " Selidik Darren.
" Iyalah. Orang kamu gak pernah ke butik. Mana kenal sama Tian "
" Cewek apa cowok? " Darren sudah berjanji didalam hati, kalau ternyata Tian itu pria, ia akan membuatnya menyesali perbuatannya yang sudah mengganggu istri orang.
" Perhatian amat kayaknya "
" Cuma bilang hati-hati masa gitu aja dibilang perhatian. Kamu cemburu ya "
__ADS_1
" Iyalah. Masa aku gak cemburu kalo ada yang perhatian gitu sama ratuku "
" Cemburu itu rasanya kaya apa? "
" Rasanya sakit "
Shima terkekeh. " Baru begitu, udah ngerasa sakit. Gimana jadi aku? " Batinnya. " Udah yuk kita naik. udah di panggilin tuh " Shima segera menarik tangan Darren agar segera berdiri. Dibiarkannya rasa penasaran suaminya bergejolak didadanya. " Lumayan juga jadiin Tian sebagai pancingan "
################################
Bandara Ngurah Rai tampak lengang. Novi pintar sekali memilih hari dan tempat untuk melaksanakan pesta pernikahannya. Shima jadi teringat saat Novi pertama kali bertemu Suaminya di kantor polisi. kebetulan saat itu Arman yang sedang bertugas menangani kasus narkoba yang beritanya sedang Novi liput. Novi mewawancarai Arman hingga tercipta cinta pada pandangan pertama.
Ah.. Shima lupa, Ia jatuh cinta pada Darren juga cinta pandangan pertama. Ketika Shima yang saat itu seorang mahasiswa berlarian di trotoar tanpa memperhatikan lampu lalu lintas. Shima tidak menyadari bahwa lampu sudah berubah menjadi warna hijau. Hampir saja Shima tertabrak jika Darren tak buru-biru menariknya. Dan jangan ditanya saat itu bagaimana perasaan Shima. Antara senang dan malu berkumpul menjadi satu. Dan yang paling memalukan, Shima tak bergeming dari pelukan Darren yang sejak tadi menepuk-nepuk wajahnya. Wanita mana yang tak tergila-gila dengan wajah tampan Darren?
Ia berfikir betapa beruntungnya ia mendapatkan hati Darren. Bahkan seluruh teman-temannya merasa iri pada Shima. Tapi keberuntungan itu hanya bertahan satu tahun pernikahannya. Kini pernikahannya diambang kehancuran, Ya.. karena tidak selamanya kesenangan adalah sebuah keberuntungan.
__ADS_1
Darren segera menggandeng tangan Shima. Di stopnya sebuah taxi lalu segera berangkat ke hotel yang sudah disewakan oleh Novi. Novi sengaja memilihkan hotel dimana acara resepsi pernikahannya akan di adakan di ballroom hotel tersebut.
Hotel yang nyaman dengan pemandangan pantai nampak di jendela kamarnya. Ah.. andai Darren tak mendua, mungkin ini akan jadi momen bulan madu ke dua kita bersama calon buah hati kita! Shima menyusut bening yang mengembang di pelupuk matanya.