
"Maaf Lisa, sebaiknya kita bercerai saja" Ucap Darren tiba-tiba.
Lisa terpaku. Ia memastikan pendengarannya tidak salah. "Apa? Bercerai?"
"Aku tidak tahan dengan kondisi kita yang terus-terusan seperti ini. Aku sudah berusaha bersabar dengan segala sikapmu, tapi aku tak bisa. Aku terlalu lelah disalahkan, bahkan kesalahan itu sama sekali tidak ku perbuat"
"Bagaimana kamu bisa berpikir untuk bercerai sementara kondisiku seperti ini? Dimana hati nurani mu?"
"Terserahlah, kau mau bilang apa. Aku ingin menenangkan diriku dulu. Kau boleh tetap tinggal di apartemen ini selama masa penyembuhanmu. Aku akan mencari tempat lain untuk tinggal. Semoga kita bisa sama-sama menenangkan diri"
"Apa yang kau rencanakan?"
"Tak ada"
"Apa kau berpikir bisa kembali pada Shima?"
"Meskipun terbesit sedikit dibenakku, tapi aku tidak berharap. Apapun yang terjadi nanti, semoga semua ini terbaik untuk kita?"
"Untuk kita? lebih tepatnya untukmu!"
"Terserah, aku malas berdebat denganmu. Besok aku akan mendaftarkan perceraian kita ke pengadilan agama"
Darren segera pergi meninggalkan Lisa sendiri dikamarnya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi di ruang kerjanya. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Darren mempersilahkan Bu Darmi masuk kedalam.
"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan, tuan"
__ADS_1
"Ada apa Bu Darmi?"
"Saya ingin berhenti bekerja, tuan"
"Mengapa tiba-tiba sekali? Apa ada yang salah denganku atau dengan Lisa?"
"Tidak, tuan. Saya hanya ingin ikut dengan nyonya Shima. kemarin nyonya Shima menawarkan pada saya untuk bekerja dengannya"
"Shima menelepon Bu Darmi?"
"Tidak, tuan. Dua Minggu lalu nyonya datang ke sini untuk menjenguk nyonya Lisa"
"Apa? Kok aku tidak tahu kalau Shima kesini Bu?"
Darren terdiam. Lisa sama sekali tidak cerita kalau Shima datang menjenguknya. Shima memang benar-benar sosok yang baik. Ia bahkan masih mau menjenguk orang yang telah menyakitinya. Darren makin mantap untuk bercerai dengan Lisa. Dari awal memang ia terpaksa menikahi Lisa, dan semua itu ternyata lebih menyakiti baik dirinya sendiri ataupun Lisa.
"Saya mohon maaf apabila selama bekerja dengan tuan, saya banyak melakukan kesalahan"
"Baiklah, Bu. Semoga Bu Darmi bahagia disana. Tapi, Bu Darmi akan tinggal rumah Shima?" Selidik Darren karena sampai saat ini ia belum tahu tempat tinggal Shima.
"Saya juga belum tahu, tuan. Besok nyonya Shima akan menjemput saya dirumah. Saya permisi tuan, terima kasih atas semua kebaikan tuan pada saya selama saya bekerja disini"
Darren tak menggubris ucapan Bu Darmi. Dibiarkannya sosok yang sudah bekerja setahun itu menghilang dibalik pintu. Perlahan, sebuah senyuman tersungging di bibirnya lalu menjelma menjadi isakkan kecil. Satu persatu orang yang ia sayangi perlahan meninggalkan nya. Menyisakan luka yang teramat perih dihatinya.
################################
__ADS_1
Shima membelai rambut tian yang tengah berbaring di pangkuannya. Matanya terpejam sambil memeluk lutut istrinya. Sebuah kenyamanan yang baru kali ini ditemukannya.
"Sayang, besok aku jemput Bu Darmi ya. Biar bu Darmi tinggal di apartemenku sambil membersihkan apartemen"
"Sayang, kenapa kamu peduli sekali padanya?"
"Di usia tuanya ia harus menjalani kehidupan sendiri tanpa anak dan suami. Bahkan ibuku lebih beruntung karena memiliki aku dan Shila. Bu Darmi adalah orang yang baik, ia patut bahagia di hari tuanya"
"Kamu baik sekali sayang. Nanti saat aku mengumumkan pernikahan kita. Semua yayasan sosial akan ku serahkan padamu"
"Terima kasih sudah mempercayakan padaku. Terima kasih selalu mendukungku"
"Aku sudah berjanji padamu, kebahagiaanmu adalaj prioritas untukku. Apapun itu, asal membahagiakanmu maka akan aku lakukan"
"Gemes banget deh aku sama suamiku ini. Udah ganteng, baik lagi. Jadi pengen ngajak bobo manis" Goda Shima.
"Ayo kita bobo manis sayang" Tian bangkit dari pangkuan Shima dengan semangat.
"Bobonya peluk aja ya. Aku lagi datang bulan"
"Yaaaahhhhh!!!!" Kekecewaan langsung terlihat di wajah Tian.
Shima hanya terkekeh melihat wajah suaminya yang tampak murung itu. "Sabar ya, cuma seminggu kok"
"Yahhhh... lama amat. Bisa karatan deh" Lagi, Tian mengeluh.
__ADS_1