Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 44


__ADS_3

Tian membawa semangkuk bubur ayam dan teh manis hangat. Awalnya Ia cukup bingung memilih makanan untuk Shima karena tak pernah punya pengalaman merawat orang sakit. Tian sendiri selalu menjaga kesehatannya karena ia adalah seorang pemimpin diperusahaannya kalaupun ia jatuh sakit, ada dokter pribadi yang merawatnya. Setelah bertanya pada ibu penjual dikantin makanan apa yang boleh dimakan oleh wanita yang habis keguguran, bubur ayam dan teh manis hangat jadi pilihan terbaiknya.


" Makanlah, kamu butuh tenaga biar cepat sembuh "


Shima menghapus bening dimatanya. Shima berusaha membendungnya tapi Air matanya terus mengalir tanpa henti. Shima mengambil mangkuk yang disodorkan oleh Tian. Belum sempat sesendok masuk ke mulutnya, Shima kembali menangis. Sedang Tian bingung harus berbuat apa. Hatinya pun ikut teriris sembilu melihat Shima yang begitu terpukul.


" Apa yang bisa kulakukan untukmu? Jujur saja aku bingung bagaimana harus menenangkanmu " Tian memandangi wajah pucat Shima.


" Maafkan aku Tian. Maafkan karena kamu harus melihat kondisiku yang seperti ini. Tapi aku benar-benar tak bisa menahannya. Sekeras apapun aku coba melupakannya, bayangannya makin menghantuiku " Ucapnya terisak.


" Jika ada yang ingin kamu ceritakan padaku, ceritalah! Aku akan mendengarkannya "


" Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya hal yang terpikir olehku adalah bagaimana membalasnya. Membuatnya menyesal karena sudah melakukan ini padaku "

__ADS_1


" Kalau begitu, biarkan aku yang membalasnya untukmu "


" Tidak Tian, Aku akan membuatnya terjatuh dengan tanganku sendiri "


" Apa rencanamu selanjutnya? "


" Setelah mendapat tempat tinggal aku akan mencari pekerjaan. Uang tabunganku hanya cukup untuk sewa apartemen. Aku masih harus membayar pengacara "


" Entahlah " Shima menarik nafas panjang.


Seandainya boleh, Tian ingin sekali mendekapnya. Menguatkannya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi.. Ah.. Tian tak ingin mengambil kesempatan dibalik luka hati Shima. Diam-diam Tian mengepalkan tangannya. Hatinya terlalu sakit melihat Shima yang begitu terluka.


" Pulanglah Tian. Kamu juga butuh istirahat. Aku tak apa-apa. Maafkan sudah merepotkan mu. "

__ADS_1


" Baiklah. Jika butuh apa-apa segera hubungi aku! " Tian beranjak pergi. Mungkin Shima butuh waktu untuk sendiri. Mungkin ia terlalu malu terlihat begitu terpuruk. Mungkin.. Ah.. masih banyak mungkin-mungkin yang lain berputar dikepala Tian.


################################


Tian merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Bayangan Shima masih menari diotaknya. Tian tahu Shima sangat mencintai Darren, itu juga yang membuatnya semakin terluka karena di khianati orang yang sangat ia cintai. Jika boleh menerka-nerka, tujuan Shima datang ke kantor adalah untuk memberi tahu Darren kabar kehamilannya. Kehamilan yang begitu ditunggu-tunggu dan berakhir dengan melihat perselingkuhan suaminya.


Tian bangun dan bergegas mandi. Mengganti pakaiannya dan kembali kerumah sakit. Shima tidak boleh dibiarkan sendiri. Otaknya terlalu kacau untuk berpikir tenang dan logis. Takut Shima melakukan hal-hal nekat.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Harusnya Shima sudah tertidur terlebih dengan kondisinya yang belum sehat dan sudah menangis seharian tapi Tian terpaku didepan pintu kamar rawatnya. Matanya nanar memandangi Wanita yang tengah menangis tersedu-sedu dengan menundukkan wajahnya di tepi ranjang. Ditangannya menggenggam foto janin mungilnya. Tian mengurungkan diri untuk masuk kedalam. Ia memutuskan berdiri diluar sambil mengawasi Shima dari balik kaca pintu kamarnya.


" Maaf mengganggu malam-malam pak Yohan. Sepertinya besok saya tidak berangkat ke kantor. Suruh pak Wayan menemui saya dirumah sakit. Terus awasi Darren! "


Tian kembali mengedarkan pandangannya pada sosok yang mulai terkulai lemah di kepala ranjang. Matanya sudah terpejam namun isakkannya sesekali masih terdengar. Tegarlah wanitaku!

__ADS_1


__ADS_2