
Shima membisu memandangi gaun indah di atas ranjangnya. Desain nya tampak begitu anggun dan elegan meskipun berwarna gelap. Ia rasa ia harus seperti gaun ini, meskipun punya masa lalu yang tidak menyengkan, ia tetap harus menjalani hidupnya dengan indah.
Suara ketukan pintu membuatnya mengalihkan pandangan ke luar kamarnya. Bergegas ia beranjak ke ruang tamu dan membukakan pintu untuk tamu yang sudah pasti adalah Tian. Selama ia tinggal disini tak ada yang mengunjunginya selain Tian. Wayan hanya akan datang jika Tian berada di apartemen nya. Shila da ibunya belum pernah di Ajaknya mengunjungi apartemen barunya. Menurutnya tidak perlu, karena Shima hanya tinggal sementara disini. Setelah urusannya dengan Darren selesai, ia akan pindah ke tempat yang lebih sederhana dan mencari pekerjaan baru. Berlama-lama disini hanya akan menghabiskan semua tabungannya dengan sia-sia.
" Aku bawakan makan malam" sapa Tian didepan pintu sambil menyerahkan seplastik makanan pada Shima lalu segera masuk dan duduk diruang makan tanpa diperintahkan masuk oleh Shima.
Shima mengambil sebotol jus jeruk dan air putih, serta dua buah gelas yang kemudian diletakkan nya diatas meja. Dibukanya sekotak makanan itu untuk Tian dan sekotak lagi untuknya.
" Bagaimana pertemuanmu dengan Lisa?"
"Biasa saja. tak ada yang istimewa"
" Apa yang kau bicarakan?"
"Tak ada. Lebih tepatnya aku tak membiarkan ia bicara"
"Kenapa?"
"Melihatnya membuatku sakit mata. Aku benar-benar mati-matian menjaga imejku disana. Padahal didalam hatiku, ingin sekali aku mencabik-cabik wanita yang merebut suamiku. Tapi ku tahan semuanya"
"Syukurlah kau baik-baik saja"
"Hei.. memang aku kenapa?"
"Kupikir saat kau pulang kau akan mengumpat dan menangis sejadi-jadinya"
__ADS_1
"Enak saja, aku ini tipikal perempuan yang sabar tau"
"Lalu, siapa yang kemarin marah-marah sambil menggebrak-gebrak meja didepan aku dan Wayan ya? waktu Wayan menceritakan persyaratan yang diminta Darren"
Shima memanyunkan bibirnya ke arah Tian. Detail sekali pria ini. Bahkan Shima saja lupa dengan kelakuannya yang memalukan itu. "Eh.. ngomong-ngomong soal persyaratan Darren, apa kamu punya kandidat yang bisa ku jadikan pacar sementara ku?"
"Ada"
"Siapa?"
"Tuan Kim"
Shima menghentikan makannya sejenak. " Bahkan disaat yang mendesak seperti ini saja, kau masih suka bercanda"
"Kau tinggal minta tuan Kim datang. Dia pasti akan datang"
" Tidak bisa, aku ada dinas keluar kota"
Shima menyandarkan punggungnya pada kursi "Ah.. sepertinya perceraian ku akan sulit" Keluhnya.
"Aku akan menyuruh tuan Kim jika kau mau"
"Terserahlah. Aku pasrah saja"
"Dimana tempat kalian akan bertemu"
__ADS_1
" Direstoran Perancis. Dulu aku bertemu tuan Kim, nyonya Kim dan pak Yohan disana"
"Itu kamu sudah pernah bertemu tuan Kim. Masih mengaku tidak mengenalnya"
"Bagaimana bisa mengenalnya jika aku hanya melihat punggungnya, Tian" Suara Shima makin meninggi. Lama-kelamaan Tian menjadi menyebalkan saat membicarakan tuan Kim. Sedang Tian masih asyik dengan makanannya.
" Tian, ayo kita berfoto bersama"
" Untuk apa?"
"Untuk di tunjukkan pada Darren. Aku akan bilang kalau kau pacarku tapi kau pergi dinas jadi tidak bisa menemaniku"
" Kau akan menyesal jika menunjukkan foto itu pada Darren"
"Kenapa memangnya?"
" Dia tidak akan percaya jika hanya melalui sebuah foto. Bisa jadi kamu dikira mengada-ada"
"Kalau kau tak ingin aku dianggap hanya membual, maka datanglah"
"Entahlah. Sepertinya kali ini aku agak sulit melepaskan diri dari pak Yohan"
Shima merasa bersalah sudah memaksa Tian menemaninya. Ia lupa kalau Tian hanya seorang pegawai di butik Nyonya Kim. Dan ia tak ingin Tian kehilangan pekerjaan karena permintaan konyolnya.
Tian berdiri dari duduknya setelah menyelesaikan makannya. Ia menghampiri Shima dan melingkarkan kedua tangannya pada bahu Shima. Shima cukup terkejut dengan aksi mendadak Tian. Selama ini tak ada satupun pria yang menyentuhnya selain Darren.
__ADS_1
"Ayo kita berfoto!"