
Pesta pernikahan Novi dan Arman berlangsung dengan khidmat dan meriah. Tampak sekali rona kebahagian menghiasi wajah mereka. Seperti yang Shima rasakan dulu saat menikah dengan Darren. Dengan penuh keyakinan Shima memandang pria yang berdiri disebelahnya akan menghabiskan sisa usianya bersamanya. Bahagia hingga ajal pun tak bisa memisahkan mereka. Tapi apa mau dikata, Rencana manusia tak selalu indah di mata, masih ada rencana lain yang Tuhan siapkan sebagai pengganti terbaiknya.
Darren sejak tadi menggenggam erat tangan Shima seolah-olah takut Shima akan menghilang dari pandangannya. Entah mengapa Shima merasa risih dengan sentuhannya, berulang kali Shima mencari alasan agar dapat lepas dari genggamannya. Tapi lagi-lagi Darren kembali meraih tangannya lalu menggenggamnya. Apalagi ditambah riuhnya acara yang kebanyakan tamunya adalah teman-teman Shima. Mereka masih dengan tatapan irinya seolah-olah Shima wanita paling beruntung di dunia.
Cuih! Untuk apa menggenggamnya erat jika kau sendiri yang melepaskannya! Semua orang boleh memandangmu sebagai pria baik-baik, tapi tidak dengan Shima. Untung saja Tian tidak mengizinkannya untuk melihat video yang kedua. Shima yakin sekali, jika sampai ia melihatnya, hari ini ia dan Darren bukan datang untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya tetapi datang ke pengadilan agama untuk sidang perceraiannya.
Sebenarnya Shima tak berharap akan ada video ketiga. Karena dalam lubuk hati Shima yang paling dalam, masih tersisa rasa cinta untuknya. Baginya, Tuhan sudah merencanakan semua termasuk peristiwa yang membuat janinnya keguguran. Jika janin itu masih ada, mungkin Shima tak akan bisa semudah itu bercerai dengan Darren. Tentunya, Shima tak ingin anaknya lahir tanpa kasih sayang dari seorang ayah.
" Sayang, makan yuk " Darren mengajak Shima mengambil makanan. Sejak upacara adat berlangsung Shima dan Darren memang belum menyentuh makanan sedikitpun.
Shima mengangguk lalu berdiri dari meja tempatnya duduk. Shima hanya mengambil beberapa camilan dan buah di piringnya.
__ADS_1
" Kamu gak makan? " Tanya Darren.
" Nanti saja, belum lapar " Jawabnya lalu memasukkan potong kecil buah melon kedalam mulutnya.
Pesta pernikahan usai tepat pukul empat sore. Shima dan Darren memutuskan untuk segera kembali ke kamar dan beristirahat. Mengumpulkan tenaga karena besok Darren harus kembali ke ke ibu kota.
Shima membereskan pakaian milik Darren dan memasukkannya ke dalam koper. Darren terus memandangi wajah istrinya yang menurutnya bertambah cantik itu.
Shima tersenyum kecut mendengar pertanyaan Darren. " Apa saja. Yang penting sehat " Jawabnya sekenanya.
" Pengennya sih cowok duluan biar bisa jagain adiknya, tapi anak cewek itu lucu banget. Gimana kalau kembar cewek cowok? " Darren terlihat sangat antusias.
__ADS_1
" Satu aja susah ngurusnya, apalagi dua " Shima makin muak mendengar ocehan Darren. Jika ia memang ingin memiliki anak dari rahim Shima, untuk apa ia mengisi rahim wanita lain?
" Nanti kan ada Bu Darmi yang membantumu mengawasi anak-anak kita. Kamu kok jadi pesimis gitu "
" Entahlah. Aku tiba-tiba tidak mood membicarakan masalah anak " Shima mengelak.
Darren memahami perasaan Shima yang mungkin tertekan karena belum memiliki keturunan. Atau mungkin moodnya sedang buruk karena sedang datang bulan. Semua orang pun tahu, jika sedang datang bulan tingkat sensitivitas wanita suka berada diatas batas kewajaran.
" Sabar ya sayang. Mau satu atau dua. Mau cewek atau cowok. Tuhan pasti memberikannya di waktu yang tepat. Kamu jangan sedih apalagi stress. Percaya deh sama aku. Cepat atau lambat kita pasti punya anak "
Tiba-tiba Shima teringat janinnya yang Entah apa jenis kelaminnya. Saat itu usianya baru lima Minggu. Ingin Shima kembali mengandai-andai, tapi malah nantinya akan menambah dalam luka hatinya. Mungkin ini rencana terbaik yang Tuhan berikan untuknya!
__ADS_1