
" Serius kak? " Shila membelalakkan matanya.
Shima mengangguk sambil mengaduk-aduk es batu didalam gelas minumnya.
" Coba cubit aku! " Pinta Shila. Shima segera mencubitnya " Aww! Sakit! " Teriaknya.
" Tadi katanya minta cubit " Shima terkekeh melihat adiknya yang masih mengusap-usap lengan bekas cubitannya.
" Itu cuma kiasan kali gak usah di cubit juga, kenceng banget lagi. Ngomong-ngomong kapan kakak tahu kelakuan kak Darren? "
" Waktu kamu cerita tentang Darren dan Lisa di restoran, aku sudah mulai curiga makanya aku sengaja mendekati Lisa. Tapi saat itu belum ada apa-apa dengan mereka berdua. Lalu ada yang mengirimiku foto mereka sedang di lobby hotel. Saat ku konfirmasi pada Darren ia menjawab jujur kalau ia sedang makan-makan dihotel bersama teman-temannya. Ku tepis lagi rasa curiga ku. Pernah juga ada noda bekas lipstik di kemeja putihnya, tapi ku tepis lagi karena nodanya di bagian punggungnya bukan di depannya. Sampai akhirnya, aku di nyatakan hamil oleh dokter Adam dan niatku untuk memberi sureprise padanya tentang kehamilanku harus kandas karena aku melihat ia dan Lisa berhubungan di kamar mandi kantor "
" Apa! Kakak hamil? " Lagi, Shila berteriak membuat beberapa pengunjung restoran menoleh ke arah mereka.
" Kamu gak sekalian pake pengeras suara aja! dilihatin orang-orang tau! "
" Eh iya maaf, kaget aku! Terus kak Darren tau kalo kakak hamil? "
Shima menggeleng " Tidak, aku keguguran "
__ADS_1
Kali ini Shila menutup mulutnya rapat-rapat takut ia kembali berteriak. Ia bahkan menepuk-nepuk dadanya dengan telapak tangannya, tak bisa membayangkan bagaimana perasaan kakak satu-satunya itu.
" Aku bingung harus bicara apa dengan ibu " Keluh Shima. Wajah yang tadinya santai kini berubah muram, tak bisa membayangkan reaksi ibunya saat mendengar anaknya akan menjadi seorang janda. " Aku takut ibu malu punya anak seorang janda " Imbuhnya.
" Lho, memang apa yang salah dengan janda? zaman udah beda kak, gak kaya dulu lagi janda jadi olok-olokan orang. Daripada menghabiskan hidup dengan orang yang terus-terusan menyakiti, lebih baik hidup sendiri. Aku yakin ibu pasti paham. Nanti aku bantu bicara pada ibu "
" oke. Terima kasih sebelumnya. Ngomong-ngomong, kamu gak malu kan punya kakak janda? "
" CK.. CK.. CK.. malu lah.. malu banget "
Shima langsung mencubit pipi adiknya itu. " Dasar rese! " Makinya.
" Sembarangan aja kalo ngomong! " Shima melotot ke arah Shila.
" Gantengan juga Tian daripada kak Darren. Gak apalah cuma supervisor di butik, biar kalo kita belanja dapet diskon terus "
" Eh.. makin sembarangan nih mulutnya. Jadi janda aja belum udah mikirin gantinya. "
" Terus mau ngapain? Ngeliatin kak Darren bahagia ama selingkuhannya gitu? move on lah! Ada yang ganteng didepan mata kenapa gak diambil aja " Celoteh Shila.
__ADS_1
" Sana pergi! " Shima segera mengusir Shila begitu melihat Tian sudah didekatnya. Takut adiknya yang ceriwis itu bicara macam-macam pada Tian.
" Sudah lama? " Tanya Tian saat melihat meja sudah terisi dua gelas dan dua piring sushi yang ludes.
" Satu jam yang lalu "
" Oh.. Sudah siap? "
" Siap apa? "
" bercerai "
" Sudah sampai sejauh ini pasti sudah siap dong. Kamu aneh-aneh aja "
" Kapan siapnya lagi? "
" Siap untuk apa lagi? "
" Menikah! "
__ADS_1
Shima langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Tian. Cerai saja belum sudah ditanya kapan akan menikah!