Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 82


__ADS_3

Sidang kedua kembali digelar. Kali ini agendanya adalah putusan sidang. Palu diketuk, Shima dan Darren resmi bercerai. Kelegaan segera memasuki relung hati Shima. Satu masalah didepan matanya sudah selesai. Ia akan menjalani hidup baru dengan orang yang baru. Tinggal menunggu surat cerai resminya terbit.


Lisa segera menghampiri Darren setelah sidang selesai. Sedang Tian masih berpangku tangan menunggu di kursi paling belakang lengkap dengan topi dan maskernya.


"Aku dan Darren sudah menikah secara agama, Shima. Tolong doakan kami supaya langgeng" Lisa memeluk lengan Darren erat. Ia sengaja mempertontonkan kemesraannya dengan Darren. Sepertinya tuan Kim hanya bermain-main saja dengannya, buktinya saat sidang ia tak datang menemaninya.


"Tentu saja aku akan mendoakan kebaikan untuk kalian berdua. Perlu kalian ingat, lelaki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, begitupun sebaliknya"


"Apa maksud omonganmu?" Darren meradang mendengar ucapan Shima. Sindiran itu telak menyinggungnya.


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya mengingatkan saja, pria yang baik tidak akan meninggalkan wanitanya demi wanita lain dan wanita yang baik tidak mengambil pria milik wanita yang lain. Itu nasehat yang paling bijak agar kalian tidak mengulangi kesalahan yang sama"


Merasa lama menunggu, Tian segera menghampiri Shima yang masih berdiri mengobrol dengan Darren dan Lisa.


"Sayang, ayo pulang!" Ajak Tian. Entah mengapa darahnya mendidih saat melihat Shima bersama Darren.


"Jaga baik-baik rumah tangga kalian. Aku pulang. Bye" Shima melambaikan tangannya. Tian segera memeluk pinggangnya dan mengajaknya keluar ruang sidang.


"Ayo kita pulang!" Ajak Lisa.


Darren bergegas mengikuti langkah lisa tanpa bersuara. Hatinya masih dipenuhi harapan dapat memeluk tubuh Shima lagi. Auranya sangat terlihat setelah bercerai dengannya. Darren kembali menyesali perbuatannya. Yang kini bisa ia lakukan hanyalah hidup bersama wanita yang baru ia sadari tidak dicintainya.


################################


"Hallo" Shima mengangkat panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.


"Dengan Ashima Nayla?"


"Iya. Dengan siapa ini?"

__ADS_1


" Rio"


"Ada apa?"


"Besok datanglah ke studio. aku ingin menawarkan kerja sama denganmu"


"Kerja sama apa?"


"Jadi modelku"


"Aku tidak berminat"


"Cobalah dulu! Aku janji akan melakukan wawancara live denganmu setelah kau jadi modelku"


"Akan ku pikirkan dulu"


"Oke, kutunggu kabar baik darimu"


" Telepon dari siapa?"


"Rio"


"Rio siapa?"


"Itu lho, fotografer yang lagi heboh karna kasus narkoba"


"Rio Dewantara?"


Shima mengangguk "Dia menawariku jadi modelnya"

__ADS_1


"Oh ya? Kalian saling mengenal? "


"Tidak, hanya aku pernah bertemu dia saat mencari berita ke studionya"


"Kamu menerima tawarannya menjadi model?"


"Entahlah. Aku tidak bakat jadi model. Muka aja pas-pasan begini. Tapi Rio berjanji mau wawancara ekslusif denganku"


"Jika Rio memilihmu, itu artinya kamu istimewa untuknya"


"Sok tahu deh tuan muda ini" Shima mencubit hidung mancung Tian.


"Temani aku di kantor ya" Rengek Tian.


"Enggak ah. Nanti kamu bukannya kerja malah gangguin aku"


"Ya sudah. aku ikut kamu aja. kamu mau kemana sekarang?"


"Mau bantu ibu menjahit dirumah. Mau ikut?"


"Ikut"


"Terus kamu mau ngapain disana?"


"Lihatin kamu jahit baju"


Shima mendengus. Yang ada ia dan ibunya tidak bisa mengerjakan apa-apa karena sungkan ada Tian disana. Ibunya sudah cukup terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba melamar shima jangan sampai ia kembali terkejut karena Tian ingin seharian dirumahnya.


"Kita nonton bioskop tapi habis itu pulang"

__ADS_1


"Oke" Tian kembali menyandarkan bahunya pada Shima. Matanya terpejam tetapi otaknya penuh dengan rencana. Terlebih ia mendengar nama Rio. Ia harus segera menemuinya. Ia harus memastikan hubungannya dengan Shima hanya sebatas rekan kerja.


__ADS_2