
" Kok malah bengong? " Tanya Tian saat melihat Shima terdiam tanpa ekspresi " Aku tanya kapan siap nikah lagi? "
Shima melotot ke arah Tian, Untung saja wajahnya ganteng kalau tidak sudah dilemparnya pakai gelas yang dipegangnya " Pertanyaan gak mutu " Cibirnya kesal.
" Aku cuma mau mengatur masa depanmu saja "
" Sumpah deh, Kamu tuh orangnya aneh banget lho Tian. Kamu aja gak kenal Deket sama aku tapi udah mikirin masa depan aku. Menurutku ya, daripada mikirin masa depan aku lebih baik kamu mikirin masa depan kamu sendiri "
" Ya.. karena masa depanmu berhubungan dengan masa depanku juga "
" Urusannya masa depanmu sama aku tuh apa? "
" Karena Tuan Kim.. "
" Oh.. biar kamu naik pangkat kaya pak Yohan gitu "
" Pangkat tidak penting buatku. Yang penting aku harus tahu dulu kapan kamu siap untuk menikah lagi. Setelah bercerai tentunya "
" Entah kapan. Aku belum mau menjalin hubungan dengan orang dulu. Aku mau bebas. Ngomong-ngomong mana surat gugatannya? Nanti malam biar ku suruh Darren menandatanganinya "
Tian menyerahkan sebuah Map pada Shima " Butuh bantuan? " Tanyanya.
" Tidak usah. Tapi jika Darren menolak bagaimana? "
" Suruh dia bicara pada Wayan "
__ADS_1
" Sepertinya sih gak akan mudah "
" Aku punya cara untuk memaksanya "
" Oh ya? Bagaimana caranya? "
" Rahasia. Ayo ku antar pulang. Aku harus kembali bekerja "
" Aku naik taxi saja. Bye "
################################
Darren tampak bingung melihat koper Shima yang berjajar diruang tamu. " Mau kemana sayang? " Tanyanya.
" Pindah "
" Tanda tangani ini! " Shima menunjuk sebuah map di atas meja.
" Apa ini? " Darren mengambil sebuah map berwarna coklat itu. Mulutnya ternganga lebar saat membaca isinya. " Apa ini? Gugatan cerai? " bentaknya sambil membuang surat itu kelantai.
" Iya. Surat gugatan cerai. aku ingin kita bercerai. Apakah omonganku jelas? "
" Ada apa sebenarnya sayang, Kenapa tiba-tiba kamu ingin bercerai. Selama ini kita baik-baik saja "
" Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Ada apa ini? Bukankah kita baik-baik saja? Kenapa malah selingkuh! "
__ADS_1
" Apa? Selingkuh? Kamu gila! "
" Sudahlah.. akui saja! "
" Apa yang harus ku akui? "
" Perselingkuhanmu dengan Lisa! "
" Tidak akan pernah! Dan ingat Shima, aku tidak akan pernah menceraikan mu! "
" Aku hanya kasihan pada Lisa. Daripada menjadikannya budak nafsumu bukankah akan lebih baik jika kau menikahinya secara resmi "
" Siapa yang memberitahumu? Lisa? "
" Memang kamu tidak tahu? Bahkan dinding pun punya telinga. Untuk apa Lisa memberitahukan hal memalukan itu padaku "
" Jika kamu tidak punya bukti, jangan asal bicara! "
" Terserah! Bicaralah pada pengacaraku. Aku pergi. Selamat tinggal suamiku, eh.. mantan suamiku "
" Shima, Tunggu dulu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku tahu kamu sedang emosi. Semua itu tidak benar Shima. Percayalah padaku! "
" Oh ya? Bahkan kamu saja takut mengakui kesalahanmu. Lalu pertimbangan apa yang bisa aku ambil darimu sedangkan kau yang sudah jelas-jelas bersalah saja tidak mau mengakuinya. Siapa yang tahu kalau nantinya aku akan dibohongi lagi olehmu? "
" Oke! Apa yang kau minta? aku akan mengabulkannya! Kau ingin aku meninggalkan Lisa? Oke! aku akan meninggalkannya. Kau ingin aku berlutut dan meminta maaf padamu? oke! Aku akan melakukan apapun itu tapi tolong jangan tinggalkan aku Shima, aku mencintaimu " Ratapnya sambil memegang tangan Shima.
__ADS_1
" Oke. satu-satunya hal yang ku minta adalah CEPAT CERAIKAN AKU!" Shima segera menyeret kopernya keluar. Tujuannya adalah apartemen sewaannya. Tak dipedulikannya suara Darren yang masih berteriak memanggil-manggil namanya. Ia ingin segera sampai disana. Ingin menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahannya.