
Mobil Rio berhenti didepan perusahaan terbesar di ibu kota. Shima terlihat menghela nafasnya, keraguan menyelimuti hatinya.
"Yakin nih?" Tanyanya pada Rio.
Rio mengangguk "Tentu saja" Jawabnya ringan. Ia mengerti calon bibinya itu ragu untuk ikut masuk ke dalam. Ada dua pria bersejarah di hidupnya yang bekerja di perusahaan itu.
Shima segera mensejajari langkah Rio. keduanya berjalan beriringan memasuki lobby perusahaan. Shima lebih banyak menundukkan wajahnya, terlebih saat resepsionis itu menatapnya lekat. Shima makin merasa tidak nyaman berlama-lama disana.
"Kenapa harus di hexindo sih" keluhnya dalam hati.
Setelah mendapat kartu akses masuk, Shima dan Rio segera naik ke lantai tujuh.
"Rio, apa kau yakin ini murni vooting? bukan karna pamanmu yang punya perusahaan ini?" Shima kembali memastikan bahwa kontraknya dengan hexindo ini bukan karena Tian yang mengaturnya.
"Iya, bi" Jawab Rio singkat.
"Aku gak usah ikut rapat boleh gak?" Nyali Shima ciut begitu tahu bahwa ia akan rapat dengan Darren dan Tian sekaligus.
"Gak boleh! yang mau tanda tangan kontrak kan bibi, bukan aku" Rio tahu pasti berat bagi Shima bertemu mantan suami dan calon suaminya dalam satu forum.
"Aku takut hanya akan membuat rumor yang tidak-tidak untuk Tian"
Rio kembali menghela nafasnya. Bagaimana bisa calon bibinya itu tidak mempercayai dirinya sendiri. "Dengar ya bibiku sayang, apapun yang bibi peroleh hari ini itu murni talenta bibi sendiri. Paman tidak pernah ikut campur dalam kesuksesan bibi. Percaya dirilah!"
Shima makin menundukkan wajahnya. Darren pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
__ADS_1
"Kenapa lagi? takut sama mantan suami bibi? kalo aku yang jadi bibi, aku malah sengaja manas-manasin dia"
"Awas ya, jangan macem-macem disana ada pamanmu!" ancam Shima yang melihat gelagat aneh Rio.
Rio menghiraukan ucapan Shima. ia segera keluar begitu pintu lift terbuka. Diikuti dengan Shima yang berlari-lari kecil menyusulnya.
Didalam ruangan Darren dan Tian sekretaris nya sudah menunggu. keduanya segera menyambut kedatangan Rio dan Shima lalu mempersilahkan duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Senang bisa bertemu dengan anda kembali pak Darren" Rio berbasa-basi.
"Saya juga sangat senang bisa bekerja sama dengan anda, mohon tunggu sebentar, sekretaris saya akan memanggil Tuan Kim"
"Baik pak Darren, sambil menunggu tuan Kim saya mau telepon asisten saya dulu. Sayang, tunggu sebentar ya, aku telepon Tya dulu"
Rio menggenggam tangan Shima erat lalu melepaskannya perlahan "Aku cuma sebentar kok" Ucapnya disertai seringaian jahatnya lalu berlari keluar ruangan.
"Awas kau Rio!" Ancam Shima dalam hati "Dasar anak nakal" Sungutnya.
"Bagaimana kabarmu, Shima?" Darren membuka obrolan.
"Baik" Jawab Shima singkat.
"Sepertinya hubunganmu dengan Rio cukup dekat" Ledeknya.
"Dekat sekali" Jawab Shima asal. Ia tahu mengarah kemana pertanyaan-pertanyaan Darren.
__ADS_1
"Bagaimana hubunganmu dengan tuan Kim?"
"Sangat baik"
"Apa masih akan baik jika tuan Kim tahu apa yang kau lakukan dibelakangnya?"
"Sebenarnya kau mau bicara apa, Darren?"
"Tidak usah berpura-pura polos, Shima. Siapapun pasti tahu kau main curang"
Belum sempat Shima membalas ucapan Darren, Tian tampak masuk kedalam ruangan bersama Yohan dan Rio dibelakangnya. Disusul oleh tim Mozza advertising. Tian bertindak seolah-olah tidak memiliki hubungan dengan Shima. Kharismanya sebagai pemilik perusahaan terlihat jelas, berbeda saat bersama dengan Shima.
Hal pertama yang dibahas adalah kontrak kerja sama dilanjutkan dengan konsep beauty natural yang di usung Mozza advertising sekaligus tempat dan kostum syutingnya.
Rio membaca kontrak kerja sama dengan teliti. Sesekali ia berbisik pada shima atau memegang tangannya. Tian menatap sinis keponakan satu-satunya itu, ia tahu Rio sengaja melakukannya untuk memancing emosinya. Disisi lain, Darren terhanyut memandangi wajah ayu shima sambil sesekali melemparkan pandangannya pada tuan Kim yang terlihat kesal.
Rapat selesai dengan hasil kerja sama yang disepakati kedua pihak. Darren segera menutup rapat dan membereskan beberapa file untuk membuat rancangan kerja sama yang sudah disepakati.
"Maaf nona Ashima dan tuan Rio Dewantara, saya ingin ngobrol dulu dengan kalian berdua" Pinta tian.
"Baik tuan Kim" Sahut Rio.
Semua segera meninggalkan ruangan rapat. Banyak pertanyaan bersliweran di hati darren melihat tuan Kim ingin bicara pribadi dengan Rio dan shima. Tamatlah riwayat seorang Rio Dewantara jika sudah berurusan dengan tuan Kim. Seulas senyum sinis mengembang pada wajahnya.
"Aku akan tunggu kehancuran mu Shima" batinnya.
__ADS_1