
Setelah memastikan hanya ada mereka bertiga, Tian langsung menjitak kepala Rio. Rio langsung berlari bersembunyi dibelakang Shima.
"Sini kamu! dasar anak nakal, beraninya menyentuh calon bibimu" Makinya.
"Sedikit doang, pelit amat sih" Ledek Rio.
Tian segera mengejar Rio yang berlari memutari meja. Shima menghela nafas panjang, kharisma kekasihnya yang cool tadi saat rapat langsung berubah menjadi kekanakan. Ia hanya geleng-geleng kepala menyaksikan paman dan keponakan itu saling berkejaran. Begitu Tian berhasil menangkap Rio, ia segera menjewer kupingnya.
"Awas ya, berani lagi pegang-pegang bibimu paman potong telingamu nih"
"Aduh, sakit paman! Aku kan sengaja bikin dua pria cemburu tadi" Rio memegangi tangan pamannya yang masih menarik telinganya.
Tian segera mengendurkan jewerannya "Maksudnya?" Ia tidak paham dengan ucapan Rio.
"Paman sih matanya melotot terus ke bibi, gak liat muka Darren yang asem lihat aku pegang-pegang bibi dari tadi. Emang paman gak tau kalo Darren cemburu sama aku?"
Tian teringat ucapan Darren saat selesai rapat waktu itu. Tian memang kurang memperhatikan ucapannya karena muak jika bertemu dengannya. Sebenarnya ia ingin sekali memecat Darren, tapi takut Shima berfikir ia tidak profesional dengan mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan.
"Paman memang hebat sih kalau masalah bisnis, tapi kalau urusan perempuan nol besar" Rio kembali meledek pamannya.
"Hei, kalian berdua, mau sampai kapan bermain-main? ini sudah mau jam makan siang, aku lapar" Potong Shima.
"Kita makan di kafe dekat kantor saja ya, satu jam setelahnya aku ada rapat"
__ADS_1
"Kalian makan saja, aku mau kembali ke studio" Ucap Rio seraya bergegas berlari meninggalkan Tian dan Shima didalam ruangan.
Tian dan Shima berjalan keluar ruangan dan menunggu didepan lift khusus untuk Tian. setelah sampai di basemen, keduanya naik mobil Tian menuju kafe terdekat dengan kantor.
Tian menggenggam erat tangan Shima. mereka memutar pandangan mencari tempat duduk yang kosong di kafe. Mata Shima tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk sendirian di meja paling ujung.
"Kita pindah tempat aja yuk" Ajak Shima.
"Kenapa?"
"Ada Lisa. Dia pasti janjian sama Darren"
"Justru itu, ayo kita makan disini" Ide nakal Tian muncul. Berlarian sebentar dengan keponakan nya membuatnya ketularan bertingkah konyol.
Tian memilih duduk berjarak dua meja dari meja Lisa. Lisa sudah memandangnya sejak tadi dengan pandangan sinis. Ia segera mengirim pesan pada Darren bahwa ia bertemu Shima di kafe. Ia yakin, Darren yang awalnya tak ingin menemuinya pasti segera datang.
"Hai Lisa, sedang menunggu Darren?" Jawab Shima.
"Iya, kami janjian makan siang bersama" Lisa sengaja mengelus-elus perut buncitnya didepan Shima.
"Perutmu sudah membesar, sudah berapa bulan?" Tanya Shima.
"lima bulan. Kamu kapan nyusul?"
__ADS_1
"Secepatnya!" Jawab Tian gusar mendengar obrolan kedua wanita didepannya itu. Niatnya mengajak Shima makan adalah untuk memamerkan kemesraan didepan Lisa dan Darren, tapi Shima malah mengobrol hal tidak penting bersama Lisa.
"Sayang, mau makan apa?" Tanya Tian
" Stik aja sayang sama mojito ya" Jawab Shima.
Darren tampak berlari menghampiri Lisa yang masih berdiri di meja Shima.
"Sayang, kamu udah Dateng" Lisa bergelayut manja pada Darren.
"Iya, mana meja kita?" tanya Darren.
"Itu" Lisa menunjuk sebuah meja yang tidak jauh dari meja Tian.
"Ya udah, kita makan yuk!" Ajak Darren. hal pertama yang harus ia lakukan adalah membawa Lisa segera pergi dari meja Tian sebelum Lisa bicara melantur didepan Shima dan Tian.
Tian segera melipat kedua tangannya didepan dada. "Aku yang mau pamer kemesraan, malah mereka yang mesra duluan" Gerutunya.
Shima terkekeh mendengarnya "Siapa suruh punya niat jahat, jadi gak di ACC sama tuhan tuh" Ledek Shima.
Tian langsung cemberut mendengar omongan Shima. Padahal Tian ingin sekali mengumumkan pada publik kalau Shima adalah miliknya. Tapi Shima terus-terusan menolak dengan alasan opini publik.
"Sudah, jangan sedih lagi. Besok aku mau mengambil surat cerai lho, mau ikut?"
__ADS_1
"Sekalian kita daftar menikah ya" Mata Tian berbinar.
"Oke" Jawab Shima sambil tersenyum.