Sang Ratu

Sang Ratu
Episode 106


__ADS_3

Darren menghentikan langkahnya didepan ruang tv. Matanya mengitari setiap inci ruangan yang sepi, bahkan lampu pun belum dinyalakan. Kemana mereka pergi?


Ia menyalakan lampu dan berjalan menuju kamarnya. Sepi. Tak ada Lisa disana. Sialnya ponselnya rusak dan belum sempat ia perbaiki. Apa Lisa pulang kerumah orang tuanya? Lalu, kemana Bu Darmi?


Darren memutuskan untuk segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Pekerjaannya hari ini cukup menguras tenaganya. Ia ingin cepat beristirahat untuk memulihkan tenaganya. Besok pagi ia akan menanyakan pada Bu Darmi apa yang terjadi hari ini.


################################


Air mata Lisa kembali menetes. Sudah pukul sepuluh malam tapi Darren belum juga menghubunginya. Bu Darmi sudah terlelap di sofa. Lisa yakin ia sangat kelelahan karena seharian menjaga Lisa dirumah sakit.


Lagi, Lisa memandangi perutnya yang sudah rata. Efek obat bius masih terasa disekujur tubuhnya membuatnya sulit menggerakkan anggota tubuhnya. Ia hanya bisa menangis meratapi takdir yang Tuhan berikan padanya. Janin yang dijaganya selama enam bulan kini raib dari perutnya. Yang lebih membuatnya sedih, diperutnya kini menyisakan segores luka tanpa ada wujud bayinya. Jika saja bayi itu tidak meninggal, ia akan rela meski berkali-kali perutnya digores oleh pisau bedah. Kini luka itu hanyalah luka tanpa ada kebahagian dibalik rasa sakitnya.


Tiba-tiba ingatannya kembali ke tiga bulan sebelumnya. Saat Shima keguguran. Kini ia tahu bagaimana rasanya kehilangan anak yang ditunggu-tunggunya. Ia harus menghadapi semuanya sendiri Tanpa ada sosok suami yang selalu mensupport disampingnya. Ia pasti benar-benar menguatkan hatinya. Karena memang sakit sekali rasanya saat kita membutuhkan orang yang kita sayangi, ternyata ia tak ada disisi.


Apa ini karma yang harus diterimanya?Merasakan apa yang Shima rasakan dulu? Ah.. Lisa menepis jauh-jauh pikirannya. Ia memang kehilangan bayinya, tapi ia tidak kehilangan suaminya seperti Shima kehilangan Darren. Dan ia pun tak akan melepaskan Darren seperti Shima dulu melepaskannya.


###############################


"Sayang, belum tidur?" Tanya Shima karena melihat suaminya masih sibuk diruang kerjanya.


"Ada beberapa file yang belum aku pelajari sayang. Jika mengantuk, tidurlah terlebih dahulu" Jawabnya tanpa menoleh.


"Kamu sih, waktunya kerja malah main. Sekarang waktunya main malah kerja"


Tian menghentikan aktivitasnya begitu mendengar kata bermain. "Kita mau main apa malam-malam begini sayang?" Tian mengerjap-ngerjapkan matanya genit.

__ADS_1


"Main game yuk!"


Dahi Tian berkerut. "Main game?"


"Iya, biar gak bete. Yang kalah harus nurutin perintah yang menang"


"Apapun itu?"


"Iya. Asal masuk akal ya"


"Masuk akal menurutku"


"Jangan yang aneh-aneh ya!"


"Tenang, Kamu juga bakalan seneng deh pokoknya"


"Apa? Ludo? Gamenya yang seruan sedikit dong sayang. Masa aku disuruh main Ludo sih"


"Ya udah, super Mario aja"


"Yang kekinian sedikit kenapa sayang, super Mario itu game jaman kapan?"


"Kamu pilih aja, mau Ludo atau super Mario? Selain dua game itu, aku gak bisa mainnya."


"Okelah. Ayo kita main super Mario dulu. Janji ya yang kalah harus nurutin yang menang"

__ADS_1


"Iya sayang"


Shima dan Tian langsung mendownload permainan super Mario pada ponselnya. Permainan hari ini harus Tian yang menangkan. Waktu permainan sudah ditentukan. Dalam waktu satu jam, berapa level yang berhasil diraih. Yang paling tinggi levelnya yang menjadi pemenangnya.


Satu jam berlalu. Shima berhenti dilevel 24 sedangkan Tian berhenti dilevel 26. Senyum lebarnya sudah menghiasi wajah tampannya. Sedang Shima menyiapkan dirinya untuk menerima permintaan dari Tian.


"Oke, karena kamu yang menang. Kamu mau apa sayang?" Tanya Shima.


"Aku ingin bulan depan kita buat pengumuman tentang pernikahan kita"


"Yah.. jangan yang itu dong sayang. Yang lain aja ya"


"Tidak bisa! Kamu sudah janji tadi. Rio sudah menandatangani kontrak kerja paten dengan hexindo. Itu artinya kamu model perusahaanku"


"Aku bukannya tidak mau sayang, aku takut nama baikmu tercemar gara-gara aku"


"Siapa yang berani berurusan dengan tuan Kim?"


"Mungkin didepanmu mereka tidak berani, tapi dibelakangmu, mereka pasti membicarakanmu"


"Biarlah mereka berbicara sesuka hati mereka. Yang penting aku tidak mendengarnya"


"Tapi aku takut"


"Kita hadapi berdua ya"

__ADS_1


Shima mengangguk mengiyakan. Babak baru dalam hidupnya dimulai bulan depan. Ia akan menghadapinya bersama tian.


__ADS_2