
Shima berkali-kali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia masih berdiri sambil mondar-mandir didepan pintu masuk restoran Perancis tempat ia dan Darren berjanji untuk bertemu. Dipandanginya gaun hitam panjang dengan tali di lehernya. Tian sangat pandai memilihkan gaun untuknya. Meski panjang dan tertutup tapi tidak menghilangkan kesan seksi untuk yang memakainya.
Akhirnya Shima memberanikan diri masuk ke dalam restoran. Berbekal satu buah foto hasil jepretan kamera ponselnya, ia akan menemui Darren. Terserah apa anggapannya nanti, yang jelas Shima tak ingin di Anggap ingkar janji.
Darren sudah duduk di meja tempat ia dan Shima pernah makan dulu. Matanya tampak bergeming memandangi kelap-kelip lampu kota dari arah jendela. Dulu, Shima sangat terkesima saat Darren mengajaknya makan disana. Baginya, Darren tak hanya romantis tapi juga sangat perhatian. Tapi kini, semua itu bukan apa-apa bagi Shima. Persetan dengan indahnya pemandangan malam itu, baginya melepaskan diri dari Darren adalah hal yang terpenting.
"Sudah lama?" Shima menarik kursi lalu mendudukinya. Tampak Darren menoleh karena kedatangan Shima.
"Sudah" Jawabnya singkat. Matanya tak berhenti memandang wanita bergaun Hitam itu. Betapa cantiknya ia malam ini. Andai saja Shima masih istrinya yang dulu, Darren tak akan melepaskan pelukannya meski hanya sebentar. Ia hanya ingin menghabiskan malam dengan mencurahkan semua kasih sayangnya pada Shima. Sayang semua hanya angan-angan belaka.
" Mana calon suamimu? " Tanyanya.
"Dinas keluar kota"
Darren tertawa ringan "Kamu berani menemuiku tanpa calon suamimu? apa kamu tahu apa artinya itu? artinya kamu tidak bisa memenuhi persyaratan yang ku minta" Ia mencibir. Yakin kalau Shima hanya menggertaknya dengan mengatakan ia sudah memiliki calon suami.
"Apa tidak membawa orangnya itu berarti hubungannya palsu? aku menemuimu karena tak ingin dianggap berbohong olehmu"
"Apa kau pikir aku akan percaya tanpa melihat buktinya?"
"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Aku hanya mau kau menandatangani surat gugatan cerai itu"
"Tidak akan ku tanda tangani sebelum aku tahu siapa calon pengganti ku. Dengar Shima, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak salah memilih pendamping yang baru. Apa kau tahu wanita yang bercerai dari suaminya selalu dianggap negatif orang-orang"
"Tergantung bercerai karena apa dulu. Aku bercerai kan karena suamiku selingkuh"
__ADS_1
"Pernahkah terpikir olehmu kenapa suami bisa berselingkuh?"
"Tidak! Buatku jika sudah memutuskan berumah tangga itu artinya sudah berkomitmen untuk setia. Dan, banyak sekali laki-laki yang mengkambing hitamkan istrinya untuk melegalkan alasan ia berselingkuh. alasan Klise. Dia yang salah lalu menyalahkan orang lain. Memang dasar laki-laki tidak bisa bersyukur!"
"Shima, aku masih sangat mencintaimu. Ayo kita mulai dari awal lagi. Aku tak akan mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kali. Kumohon"
Shima mengeluarkan ponselnya dan membuka menu galeri. Diberikannya ponsel itu pada Darren "Itu calon suamiku. Aku mencintainya sekarang. Maaf, lebih baik kamu memperbaiki hubunganmu dengan Lisa. Kasihan bayi yang ada dikandungannya"
Darren memandang lekat foto pria yang memeluk pundak Shima. Tak lama ia tergelak bahkan tertawa terbahak-bahak melihat foto itu. "Kemampuan mengedit mu sungguh sempurna, Shima"
Shima mengerutkan keningnya. "itu foto asli, Darren. Aku tidak mengeditnya"
"Apa kau tahu siapa pria ini?" Tanya Darren masih dengan tawanya.
"Dia Tian pacar ku"
"Dia supervisor di sebuah butik milik nyonya Kim"
"Apa? Supervisor? " Tawa Darren makin pecah, bahkan ia sampai memukul-mukul meja saking lucunya mendengar bualan Shima.
"Apa yang lucu?" Maki Shima kesal melihat Darren yang sedari tadi menertawakannya.
"Kalau mau bohong, yang pinter sedikit Shima"
"Aku tidak berbohong Darren, Dia Tian calon suamiku"
__ADS_1
"Kamu memang wanita yang sangat hebat Shima, Sampai-sampai tuan Kim mau menjadi suamimu"
Shima terdiam. Apa? Tuan Kim? Ia belum bisa mencerna ucapan Darren yang masih diiringi dengan tawa meledeknya. Tiba-tiba seseorang memegang tangan Shima dengan lembut. Shima segera menoleh ke arah pria yang berdiri disampingnya itu. Tawa Darren seketika terhenti bahkan ia menelan ludahnya bulat-bulat.
" Tian" Lirihnya lalu berdiri memeluk sosok jangkung itu.
"Maaf aku terlambat" Ucapnya seraya mencium dahi Shima.
"Bukannya kamu pergi keluar kota?"
"Iya, ku tunda keberangkatanku. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena pak yohan menungguku dimobil. Aku menyuruh Sam menjadi supir pribadimu selama aku dinas diluar kota"
Shima hanya mengangguk. " Perkenalan, ini mantan suamiku" Shima menunjuk pada lelaki yang berdiri dengan tangan bergetar.
Tian mengulurkan tangannya " Halo pak Darren, kita bertemu lagi"
Darren menjabat tangan Tian ragu "Selamat malam tuan Kim, maaf kita harus bertemu dengan cara seperti ini. Saya tidak tahu kalau calon suami Shima adalah anda, Tuan Kim. Saya sungguh minta maaf"
"Sekarang tanda tangani lah surat gugatan cerai itu agar aku bisa secepatnya menikah dengan Shima"
Darren mematung. Sungguh, ia tak ingin melepaskan Shima. Tapi pria didepannya itu begitu menakutkan dan sulit untuk ditentang. Persyaratan yang ia ajukan justru membuatnya mau tak mau harus melepaskan Shima. Siapa yang mau berurusan dengan tuan Kim?
"Baik tuan, akan segera saya tanda tangani"Jawab Darren lesu.
"Aku pergi dulu. Tunggu aku sampai aku pulang ya. Jangan lupa kalau ada apa-apa kabari aku" Tian kembali mencium kening Shima yang sejak tadi berdiri kaku. ia sama sekali tak membalas ucapan Tian. Bahkan saat Tian pergipun ia masih berdiri tak bergerak dari tempatnya.
__ADS_1
"Tuhan! Mati aku!"